lolonganku mengertap pagi dan malam buta
tak satu pun bisa meneduhkan tubuh ringkih
kaki pincang dan kematianku
tak ada keranda dan payung hitam
tapi mawar hitam lekat di dadaku
pecah sejak corsa hitam
dan tongkat arah cahaya jatuh
ke lubang kematian
tapi kematian selalu berkhianat
persis tuhan-tuhan keculasan
segala dewa dibunuh
berganti tubuh
menjadi tuhan
anjing pun bisa
menjelma junjungan
Kamis, Mei 12, 2005
hilang satu puisiku
kucari-cari di kolong langit
kupilin malam jadi makam
tapi tak sebutir pun netes
dari ketiak bau legitmu
cuma bulu
tengkuk meremang
kau tak juga terang
sang gairahku hilang
kau makin memuakkan
di bumi pengutuk kemunafikkan
kupahami makna bulu di balik tubuhmu
tiap dayaku kautangkis dengan manis
rasanya aku perlu langit baru
yang lama sudah tak berawan lagi
seperti seekor isteri yang berlari
dari suami yang terbukti impotensi
kubongkar surga di telapak kakimu
biar darah makin ngalir, dan simbokmu
diancuk jaran tanpa kendhat enak tenan
kupilin malam jadi makam
tapi tak sebutir pun netes
dari ketiak bau legitmu
cuma bulu
tengkuk meremang
kau tak juga terang
sang gairahku hilang
kau makin memuakkan
di bumi pengutuk kemunafikkan
kupahami makna bulu di balik tubuhmu
tiap dayaku kautangkis dengan manis
rasanya aku perlu langit baru
yang lama sudah tak berawan lagi
seperti seekor isteri yang berlari
dari suami yang terbukti impotensi
kubongkar surga di telapak kakimu
biar darah makin ngalir, dan simbokmu
diancuk jaran tanpa kendhat enak tenan
Langganan:
Postingan (Atom)