cawat fakir
aku terkapar di pinggiran. menjaga malam
jalan yang lantang, lampu-lampu samin
seperti pemabuk tanpa arak. gantang
gantang kering. retakan-retakan
kepala adalah badai prasangka
aku terhasut suara. bunyi-bunyi lirih
hasrat terus tersesat; misalkan langit
tak meminjamkan dahan kering pada daun
mungkin ranting-rantingku berbuah lebih samun
bunga-bunga segarkan udara dan cuaca cerah
adalah katarak yang tak lengkap. seperti babi
kau cuma satu arah
kau menggetar, menari tiris di atas basah
angin pasah menggiringmu dalam langkah
meremang. seperti surat-surat kawat di sakumu
berharap tuntas sampai ke tunas. seperti rindu
yang kejam menahan jejakmu. aku menggigil
di puncak-puncak kota
menikmati bayanganku pecah di jalan-jalan
dengan tanda-tanda. luka yang kelak menikammu
keangkuhan yang lebih perih dari tubuh tersayat
tiga. tak mau mengantarmu lindap di udara lepas
mata juga yang nanti membuka lagi jalan-jalan
lukamu
biarkan kaki-kaki langit menelanmu, mataku habis
di situ. cawat fakir memperpanjang asap jamban
kau melaju. lingsut di antara suku-suku gunung
aku menunggui alang-alang di kebun depan rumah
yang dikerat sayatan-sayatan tanya
030603
Tidak ada komentar:
Komentar baru tidak diizinkan.