Atau Imam Luar Biasa Yang Guru Besar
Menanggung Salib Suci Kristus tak hanya berat secara pribadi, namun juga berat secara sosial. Setidaknya begitulah yang dirasakan Prof. Dr. J. Glinka SVD. Selama lebih dari 70 tahun perjalanan hidupnya dipenuhi dengan karunia iman dan pergulatan dengan soal-soal kemanusiaan. Karya-karyanya tak hanya menyentuh altar dan gereja, melainkan juga meramaikan dunia ilmiah. Bahkan sentuhan tangan Imam Katholik dari ordo SVD ini banyak menghangatkan hati dan menyejukkan pikiran orang-orang di sekitarnya, baik mereka yang seiman maupun bukan.
Dan demi melihat keteguhannya memperjuangkan soal-soal kemanusiaan, maka 5 Oktober 2002 nanti bakal diselenggarakan seminar oleh para Doktor yang telah dibesarkannya untuk merayakan Hari Ulang Tahun ke-70 Romo berjanggut lebat ini. Bagaimanakah kisahnya sampai bisa menjadi Guru Besar Luar Biasa di Universitas Airlangga. Dalam pondokannya di dalam asrama SVD di Jl. Dr. Soetomo 9 Surabaya, sosok gendut yang biasa disapa wujek (Polandia = Om, Paman; Red.) ini menuturkan kisah perjalanan karya-karyanya.
Bisakah Romo menceritakan sedikit mengenai ihwal diri Romo sendiri?
Ah...sebenarnya anda bisa membaca ini (menyerahkan lembar proposal seminar tersebut di atas). Di situ anda bisa temui orang bercerita bohong (baca mengelu-elukan, Red. - sambil tersenyum simpul) mengenai saya. Kalau menurut cerita itu, seharusnya sekarang saya sudah menerima Nobel...hahaha. Tapi begini, kita bisa mulai dari sini (mimiknya serius dan lucu jadi satu).
Lepas sekolah menengah tahun 1957 saya masuk seminari dan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi di Polandia. Tahun 1959 saya lulus dari Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi saya melanjutkan kuliah di universitas dengan penjurusan biologi manusia atau di sini orang sebut antropolgi ragawi. Tahun 1964 saya selesaikan kuliah dengan gelar Master, kemudian menjadi guru biologi dan kimia. Kemudian tahun 1964 di Polandia datang seorang pastor, yakni Romo Josef Diaz Viera yang lama sebelumnya bertugas di Indonesia. Beliau meminta sejumlah pastor untuk bertugas di Indonesia. Waktu itu saya langsung melamar. Waktu itu sebenarnya saya tidak boleh berangkat karena tenaga saya masih dibutuhkan di sana, selain situasi Indonesia yang rawan konflik.
Kenapa Romo begitu berminat bertugas ke Indonesia?
Saya sendiri memang punya sentimen (perasaan tertentu yang menyenangkan, red.) terhadap Indonesia. Sejak umur 6 tahun saya biasa mendengar kabar tentang Indonesia dari seorang sepupu dari bapak saya yang telah menjadi misionaris di Flores. Dari sepupu itu saya sering mendengar cerita-cerita indah alam dan lingkungan sosial di sini. Dan jadilah saya berangkat ke Indonesia, mendarat di Flores tahun 1965 untuk mengikuti
kursus bahasa.
Apakah Romo mengalami kesulitan untuk kursus bahasa itu?
Tidak, sebelumnya saya sudah biasa mempelajari bermacam bahasa. Bahasa Latin wajib kami kuasai semasa kuliah. Bahasa Jerman dekat dengan orang Polandia, karena kami pernah dijajah oleh Jerman. Bahasa Inggris tentu saja harus dikuasai oleh mereka yang harus berangkat ke luar negeri. Bahasa Polandia sendiri mempunyai dialek yang paling banyak dari bahasa-bahasa besar Eropa lainnya. Banyak dialek kami yang sulit dicari padanannya dalam bahasa lain. Jadi, belajar Bahasa Indonesia tidak ada masalah buat saya.
Setelah itu Romo bertugas di Flores?
Ya. Bulan Maret 1966 saya mulai mengajar filsafat alam hidup dan antropologi yang lebih cenderung pada antropologi budaya di STFT Katolik di Flores. Sekitar Desember 1966 saya mengerjakan penelitian di Pulau Palue Nusa Tenggara Timur. Hasil penelitian di sana saya jadikan bahan untuk disertasi berjudul Asal Mula Orang Palue Ditinjau Dari Segi Morfologi-Komparatif (perbandingan bentuk badan manusia, red). Akhir tahun 1968 saya pergi ke Polandia untuk mengikuti kuliah Doktorat. Pada 30 Juni 1969 saya lulus ujian Doktor. Kembali ke Indonesia agak tertunda yakni sekitar 1971 karena sakit dan musti menunggu visa baru.
Yang menarik, yang beri visa pada saya waktu itu adalah adiknya Pak Tandyo (Prof. Soetandyo Wignyosoebroto MA, Guru Besar FISIP Unair, Red) yang menjadi konsulat di sana. Dia tanya pada saya 'Mau ke Indonesia?' saya jawab, 'Ya.' Dia tanya lagi, kalau ke Indonesia lewat Jawa. Ya, tentu saja toh. 'Saya punya kakak di Surabaya, di Unair', katanya. Lalu dia sebut nama Pak Tandyo, tapi waktu itu saya belum kenal Pak Tandyo. Waktu itu saya lebih banyak kenal orang-orang kedokteran (Fakultas Kedokteran Unair, Red).
Kemudian tahun 1974 - 1975 saya dapat stipendium, beasiswa, dari Humboldt Fundation untuk membuat studi di sana. Tahun berikutnya kembali ke Flores, setahun untuk urus visa. Hasil studi itu kemudian menjadi buku, ini dia (mengangsurkan sebuah buku tebal berbahasa Jerman; Gestalt und Herkunft: Beitrag Zur antrhopologischen Gliederung Indonesiens, terbitan Studia Instituti Anthropos, 1978).
Buku itulah yang kemudian hari mengantarkannya menjadi Guru Besar Luar Biasa bidang Antropologi Ragawi di FISIP Unair. "Padahal, kalau di Polandia orang masih harus mengikuti ujian dulu sebelum menjadi guru besar," ungkap Romo Glinka.
Tahun berapa Romo mulai menjadi Guru Besar Luar Biasa ini?
Saya diminta sekitar 1984. Setahun kemudian baru saya pindah dari Flores ke universitas (Airlangga, Red). Para pembesar bilang membantu (jurusan, red) antropologi yang masih baru itu untuk sementara waktu.
Sebenarnya waktu itu saya sudah ditawari menjadi Guru Besar di sebuah universitas di Jerman, tapi karena saya lebih cinta Indonesia...hahaha.
Bagaimana kesan Romo selama menjadi Guru Besar Luar Biasa ini?
Wah, anda ini...Kesan baiknya...saya senang bisa mencerdaskan bangsa (maksudnya generasi, Red) muda. Tapi kadang ada juga yang menjengkelkan dan mengecewakan. Banyak, banyak hal tak perlu kita sebut satu-satu. Dan sebagai balas jasa, sekitar 1995 saya akan diusir dari universitas (Airlangga, Sus.). Karena kerja orang-orang dari kelompok tertentu, heran...bahwa kampus jadi tempat orang berpolitik, hei...Waktu itu saya langsung ditawari oleh Ubaya, UI dan sebuah universitas di Polandia untuk menjadi Guru Besar di sana. Saya menyesal bahwa saya tidak segera mengiyakan saja dulu untuk segera keluar dari universitas. Kalau sekarang saya tinggal tunggu saja, kalau mereka bilang saya harus keluar maka saya akan keluar saat itu juga.
Kenapa baru sekarang Romo siap keluar?
Dulu saya belum siapkan orang untuk menggantikan saya. Sekarang sudah ada 3 orang (Doktor, Red) yang siap menggantikan saya. Mita, Lucy dan Totok (Toetik Koesbardiati, Red) sudah selesai kuliah S3 semua dengan kekhususan antropologi ragawi. Ini sesuai perkiraan saya sekitar awal 1990-an. Rektor waktu itu, Sudarso, saya ultimatum atau saya mendapat asisten atau saya keluar. Saya juga bilang, sedikitnya perlu 10 tahun mempersiapkan orang untuk menggantikan saya. Persis toh, sepuluh tahun kemudian sekarang ini mereka sudah mendapat gelar doktorat.
Mita, Lucy, dan Totok yang dimaksudkan oleh Romo Glinka sebenarnya para mahasiswa S1 di bawah bimbingan beliau sebelumnya. Kemudian mereka masing-masing berangkat ke luar negeri, untuk melanjutkan jenjang pendidikannya atas promosi Romo Glinka untuk mendapatkan beasiswa baik dari Universitas Airlangga maupun dari pihak luar. Mita yang sekarang menjadi
Dosen di Jurusan Antropologi FISIP Unair, melanjutkan pendidikannya di
Amerika untuk S2 dan selanjutnya ke Universitas Adellaide - Australia untuk menyelesaikan pendidikan S3-nya. Lucy atau Dra. Lucy Dyah Hendrawati, M.Si melanjutkan studi S2 di Universitas Gajah Mada. Sedang Totok yang bernama lengkap Dr. Toetik Koesbardiati mendapatkan gelar Master dan Doktornya di Hamburg, Jerman. Romo Glinka semula berpikir bahwa Totok bakal melanjutkan kuliah sampai mendapatkan gelar Master saja. Di luar dugaan Totok justru meneruskannya sampai S3.
Ketiga orang murid Romo Glinka itu juga yang sedianya akan menjadi panitia penyelenggara perhelatan bertajuk Seminar Sehari Memperingati HUT ke-70 Prof. Dr. Josef Glinka, SVD tersebut. Barangkali ini merupakan bentuk penghargaan yang diberikan murid kepada seorang gurunya. Bagi mereka Romo Glinka adalah sosok misionaris Katolik yang tegar dan ilmuwan yang tidak berkacamata kuda. Romo Glinka menurut mereka memiliki wawasan cukup luas di luar bidang keilmuannya.
Tak hanya itu, Romo Glinka juga telah banyak membantu sejumlah besar mahasiswa dan umat Katolik yang tengah menghadapi kesulitan. Beliau tidak segan-segan mengeluarkan bantuan yang bisa jauh lebih besar dari gajinya sebagai Guru Besar Luar Biasa di Universitas Airlangga.
Apakah ada universitas lain yang sudah menawari Romo untuk menjadi Guru Besar di sana?
Saat ini saya sudah mulai tidak berpikir untuk mengajar di tempat lain. Tapi, ada kejadian menarik tahun lalu. Waktu itu pihak UWM membujuk-bujuk saya supaya menjadi Rektor di universitasnya. Beruntung (entah apa maksud beliau tepatnya, Sus.) saya WNA...hahaha. (Lagi-lagi senyum lebar dan mata kelinci beliau datang menyejukkan pikiran.) Jadi, tidak bisa jadi rektor di sini, toh.
Bagamana mengenai fasilitas di universitas (Airlangga, Sus.)?
Hahaha....anda ada-ada saja. Itu pertanyaan bagus. Pater Pikorh punya pendapat bagus soal kedudukan dan gaji saya. Katanya, 'kamu memang benar-benar seorang Guru Besar Luar Biasa.' (Romo Glinka merentangkan tangannya lebar-lebar.) Untuk seorang Guru Besar Luar Biasa mereka beri saya Rp. 420 Ribu. Bisa buat apa di Surabaya dengan gaji sebesar itu? Hahaha...Tapi sudahlah. Bangsa kita memang masih susah.
Beruntung bahwa banyak kolega Romo Glinka yang sangat memperhatikan keadaan beliau. Namun beliau sendiri tidak pernah mengharapkan bantuan dari orang lain seperti itu. Selain mengajar di FISIP Unair, Romo Glinka juga mengajar secara luar biasa di Fakultas Kedokteran Gigi dan Program Pasca Sarjana di Universitas yang sama. Belum lagi, beliau pun memiliki satu kemampuan untuk mendeteksi arus air bawah tanah secara ilmiah dan sering dimintai orang-orang yang mengenalnya untuk mendeteksi letak arus air bawah tanah. Romo Glinka juga pernah menulis dalam sebuah media mengenai medan geopatis dan pengaruh serta bentuk-bentuknya.
Salah satu medan geopatis yang bisa mengganggu, bahkan merusak, kesehatan adalah arus air bawah tanah. Romo Glinka juga tahu benar cara mengatasi masalah ini.
Benar seperti kata ketiga muridnya di atas bahwa Romo Glinka merupakan sosok Imam dan ilmuwan yang telah banyak memberikan kontribusi besar dalam hal diversitas pengembangan keilmuan, dan tetap tegar dalam memenuhi panggilan hidupnya hingga usia ke-70 ini. Benar juga bahwa Romo Glinka sering dibuat kesal oleh tingkah banyak pihak di negeri ini, termasuk sebagian anak bimbingan rohaninya.huehuehue
Sabtu, September 20, 2003
Minggu, September 14, 2003
Serupa Sunyi
kesunyian adalah surga terbelah
di kelangkang ibu, mengucurkan deras
puting susu dan lendir menggumpal
dari kerongkong gasangku
serupa ponten paling akhir
dimana aku hanya berhadapan bayangan
busukku, menghitung tiap kepeng wang
di kantung gombalku
kau boleh lempari aku
batu, belati atau tai
tapi jangan puisi softex
atau sajak beludak
sebab di situ tanganmu mewujud
gelembung-gelembung kosong
yang selalu melolong – menceraikan
telingaku dari lampu-lampu
jalan – dan kakimu tak tercerna
perut dengan lembut
kecuali membuat sembelit
tanpa jeda
sirami dengan segantang arak
paling tua atau anggur
tapi aku pilih air sumur
sebab ketulusannya melebihi
kisah para rasul yang bisa
kau tadwijkan
kesunyian serupa ponten
dan malaikat-malaikat kehilangan sayap
sejak aku terpaku oleh cintamu
pada perut dunia
dan kelangkang
bisu
052003
Pola-Pola Kebetulan
Juga pagi itu dia bangun dengan rasa yang sama, bahwa dia akan bertemu dengan bekas isterinya di salah satu tikungan kota ini. Entah, tikungan mana...(sebuah kutipan mentah dari mula ziarah iwan simatupang).
Begitu pun ketika dia pergi ke sebuah warung suram bernama cybersastra, di situ dia berharap bakal menemukan bekas isterinya yang telah mayat itu teronggok di salah satu tikungannya.
Sebuah kebetulan jika kemudian dia menuliskan sebuah komentar mengenai karya dari salah seorang rekan penyair kita yang terhormat. Tanpa mengurangi rasa hormat pada beliau di sini kita berniat untuk tidak menuliskan nama penyair terhormat kita tersebut. Secara kebetulan tokoh kita menuliskan komentarnya dalam bentuk seperti berikut ini:
“gebalau dingin suara-suara samun itu menggigir di tubir-tubir ruhku lewat pecahan cahaya yang leleh dari kelamin para penyamun. dikangkangi lelaki yang menjelma bapak di tikungan selindap pertigaan itu aku hanya bisa mengerakkan korek merah jambu dalam permainan farji gaun pengantin ibu. di langit yang membius dengan seribu rimbun rambut-rambut lembut dari telapak nganga aku dimuntahkan oleh anjing berdarah pisau lipat berlapis mantra penjinak zakar bergelibatan antara tiang-tiang bendera. aku lumer serupa setan-setan mungil berloncatan dalam hasrat mengatasi ketakutan habsi, menanting gumpalan kapas bersarung sutra piningit. antrian kucing pasar seperti ingin merayakan kelahiranku dengan onani bersama teriring madah kelana syair-syair berdarah dan sunatan masal. tak ada tuhan yang bersamadi melebihi lendir dan kilatan-kilatan sisikku. bulan pucat, menyimpan cemburu yang lurus pada surat-surat kawat. padahal selalu ada hati untuk pemesan jantung dalam pesta tempik setan-setan berjubah keniscayaan. semoga jalan-jalan tak lagi berlari saat tanganku turun dan menjejalkan pecahan botol kosong di gelambir susu ibu dan terkeratlah kertak tulang selangkamu oleh bias semburan nafasku yang lembur rangkai anusmu seperti lukisan-lukisan telinga patah berbalut kedunguan cantik dari negeri kincir angin. meski angin tak akan pernah lewat untuk sekedar melepas pemberangkatanmu menuju tonggak-tonggak paloma kita yang nyeringai angkuh. mari masuk ke rangka rengat dan karatku, maka kau akan temui wujudmu yang paling kasim
Cukup lama komentar tokoh kita, lelaki yang selalu mencari mayat isterinya ini, tidak mendapatkan tanggapan. Kemudian tanggapan itu justru datang dari essays kita dengan cara mempersandingkan puisi sang panyair dengan komentar tokoh kita; satu begini dan satu begitu. Dalam tanggapan itu seolah-olah komentar tokoh kita telah hadir sebagai puisi yang lain, alih-alih sebagai kritik. Pada gilirannya, seorang lain dengan cara lain membubuhkan opini dalam bentuk larik-larik puisi, entah apakah seorang yang ini pun menujukan tulisannya sebagai puisi sendirinya atau sebagai kritik tak pelak lagi, barisan komentar tersebut di atas segera mengundang masuknya seorang lain yang mengaku sebagai jago silat (lidah). Layaknya olahragawan, jago silat kita pun bergegap gempita melmparkan segala kegundahannya pada bentuk-bentuk komentar yang menurutnya bersifat pamer; satu lagi anak Dynosian, tulisnya.
Kali pertama membaca tulisan pendekar ini, tokoh kita pun mengernyitkan dahi. Apa arti Dynosian? Pada siapa kata itu ditebas-sabetkan oleh pendekar kita? Dengan kernyit dahinya tokoh kita pun kemudian melihat ruang-minum-bersama lain yang kebetulan dipajani puisi tokoh kita yang serupa ini;
Serupa Sunyi
kesunyian adalah surga terbelah
di kelangkang ibu, mengucurkan deras
puting susu dan lendir menggumpal
dari kerongkong gasangku
serupa ponten paling akhir
dimana aku hanya berhadapan bayangan
busukku, menghitung tiap kepeng wang
di kantung gombalku
kau boleh lempari aku
batu, belati atau tai
tapi jangan puisi softex
atau sajak beludak
sebab di situ tanganmu mewujud
gelembung-gelembung kosong
yang selalu melolong menceraikan
telingaku dari lampu-lampu
jalan dan kakimu tak tercerna
perut dengan lembut
kecuali membuat sembelit
tanpa jeda
sirami dengan segantang arak
paling tua atau anggur
tapi aku pilih air sumur
sebab ketulusannya melebihi
kisah para rasul yang bisa
kau tadwijkan
kesunyian serupa ponten
dan malaikat-malaikat kehilangan sayap
sejak aku terpaku oleh cintamu
pada perut dunia
dan kelangkang
bisu
052003
Dalam ruang-minum-bersama di bawah pajanan puisi ini pun muncul tulisan cukup panjang lebar yang menyebutkan penandaan sifat absurd dalam puisi tersebut di atas dengan penjelasan bahwa hal semacam itu adalah pikiran kekanakan. Tokoh kita mengernyitkan dahi, sekali lagi, atas usaha keras pendekar kita ini. Tokoh kita bingung lagi, bahwa ternyata puisinya mengandung ciri absurd. Pencari mayat isterinya itu pun menggali lebih dalam tentang maksud dari yang absurd ini.
Menggelikan, bahwa kemudian suasana berkembang sangat cepat dan panas. Lebih mirip olok-olok jaman tokoh kita kanak-kanak. Ironisnya, dalam salah satu fase dari rally tanya-jawab ini muncul juga sebutan tokohkitakanak-kanak dan tokohkitabayi. Bahkan, dalam ruang-minum-bersama lain yang merupakan wilayah kritik untuk puisi seorang jawara lain (yang baru masuk mendaftarkan diri beberapa menit di tengah pesta selamatan tanya-jawab tokoh kita dengan pendekar kita, yang juga memiliki gaya salam jurus pembukaan dan akhiran yang mirip) pun muncul penyebutan tokohkitaisteri. Dalam ruang-minum-bersama tempat puisi jawara kita pun terdapat semacam perkenalan antara pendekar dan jawara. Menarik, menarik.
Pun menarik ketika pendekar kita, setelah beberapa saat menghilang tanpa permisi dari arena pertanya-jawaban itu, muncul lagi dan bertanya-tanya heran(?) tentang tradisi penulisan di buku tamu warung kita. Pada saat tokoh kita menyaksikan tanda-tanda pendekar kita di buku tamu sudah tidak tampak lagi kedua tokoh dunia persilatan itu, baik pendekar maupun jawara. Padahal, jauh sebelumnya tokoh kita telah dengan menebahdada mengundang pendekar itu bersilaturahmi di buku tamu. Betapa elok lenggang kangkungnya seorang pendekar yang merasa baru bertandang kemudian telah secara lihai berjumpalitan di ruang-minum-bersama tanpa lebih dulu (setidaknya) menengok buku tamu. Begitukah nampaknya kedewasaan (antitesa dari ciri absurd yang kekanakan seperti tulisnya) yang ingin dipertontonkan oleh pendekar kita di hadapan sidang, tokoh kita masih bekernyit dahi.
Dalam kernyit dahinya yang nujum tokoh kita mengambil sikap diam untuk sementara. Apalagi, penyair kehormatan kita yang semula diam dari ruang-minum-bersama (symposium) turut suka mengunci ruang tersebut dengan rasa keterusikannya pada model kritik tokoh kita dan pemilik opini pola larik.
Pada hawa mengawang-awang dilambung rasa geli ini, secara kebetulan, tokoh kita menjilati dengan leler matanya yang buta sebuah buku ganjil bertajuk catatanpinggir alias caping gugun atawa gm. Pada salah satu lembaran daun (ron) talnya, tersebutlah kisah mengenai pameran. Dalam larik-larik kalamnya terbetik isyarat bahwa pameran berasal kata pamer yang bersumber dari bahasa jawa. Pamer dalam khasanah bahasa jawa sendiri telah berabad-abad dianggap sebagai tindakan yang kurang tata. Namun gugun pun mengimbuhkan, pada gilirannya, bahwa pamer. Dalam arti tertentu, kita tak tinggi hati. Kita tak merasa bahwa kitalah yang mereka butuhkan. Tokoh kita kemudian mengingat pada telaah pendekar itu bahwa seolah-olah telah terjadi pameran di ruang-minum-bersama puisi penyair kehormatan kita. Tokoh kita eling (ingat; jawa) pada sebaris kalimat, satu lagi anak Dynosian (belakangan seorang kritikus handal dari kawasan gapus menjawab; itu seperti nama tokoh dalam mitologi yunani...oooo, yunani.)
Dalam kisah penjilatan caping yang kebetulan itu pun tokoh kita menjumpai halaman sehabis peperangan. Bagian ini mengingatkan tokoh kita pada rally pertanya-jawaban dengan sang pendekar yang dirasanya begitu menekan dan menyiksa, bukan karena dia merasa kalah atau dikalahkan. Namun kiranya menarik kita simak dulu kutipan mentah-terpenggal-penggal dari halaman sehabis perang itu, silakan;
Apakah arti kemenangan? Setelah kurawa dikalahkan, medan perang Kuru tinggal lapangan penuh bangkai. Bau busuk terbentang. Rasa cemar terapung ke kaki langit. Ribuan anjing ajak melolong, mengaum, mengais. Selebihnya Cuma erang sekarat para prajurit, di antara sisa kereta dan senjata yang patah.
Warna di sana hanya darah. Anyir. Tak akan ada lagi perbuatan kepahlawanan.
Si pemenang, kelima bersaudara Pandawa, telah merebut istana yang kini sepi. Mereka pun membisu capek memandangi balairung yang lengang. Apa, setelah ini? Akan apalagi?
Satu soal selesai, soal lain timbul.
Barangkali karena itulah Bhagawatgita, dialog antara Kresna dan Arjuna di ambang pertemuan besar di Kuru itu, menyebut tyaga. Yakni; sikap melepaskan diri dari kehendak memperoleh buah dari kerja. Siap yang menghendaki buah akan cepat kecewa. Buah itu akan busuk. Tapi sikap yang menjalankan kerja seraya tak terseret oleh hasrat itu ia akan benar-benar bebas, bahagia, dan lurus.
Yudhistira, orang yang lurus itu, bersedih ketika perang selesai dan kemenangan berada di tangannya. Kita bayangkan dia berjalan malam itu di lorong-lorong istana Astina yang baru saja ia rebut. Tiang-tiang perkasa Balustrada yang luas. Relung-reling yang mencekam. Lampu-lampu yang sayup, gemetar oleh angin, seperti ketakutan oleh kekuasaan, keangkuhan, dan keagungannya. Mengapa manusia harus memburu-buru kejayaan itu dan memperebutkannya dengan habis-habisan.
Mengenai bentuk tulisannya terhadap puisi penyair-kehormatan-kita yang oleh sebagian orang dianggap sebagai puisi yang lain itu, menurut tokoh kita, hanya soal darimana kita melihatnya. Seperti perumpamaan yang diberikan slamet rahardjo dalam diskusi seusai pementasan monolognya pada pembukaan Festival Seni Surabaya, yakni perihal pertengkaran antara seorang ibu dengan anaknya karena soal jumlah telur yang digoreng, masalahnya kembali ke soal darimana kita melihatnya. Darimana point of view kita arahkan.
Perihal kawan penyair-kehormatan-kita yang merasa kebakaran jenggot atas bentuk opini tokoh kita dan pemberi-opini-pola-larik, maka tokoh kita hanya bisa mengingatkan tentang perspektif dan point of view tersebut. Juga ketika penyair kehormatan kita menyebutkan perlu tidaknya menulis puisi dalam buku tamu, tokoh kita hanya mengingat pedomannya pada tradisi penulisan buku tamu di warung kita sebelum ini. Bahkan dalam satu kesempatan seorang rekan pernah menuliskan semacam essay di sana. Hal ini barangkali karena munculnya ketidakpuasan atas kecepatan tayang-langsung pada gallery-gallery di warung kita tercinta.
Perihal etika yang dipersoalkan oleh sang penyair dalam kunci penutupnya, tokoh kita merasa perlu belajar lagi membedakan etiket dan etika. Ini seperti perbedaan antara nevolet dan novel, jumut namun ada. Pembicaraan tentang etika, jika itu memang substansi persoalan yang ingin diajukan oleh sang panyair kehormatan kita, tentunya akan mengundang kita memasuki wilayah pilsyahwat. Sedikit ingatan tokoh kita yang lapuk mengembalikannya pada pertanyaan-pertanyaan asali dari lapangan pilsyahwat. Logika menanyakan (misalnya) apakah hukum-hukum penyimpulan yang lurus itu? Metodologi; apakah teknik-teknik penyelidikan itu? Metafisika terdiri dari dua yakni; ontologi dan kosmologi. Ontologi; apakah kenyataan itu? Kosmologi; bagaimanakah keadaannya sehingga kenyataan itu dapat teratur? Epistemologi; apakah kebenaran itu? Biologi kefilsafatan; apakah hidup itu? Psikologi kefilsafatan; apakah jiwa itu? Antropologi kefilsafatan; apakah manusia itu? Sosiologi kefilsafatan; apakah masyarakat dan negara itu? Etika; apakah yang-baik itu? Estetika; apakah yang-indah itu? Filsafat agama; apakah yang-keagamaan itu?
Atas gugatan sang-penyair-kehormatan-kita, maka tokoh kita merasa sangat bersyukur bahwa masih mampu membedakan dimana letak Etika dan dimana wilayah Estetika. Pada wilayah estetika, persoalan yang digemari tokoh kita tentu saja masalah keindahan, yang barangkali hadir dalam beragam bentuk yang tak pula harus mengikuti tradisi penulisan tiap jenis lahan estetika yang pernah ada. Sebab tanpa rasa bebas semacam itu maka chairil tak akan membongkar tradisi penulisan balai pustaka dan pujangga baru, juga kredo tardji tak akan dianggap sebagai pembaruan. Tanpa itu jenis-jenis ragam estetika (sastra misalnya) tak akan mengalami pembaruan dan perkembangan.
Mengenai absurditas yang oleh sang pendekar dianggap sebagai pandangan kekanakan, tokoh kita hanya bersyukur bahwa dia masih sanggup menikmati indahnya pemandangan sikap hidup absurd, dinding-dinding absurd, dan pemberontakan kaum absurd dalam pemikiran-pemikiran albert camus. Mengenai absurditas yang dilihat sang pendekar ada dalam opini dan puisi tokoh kita, pun mengingatkannya pada keangkuhan dunia pemaknaan yang telah menjadi tunggal dan rigid seperti tersebut. Padahal, puisi (teks) memiliki makna yang lebih luas dari sekedar satu kacamata (kuda) serupa reduksi kaum ilmuwan, fenomenolog, filsuf, maupun kritikus sendiri. Kritik dan puisi berada dan mengada dalam ranah kehidupan yang berbeda, saling mengadakan sekaligus saling meniadakan. Kalaupun puisi tokoh kita dianggap terlalu gelap atau (mendekati) surealistik maka dia pun bersyukur bahwa riwayat teks (estetika) surealis berliku cukup panjang sampai ke jaman sigmund freud menyatakan perlunya resistensi bagi manusia neurotik agar terbebas dari patologi yang dialaminya.
Begitulah kadang ingatan tokoh kita bisa mampir kemana-mana seperti seorang pelancong yang senantiasa berusaha menikmati persinggahannya. Juga kali ini dia ingat dengan rasa yang sama atas pembicaraan dalam caping yang sama pada halaman wedatama dan kita. Tokoh kita sekali lagi tergelitik mengutip-acak serat yang konon tulisan Mangkunegara IV itu; yang konon ditujukan untuk menggesek dengan cara halus tingkah generasi muda di jamannya.
Katungkul mungkul sami
Bengkrahan mring Masjid Agung
Tuman tumanem ing sepi
Sepi asepa lir sepah samun
Lumuh asor kudu unggul
Sunggah sesongaran
Petilan di atas jika mengikuti terjemahan bebas goenawan mohamad menjadi;
Asyik masyuk beramai-ramai
Pamerkan diri di Masjid Agung
Keranjingan tertanam dalam sepi
Hampa, hambar, seperti sepah habis di kunyah
Tak mau kalah, harus unggullah
Pongah dan penuh bualan........alias verbalisme, simpul gugun kita. Semoga igauan tokoh kita tidak menjadi kekacauan tanpa pola. Sebab dalam pikirannya yang sempit tokoh kita masih menyisakan tempat bagi tanda tanya yang (mengutip kata seorang rekan dari surabaya) menumbuhkembangkan pengetahuan dan tempat bagi pola-pola kebetulan yang mungkin. Kebetulan itu menurut sepengetahuannya (yang picik) juga memiliki sejarah masa lalu (dan pola-pola tertentu) yang sangat panjang. Bahkan mungkin lebih panjang dari daya hidupnya sendiri. Kebunbungakita, 200503 Belalangtua
PARANG:
ha...ha...haa...hahaaahhaghh hahhgh...ughk...uekhg
panjangnya tulisanmu,bel.
Kenapa tak singkat aja tuliskan bahwa kamu curiga parang dan golok itu satu jiwa satu raga.Aku terus terang aja,si golok itu pengagum sekaligus lawanku di dunia nyata.Begitu juga sebaliknya.Kami justru saling bantai sebelum melemparkan puisi terjelek kami kami ke ajang ini.Makanya takkan ada pertarungan sengit antara kami di ajang ini.Kami justru mencari siapa teman yeng mampu membantai puisi kami disini.Dan kami sepakat memakai login yang 'seru'.Bukankah jelas isyarat-isyarat yang kami sengaja telah membantumu mengenali keakraban kami?Setelah membaca tulisanmu diatas,aku yakin kamu cukup jenius seperti yang lain untuk mengenalinya.Satu lagi,Bel.Aku rasa tidak perlu seseorang harus membuat dua login untuk dirinya sendiri.Apalagi hanya untuk membantai.Jadi sekali lagi kauakui bahwa parang dan goblok eh,golok maksudnya adalah, teman sekaligus lawan.wong maen ke warnet juga bareng kok.
Tentang mengapa aku menyebut keabsurdan sebagai kekanak-kanakan itu karena keabsurdan adalah tahap awal bagi seniman yang bermain-main.Mengapa puisiku kok masih menyimpan bau kekan-kanakan itu?Karena aku pun dulu kanak-kanak yang bermain-main jua.Tapi aku belum tua lho.Tuaan kamu,Bel.Salahlah bila aku mengatakan pengalaman kanak-kanakku?Adakah aku melarang-larang kalian untuk berkarya?Justru aku menghindar dari kata-kata manis agar kalian tidak seperti semut yang merubung gula-gula pujian dan meninggalkan segala garam yang menyedapkan pengalaman kalian.Teruslah dengan karyamu,Bel.Akupun akan terus mengganggumu.Tidakkah kau sadari kau jauh berkembang sejak kehadiran dua jawara?Ha....hahaah..hahaaa.haaghh...uhgg...ueghhh.
Belalangtua:
ada pengandaian lebih sadis...satu tubuh tiga jiwa...ada juga 16 jiwa....sybill. lu mau bilang apa juga kagak bakal ngaruh ke gw. gw mau nulis panjang juga lantaran ada banyak kepentingan di dalamnya, dwig. lo, mustinya juga ikhlas (kayak klo lagi ngimamin jamaah waktu sembahyang) klo gw gak percaya perbedaan parang ama golok. di dalam tubuh yang beda terdapat jiwa yang sama hahahaha itu pemeo fasis dari jaman yunani. lo paling tau soal dongeng2 eropaan gitu, kan. sama-sama orang eksak, sama2 dr keputih, apalagi. aku kenal anak di sana namanya Dion dari kediri. Loe bener beda qt bisa sepuluh taunan. ciri kekanakan (keabisan stock cara ketawa) ngene le...cah bagus...nek absurditas mbok omong sebagai tahap awal bagi seniman yang bermain-main itu perlu penjelasan yang lebih bertanggung-jawab. sejarah tradisi literer dunia gak bilang kayak gitu...dan absurditas menjadi tema sentral karya-karya camus juga bukan hanya karena melihat perbedaan antara bahasa orangdewasa dengan bahasa anak-anak. persoalan absurditas musti kamu pahami dari berbagai sudut, bukan untuk menjadi absurd. setidaknya dengan begitu kamu menjadi lebih paham kenapa orang menjadi absurd, bunuh diri bisa terjadi bukan hanya beban persoalan seorang suami yang ditinggalkan isterinya dalam keadaan sakit2an dan menjadi tanggungan anak gadisnya yang belum lagi dewasa. korban/pelaku bunuh diri bisa saja melakukan perbuatannya itu karena barus saja dilewati seorang tetangga dengan sikap acuh-tak-acuh. ada dinding-dinding absurd, bunuh diri filosofis, jiwa absurd, tokoh-tokoh absurd, de-es-te. bener, loe selalu bedua ama trew. kemarin aku liat kalian di gramedia manyar. liat-liat gibran bener juga sepeninggal klian situs ini jadi rame. tapi jangan gede rasa dulu. itu gak cuman lantaran klian, klo pun ada yang minat ngomentarin klian selain aku, klo bukan dhjt yg ngerasa ada kepentingan ya orang-orang yang suka sok nyinyir. mending lu dateng ke depan unair, lu bisa nongkrong bareng yang laen. gak mungkin kan gw bawa-bawa mereka ke tempat lu. puisi ini paling akhir kutulis jauh sesudah tiga puisi yang barusan gw kirim. loe musti bersyukur juga gw masih mau ngomong kayak gini. banyak orang di dunia sastra lebih suka ngomong pake pasemon. ntar, gak ngamper lagi loe
di kelangkang ibu, mengucurkan deras
puting susu dan lendir menggumpal
dari kerongkong gasangku
serupa ponten paling akhir
dimana aku hanya berhadapan bayangan
busukku, menghitung tiap kepeng wang
di kantung gombalku
kau boleh lempari aku
batu, belati atau tai
tapi jangan puisi softex
atau sajak beludak
sebab di situ tanganmu mewujud
gelembung-gelembung kosong
yang selalu melolong – menceraikan
telingaku dari lampu-lampu
jalan – dan kakimu tak tercerna
perut dengan lembut
kecuali membuat sembelit
tanpa jeda
sirami dengan segantang arak
paling tua atau anggur
tapi aku pilih air sumur
sebab ketulusannya melebihi
kisah para rasul yang bisa
kau tadwijkan
kesunyian serupa ponten
dan malaikat-malaikat kehilangan sayap
sejak aku terpaku oleh cintamu
pada perut dunia
dan kelangkang
bisu
052003
Pola-Pola Kebetulan
Juga pagi itu dia bangun dengan rasa yang sama, bahwa dia akan bertemu dengan bekas isterinya di salah satu tikungan kota ini. Entah, tikungan mana...(sebuah kutipan mentah dari mula ziarah iwan simatupang).
Begitu pun ketika dia pergi ke sebuah warung suram bernama cybersastra, di situ dia berharap bakal menemukan bekas isterinya yang telah mayat itu teronggok di salah satu tikungannya.
Sebuah kebetulan jika kemudian dia menuliskan sebuah komentar mengenai karya dari salah seorang rekan penyair kita yang terhormat. Tanpa mengurangi rasa hormat pada beliau di sini kita berniat untuk tidak menuliskan nama penyair terhormat kita tersebut. Secara kebetulan tokoh kita menuliskan komentarnya dalam bentuk seperti berikut ini:
“gebalau dingin suara-suara samun itu menggigir di tubir-tubir ruhku lewat pecahan cahaya yang leleh dari kelamin para penyamun. dikangkangi lelaki yang menjelma bapak di tikungan selindap pertigaan itu aku hanya bisa mengerakkan korek merah jambu dalam permainan farji gaun pengantin ibu. di langit yang membius dengan seribu rimbun rambut-rambut lembut dari telapak nganga aku dimuntahkan oleh anjing berdarah pisau lipat berlapis mantra penjinak zakar bergelibatan antara tiang-tiang bendera. aku lumer serupa setan-setan mungil berloncatan dalam hasrat mengatasi ketakutan habsi, menanting gumpalan kapas bersarung sutra piningit. antrian kucing pasar seperti ingin merayakan kelahiranku dengan onani bersama teriring madah kelana syair-syair berdarah dan sunatan masal. tak ada tuhan yang bersamadi melebihi lendir dan kilatan-kilatan sisikku. bulan pucat, menyimpan cemburu yang lurus pada surat-surat kawat. padahal selalu ada hati untuk pemesan jantung dalam pesta tempik setan-setan berjubah keniscayaan. semoga jalan-jalan tak lagi berlari saat tanganku turun dan menjejalkan pecahan botol kosong di gelambir susu ibu dan terkeratlah kertak tulang selangkamu oleh bias semburan nafasku yang lembur rangkai anusmu seperti lukisan-lukisan telinga patah berbalut kedunguan cantik dari negeri kincir angin. meski angin tak akan pernah lewat untuk sekedar melepas pemberangkatanmu menuju tonggak-tonggak paloma kita yang nyeringai angkuh. mari masuk ke rangka rengat dan karatku, maka kau akan temui wujudmu yang paling kasim
Cukup lama komentar tokoh kita, lelaki yang selalu mencari mayat isterinya ini, tidak mendapatkan tanggapan. Kemudian tanggapan itu justru datang dari essays kita dengan cara mempersandingkan puisi sang panyair dengan komentar tokoh kita; satu begini dan satu begitu. Dalam tanggapan itu seolah-olah komentar tokoh kita telah hadir sebagai puisi yang lain, alih-alih sebagai kritik. Pada gilirannya, seorang lain dengan cara lain membubuhkan opini dalam bentuk larik-larik puisi, entah apakah seorang yang ini pun menujukan tulisannya sebagai puisi sendirinya atau sebagai kritik tak pelak lagi, barisan komentar tersebut di atas segera mengundang masuknya seorang lain yang mengaku sebagai jago silat (lidah). Layaknya olahragawan, jago silat kita pun bergegap gempita melmparkan segala kegundahannya pada bentuk-bentuk komentar yang menurutnya bersifat pamer; satu lagi anak Dynosian, tulisnya.
Kali pertama membaca tulisan pendekar ini, tokoh kita pun mengernyitkan dahi. Apa arti Dynosian? Pada siapa kata itu ditebas-sabetkan oleh pendekar kita? Dengan kernyit dahinya tokoh kita pun kemudian melihat ruang-minum-bersama lain yang kebetulan dipajani puisi tokoh kita yang serupa ini;
Serupa Sunyi
kesunyian adalah surga terbelah
di kelangkang ibu, mengucurkan deras
puting susu dan lendir menggumpal
dari kerongkong gasangku
serupa ponten paling akhir
dimana aku hanya berhadapan bayangan
busukku, menghitung tiap kepeng wang
di kantung gombalku
kau boleh lempari aku
batu, belati atau tai
tapi jangan puisi softex
atau sajak beludak
sebab di situ tanganmu mewujud
gelembung-gelembung kosong
yang selalu melolong menceraikan
telingaku dari lampu-lampu
jalan dan kakimu tak tercerna
perut dengan lembut
kecuali membuat sembelit
tanpa jeda
sirami dengan segantang arak
paling tua atau anggur
tapi aku pilih air sumur
sebab ketulusannya melebihi
kisah para rasul yang bisa
kau tadwijkan
kesunyian serupa ponten
dan malaikat-malaikat kehilangan sayap
sejak aku terpaku oleh cintamu
pada perut dunia
dan kelangkang
bisu
052003
Dalam ruang-minum-bersama di bawah pajanan puisi ini pun muncul tulisan cukup panjang lebar yang menyebutkan penandaan sifat absurd dalam puisi tersebut di atas dengan penjelasan bahwa hal semacam itu adalah pikiran kekanakan. Tokoh kita mengernyitkan dahi, sekali lagi, atas usaha keras pendekar kita ini. Tokoh kita bingung lagi, bahwa ternyata puisinya mengandung ciri absurd. Pencari mayat isterinya itu pun menggali lebih dalam tentang maksud dari yang absurd ini.
Menggelikan, bahwa kemudian suasana berkembang sangat cepat dan panas. Lebih mirip olok-olok jaman tokoh kita kanak-kanak. Ironisnya, dalam salah satu fase dari rally tanya-jawab ini muncul juga sebutan tokohkitakanak-kanak dan tokohkitabayi. Bahkan, dalam ruang-minum-bersama lain yang merupakan wilayah kritik untuk puisi seorang jawara lain (yang baru masuk mendaftarkan diri beberapa menit di tengah pesta selamatan tanya-jawab tokoh kita dengan pendekar kita, yang juga memiliki gaya salam jurus pembukaan dan akhiran yang mirip) pun muncul penyebutan tokohkitaisteri. Dalam ruang-minum-bersama tempat puisi jawara kita pun terdapat semacam perkenalan antara pendekar dan jawara. Menarik, menarik.
Pun menarik ketika pendekar kita, setelah beberapa saat menghilang tanpa permisi dari arena pertanya-jawaban itu, muncul lagi dan bertanya-tanya heran(?) tentang tradisi penulisan di buku tamu warung kita. Pada saat tokoh kita menyaksikan tanda-tanda pendekar kita di buku tamu sudah tidak tampak lagi kedua tokoh dunia persilatan itu, baik pendekar maupun jawara. Padahal, jauh sebelumnya tokoh kita telah dengan menebahdada mengundang pendekar itu bersilaturahmi di buku tamu. Betapa elok lenggang kangkungnya seorang pendekar yang merasa baru bertandang kemudian telah secara lihai berjumpalitan di ruang-minum-bersama tanpa lebih dulu (setidaknya) menengok buku tamu. Begitukah nampaknya kedewasaan (antitesa dari ciri absurd yang kekanakan seperti tulisnya) yang ingin dipertontonkan oleh pendekar kita di hadapan sidang, tokoh kita masih bekernyit dahi.
Dalam kernyit dahinya yang nujum tokoh kita mengambil sikap diam untuk sementara. Apalagi, penyair kehormatan kita yang semula diam dari ruang-minum-bersama (symposium) turut suka mengunci ruang tersebut dengan rasa keterusikannya pada model kritik tokoh kita dan pemilik opini pola larik.
Pada hawa mengawang-awang dilambung rasa geli ini, secara kebetulan, tokoh kita menjilati dengan leler matanya yang buta sebuah buku ganjil bertajuk catatanpinggir alias caping gugun atawa gm. Pada salah satu lembaran daun (ron) talnya, tersebutlah kisah mengenai pameran. Dalam larik-larik kalamnya terbetik isyarat bahwa pameran berasal kata pamer yang bersumber dari bahasa jawa. Pamer dalam khasanah bahasa jawa sendiri telah berabad-abad dianggap sebagai tindakan yang kurang tata. Namun gugun pun mengimbuhkan, pada gilirannya, bahwa pamer. Dalam arti tertentu, kita tak tinggi hati. Kita tak merasa bahwa kitalah yang mereka butuhkan. Tokoh kita kemudian mengingat pada telaah pendekar itu bahwa seolah-olah telah terjadi pameran di ruang-minum-bersama puisi penyair kehormatan kita. Tokoh kita eling (ingat; jawa) pada sebaris kalimat, satu lagi anak Dynosian (belakangan seorang kritikus handal dari kawasan gapus menjawab; itu seperti nama tokoh dalam mitologi yunani...oooo, yunani.)
Dalam kisah penjilatan caping yang kebetulan itu pun tokoh kita menjumpai halaman sehabis peperangan. Bagian ini mengingatkan tokoh kita pada rally pertanya-jawaban dengan sang pendekar yang dirasanya begitu menekan dan menyiksa, bukan karena dia merasa kalah atau dikalahkan. Namun kiranya menarik kita simak dulu kutipan mentah-terpenggal-penggal dari halaman sehabis perang itu, silakan;
Apakah arti kemenangan? Setelah kurawa dikalahkan, medan perang Kuru tinggal lapangan penuh bangkai. Bau busuk terbentang. Rasa cemar terapung ke kaki langit. Ribuan anjing ajak melolong, mengaum, mengais. Selebihnya Cuma erang sekarat para prajurit, di antara sisa kereta dan senjata yang patah.
Warna di sana hanya darah. Anyir. Tak akan ada lagi perbuatan kepahlawanan.
Si pemenang, kelima bersaudara Pandawa, telah merebut istana yang kini sepi. Mereka pun membisu capek memandangi balairung yang lengang. Apa, setelah ini? Akan apalagi?
Satu soal selesai, soal lain timbul.
Barangkali karena itulah Bhagawatgita, dialog antara Kresna dan Arjuna di ambang pertemuan besar di Kuru itu, menyebut tyaga. Yakni; sikap melepaskan diri dari kehendak memperoleh buah dari kerja. Siap yang menghendaki buah akan cepat kecewa. Buah itu akan busuk. Tapi sikap yang menjalankan kerja seraya tak terseret oleh hasrat itu ia akan benar-benar bebas, bahagia, dan lurus.
Yudhistira, orang yang lurus itu, bersedih ketika perang selesai dan kemenangan berada di tangannya. Kita bayangkan dia berjalan malam itu di lorong-lorong istana Astina yang baru saja ia rebut. Tiang-tiang perkasa Balustrada yang luas. Relung-reling yang mencekam. Lampu-lampu yang sayup, gemetar oleh angin, seperti ketakutan oleh kekuasaan, keangkuhan, dan keagungannya. Mengapa manusia harus memburu-buru kejayaan itu dan memperebutkannya dengan habis-habisan.
Mengenai bentuk tulisannya terhadap puisi penyair-kehormatan-kita yang oleh sebagian orang dianggap sebagai puisi yang lain itu, menurut tokoh kita, hanya soal darimana kita melihatnya. Seperti perumpamaan yang diberikan slamet rahardjo dalam diskusi seusai pementasan monolognya pada pembukaan Festival Seni Surabaya, yakni perihal pertengkaran antara seorang ibu dengan anaknya karena soal jumlah telur yang digoreng, masalahnya kembali ke soal darimana kita melihatnya. Darimana point of view kita arahkan.
Perihal kawan penyair-kehormatan-kita yang merasa kebakaran jenggot atas bentuk opini tokoh kita dan pemberi-opini-pola-larik, maka tokoh kita hanya bisa mengingatkan tentang perspektif dan point of view tersebut. Juga ketika penyair kehormatan kita menyebutkan perlu tidaknya menulis puisi dalam buku tamu, tokoh kita hanya mengingat pedomannya pada tradisi penulisan buku tamu di warung kita sebelum ini. Bahkan dalam satu kesempatan seorang rekan pernah menuliskan semacam essay di sana. Hal ini barangkali karena munculnya ketidakpuasan atas kecepatan tayang-langsung pada gallery-gallery di warung kita tercinta.
Perihal etika yang dipersoalkan oleh sang penyair dalam kunci penutupnya, tokoh kita merasa perlu belajar lagi membedakan etiket dan etika. Ini seperti perbedaan antara nevolet dan novel, jumut namun ada. Pembicaraan tentang etika, jika itu memang substansi persoalan yang ingin diajukan oleh sang panyair kehormatan kita, tentunya akan mengundang kita memasuki wilayah pilsyahwat. Sedikit ingatan tokoh kita yang lapuk mengembalikannya pada pertanyaan-pertanyaan asali dari lapangan pilsyahwat. Logika menanyakan (misalnya) apakah hukum-hukum penyimpulan yang lurus itu? Metodologi; apakah teknik-teknik penyelidikan itu? Metafisika terdiri dari dua yakni; ontologi dan kosmologi. Ontologi; apakah kenyataan itu? Kosmologi; bagaimanakah keadaannya sehingga kenyataan itu dapat teratur? Epistemologi; apakah kebenaran itu? Biologi kefilsafatan; apakah hidup itu? Psikologi kefilsafatan; apakah jiwa itu? Antropologi kefilsafatan; apakah manusia itu? Sosiologi kefilsafatan; apakah masyarakat dan negara itu? Etika; apakah yang-baik itu? Estetika; apakah yang-indah itu? Filsafat agama; apakah yang-keagamaan itu?
Atas gugatan sang-penyair-kehormatan-kita, maka tokoh kita merasa sangat bersyukur bahwa masih mampu membedakan dimana letak Etika dan dimana wilayah Estetika. Pada wilayah estetika, persoalan yang digemari tokoh kita tentu saja masalah keindahan, yang barangkali hadir dalam beragam bentuk yang tak pula harus mengikuti tradisi penulisan tiap jenis lahan estetika yang pernah ada. Sebab tanpa rasa bebas semacam itu maka chairil tak akan membongkar tradisi penulisan balai pustaka dan pujangga baru, juga kredo tardji tak akan dianggap sebagai pembaruan. Tanpa itu jenis-jenis ragam estetika (sastra misalnya) tak akan mengalami pembaruan dan perkembangan.
Mengenai absurditas yang oleh sang pendekar dianggap sebagai pandangan kekanakan, tokoh kita hanya bersyukur bahwa dia masih sanggup menikmati indahnya pemandangan sikap hidup absurd, dinding-dinding absurd, dan pemberontakan kaum absurd dalam pemikiran-pemikiran albert camus. Mengenai absurditas yang dilihat sang pendekar ada dalam opini dan puisi tokoh kita, pun mengingatkannya pada keangkuhan dunia pemaknaan yang telah menjadi tunggal dan rigid seperti tersebut. Padahal, puisi (teks) memiliki makna yang lebih luas dari sekedar satu kacamata (kuda) serupa reduksi kaum ilmuwan, fenomenolog, filsuf, maupun kritikus sendiri. Kritik dan puisi berada dan mengada dalam ranah kehidupan yang berbeda, saling mengadakan sekaligus saling meniadakan. Kalaupun puisi tokoh kita dianggap terlalu gelap atau (mendekati) surealistik maka dia pun bersyukur bahwa riwayat teks (estetika) surealis berliku cukup panjang sampai ke jaman sigmund freud menyatakan perlunya resistensi bagi manusia neurotik agar terbebas dari patologi yang dialaminya.
Begitulah kadang ingatan tokoh kita bisa mampir kemana-mana seperti seorang pelancong yang senantiasa berusaha menikmati persinggahannya. Juga kali ini dia ingat dengan rasa yang sama atas pembicaraan dalam caping yang sama pada halaman wedatama dan kita. Tokoh kita sekali lagi tergelitik mengutip-acak serat yang konon tulisan Mangkunegara IV itu; yang konon ditujukan untuk menggesek dengan cara halus tingkah generasi muda di jamannya.
Katungkul mungkul sami
Bengkrahan mring Masjid Agung
Tuman tumanem ing sepi
Sepi asepa lir sepah samun
Lumuh asor kudu unggul
Sunggah sesongaran
Petilan di atas jika mengikuti terjemahan bebas goenawan mohamad menjadi;
Asyik masyuk beramai-ramai
Pamerkan diri di Masjid Agung
Keranjingan tertanam dalam sepi
Hampa, hambar, seperti sepah habis di kunyah
Tak mau kalah, harus unggullah
Pongah dan penuh bualan........alias verbalisme, simpul gugun kita. Semoga igauan tokoh kita tidak menjadi kekacauan tanpa pola. Sebab dalam pikirannya yang sempit tokoh kita masih menyisakan tempat bagi tanda tanya yang (mengutip kata seorang rekan dari surabaya) menumbuhkembangkan pengetahuan dan tempat bagi pola-pola kebetulan yang mungkin. Kebetulan itu menurut sepengetahuannya (yang picik) juga memiliki sejarah masa lalu (dan pola-pola tertentu) yang sangat panjang. Bahkan mungkin lebih panjang dari daya hidupnya sendiri. Kebunbungakita, 200503 Belalangtua
PARANG:
ha...ha...haa...hahaaahhaghh hahhgh...ughk...uekhg
panjangnya tulisanmu,bel.
Kenapa tak singkat aja tuliskan bahwa kamu curiga parang dan golok itu satu jiwa satu raga.Aku terus terang aja,si golok itu pengagum sekaligus lawanku di dunia nyata.Begitu juga sebaliknya.Kami justru saling bantai sebelum melemparkan puisi terjelek kami kami ke ajang ini.Makanya takkan ada pertarungan sengit antara kami di ajang ini.Kami justru mencari siapa teman yeng mampu membantai puisi kami disini.Dan kami sepakat memakai login yang 'seru'.Bukankah jelas isyarat-isyarat yang kami sengaja telah membantumu mengenali keakraban kami?Setelah membaca tulisanmu diatas,aku yakin kamu cukup jenius seperti yang lain untuk mengenalinya.Satu lagi,Bel.Aku rasa tidak perlu seseorang harus membuat dua login untuk dirinya sendiri.Apalagi hanya untuk membantai.Jadi sekali lagi kauakui bahwa parang dan goblok eh,golok maksudnya adalah, teman sekaligus lawan.wong maen ke warnet juga bareng kok.
Tentang mengapa aku menyebut keabsurdan sebagai kekanak-kanakan itu karena keabsurdan adalah tahap awal bagi seniman yang bermain-main.Mengapa puisiku kok masih menyimpan bau kekan-kanakan itu?Karena aku pun dulu kanak-kanak yang bermain-main jua.Tapi aku belum tua lho.Tuaan kamu,Bel.Salahlah bila aku mengatakan pengalaman kanak-kanakku?Adakah aku melarang-larang kalian untuk berkarya?Justru aku menghindar dari kata-kata manis agar kalian tidak seperti semut yang merubung gula-gula pujian dan meninggalkan segala garam yang menyedapkan pengalaman kalian.Teruslah dengan karyamu,Bel.Akupun akan terus mengganggumu.Tidakkah kau sadari kau jauh berkembang sejak kehadiran dua jawara?Ha....hahaah..hahaaa.haaghh...uhgg...ueghhh.
Belalangtua:
ada pengandaian lebih sadis...satu tubuh tiga jiwa...ada juga 16 jiwa....sybill. lu mau bilang apa juga kagak bakal ngaruh ke gw. gw mau nulis panjang juga lantaran ada banyak kepentingan di dalamnya, dwig. lo, mustinya juga ikhlas (kayak klo lagi ngimamin jamaah waktu sembahyang) klo gw gak percaya perbedaan parang ama golok. di dalam tubuh yang beda terdapat jiwa yang sama hahahaha itu pemeo fasis dari jaman yunani. lo paling tau soal dongeng2 eropaan gitu, kan. sama-sama orang eksak, sama2 dr keputih, apalagi. aku kenal anak di sana namanya Dion dari kediri. Loe bener beda qt bisa sepuluh taunan. ciri kekanakan (keabisan stock cara ketawa) ngene le...cah bagus...nek absurditas mbok omong sebagai tahap awal bagi seniman yang bermain-main itu perlu penjelasan yang lebih bertanggung-jawab. sejarah tradisi literer dunia gak bilang kayak gitu...dan absurditas menjadi tema sentral karya-karya camus juga bukan hanya karena melihat perbedaan antara bahasa orangdewasa dengan bahasa anak-anak. persoalan absurditas musti kamu pahami dari berbagai sudut, bukan untuk menjadi absurd. setidaknya dengan begitu kamu menjadi lebih paham kenapa orang menjadi absurd, bunuh diri bisa terjadi bukan hanya beban persoalan seorang suami yang ditinggalkan isterinya dalam keadaan sakit2an dan menjadi tanggungan anak gadisnya yang belum lagi dewasa. korban/pelaku bunuh diri bisa saja melakukan perbuatannya itu karena barus saja dilewati seorang tetangga dengan sikap acuh-tak-acuh. ada dinding-dinding absurd, bunuh diri filosofis, jiwa absurd, tokoh-tokoh absurd, de-es-te. bener, loe selalu bedua ama trew. kemarin aku liat kalian di gramedia manyar. liat-liat gibran bener juga sepeninggal klian situs ini jadi rame. tapi jangan gede rasa dulu. itu gak cuman lantaran klian, klo pun ada yang minat ngomentarin klian selain aku, klo bukan dhjt yg ngerasa ada kepentingan ya orang-orang yang suka sok nyinyir. mending lu dateng ke depan unair, lu bisa nongkrong bareng yang laen. gak mungkin kan gw bawa-bawa mereka ke tempat lu. puisi ini paling akhir kutulis jauh sesudah tiga puisi yang barusan gw kirim. loe musti bersyukur juga gw masih mau ngomong kayak gini. banyak orang di dunia sastra lebih suka ngomong pake pasemon. ntar, gak ngamper lagi loe
my worst nightmare
kudatangi warung tak beruang
membusuk pada kecemasan
kabar dari langit suci
; segelas kopi
sepotong roti
tiga kerat
singkong
hangat
bocah belasan datang
kukira anak pemilik warung
tiduran di balai digoda teluh
tamu lain, lelaki berpeci
bocah gelinjangan
sebentar bangun
mencari-cari
kurban
perawan
anak empunya warung
lelaki berpeci alihkan rasa
pada si perawan, ditepis
lantas sadar
kulihat lelaki luka
di tembok kamar tanpa lengan
boneka bodoh yang ditinggalkan
meratap kertap pada bapaknya
aku tetap tak mengerti
bocah teluhan terus gelinjangan
lamat terngiang
perawan warung nyanyi
lenggang langgam pasundan
aku nyelinap di pinggang
pintu, mencari jalan keluar
aku terbatuk di ranjang
sendiri, mencari jalan kembali
082003
salam
tanda yang hilang
barangkali bisa
kautemukan nanti
tapi yang kubuang
musykil kuambil lagi
begitu juga lagumu
sulit bedakan
perlambang hilang
dan yang kaubuang
080403
barangkali bisa
kautemukan nanti
tapi yang kubuang
musykil kuambil lagi
begitu juga lagumu
sulit bedakan
perlambang hilang
dan yang kaubuang
080403
pintu langit
opas pos pasah
di jalan berlubang
aku percaya mati
pada kabar langit
malam angkuh
kau selingkuh
dengan cuaca
musim buta
sepedanya hilang
di lubang tanpa dasar
aku harus bersabar
terus menunggu
082003
di jalan berlubang
aku percaya mati
pada kabar langit
malam angkuh
kau selingkuh
dengan cuaca
musim buta
sepedanya hilang
di lubang tanpa dasar
aku harus bersabar
terus menunggu
082003
loji
kalau terus saja
memburu bayangku
satu kali nanti pasti
aku hempaskan kau
di ujung mata
yang menyala
nyala
too blind to hear
mellow yellow
and you will know us
by the trail of the dead
flying cowboys
slowdive
loveless isn’t anything
my bloody valentine
by the way
selembar daun jatuh
pun pecah di depannya
080403
memburu bayangku
satu kali nanti pasti
aku hempaskan kau
di ujung mata
yang menyala
nyala
too blind to hear
mellow yellow
and you will know us
by the trail of the dead
flying cowboys
slowdive
loveless isn’t anything
my bloody valentine
by the way
selembar daun jatuh
pun pecah di depannya
080403
ular di tubuhmu
sepuluh lidahmu
menari gelibatan
satu buat temanmu
satu buat kekasihmu
satu buat bapak-ibu
satu buat orang-orang
satu buat adik-adik
satu buat tetangga
satu buat gurumu
satu buat atasan
satu buat da’imu
satu buat hatimu
satu tailalat kecil
di bibir mungilmu
1996-2003
menari gelibatan
satu buat temanmu
satu buat kekasihmu
satu buat bapak-ibu
satu buat orang-orang
satu buat adik-adik
satu buat tetangga
satu buat gurumu
satu buat atasan
satu buat da’imu
satu buat hatimu
satu tailalat kecil
di bibir mungilmu
1996-2003
secangkir hujan, dee
hujan mercik di jendela
sisakan lubang-lubang
tak berbekas
kaunggigil cari kehangatan
padahal secangkir kopi tadi
panas-panas kautenggak
tandas
kau masih menunggu
berharap aku datang
bawa kabar baru
menjelang petang
gerimis tak mau reda
1996-2003
sisakan lubang-lubang
tak berbekas
kaunggigil cari kehangatan
padahal secangkir kopi tadi
panas-panas kautenggak
tandas
kau masih menunggu
berharap aku datang
bawa kabar baru
kuharap kauingat, bisikmu
kau masih meminjam hatiku
kaubilang akan kau pelihara
tapi kaubiarkan layu berdebu
menjelang petang
gerimis tak mau reda
redakan gelisahmu
tolong
hentikan gigilku1996-2003
yin yang
sebelah dirimu menolak
1996-2003
sebelah hatimu nggelak
dan seluruhmu, hatimu
penuh keridlaan
tersapu angin
tapi tak bisa
keduanya
lalu kauumpat hasratmu
gila
kausumpahi keridlaanmu
dusta
1996-2003
selamat datang di savana
lindap pagi berkeringat
setelah kau bunuh waktu di atas kereta
selarat tingkah hantu fajar menyirammu
dan membangunkan sebuah taman. salam
beku sopir bis kota lelehkan arahmu
sebuah luka nganga di bangku
dalam mulut taman tua. selarut lelaki
hitam menggiring ruh anjing pesiar
keliling kota. seringai anak serigala
menjilati rongsokan cortina di bibir
trotoar menyapamu tanpa suara
hanya kartu pos
mestikah kautuliskan sebagai kenangan
kota yang tertelan dan pingsan masa lalu
052003
setelah kau bunuh waktu di atas kereta
selarat tingkah hantu fajar menyirammu
dan membangunkan sebuah taman. salam
beku sopir bis kota lelehkan arahmu
sebuah luka nganga di bangku
; luwak, aku tahu
kau penipu di jalan Bantengan
dalam mulut taman tua. selarut lelaki
hitam menggiring ruh anjing pesiar
keliling kota. seringai anak serigala
menjilati rongsokan cortina di bibir
trotoar menyapamu tanpa suara
hanya kartu pos
mestikah kautuliskan sebagai kenangan
kota yang tertelan dan pingsan masa lalu
052003
pesta pertama
segalanya mulai
setelah kelahiran dirayakan
kami orang-orang beruntung
sayupnya. terlindung ketiak
gadis penjaga toko bunga, tempat segala
aroma dan warna bertebaran seperti pecahan
pecahan batu dalam kotak
pendinginmu. kami perlukan sedikit es batu
untuk segarkan tiga aroma dan tujuh minuman
malam begini dingin
tanpa segelas minuman, perempuan di pangkuan
tak layak pulang sendiri. lelaki pintarnya hanyut
tapi kota kami tak hanya
malam ini. maka istirahlah dalam damai
kasihmu. semoga tak ada samun
burung hantu, ganggu tidurmu
052003
setelah kelahiran dirayakan
kami orang-orang beruntung
; malam ini tak ada bintang
seterang barisan gigi lelaki kami
yang paling jumawa dengan senyum
sayupnya. terlindung ketiak
gadis penjaga toko bunga, tempat segala
aroma dan warna bertebaran seperti pecahan
pecahan batu dalam kotak
pendinginmu. kami perlukan sedikit es batu
untuk segarkan tiga aroma dan tujuh minuman
; aturan kedua
jangan tinggalkan gelasmu
bersama kami yang berpesta
malam begini dingin
tanpa segelas minuman, perempuan di pangkuan
tak layak pulang sendiri. lelaki pintarnya hanyut
; gelas kristal yang kau lihat
telah kau dapatkan
tapi kota kami tak hanya
malam ini. maka istirahlah dalam damai
kasihmu. semoga tak ada samun
burung hantu, ganggu tidurmu
052003
gadis selatan
dalam belitan katun
serapuh bunga-bunga yang kau tawarkan
kau telah melebihi semua perempuan banal
kotamu. kau jaga mayat
mayat tetap hidup dalam hutan di kaki gunung
yang menjulang. menantang langit dan kematian
ularku; menggelibat dalam pasang
nafas tertahan dan menggelegak
kau tetap berjaga
saat lolongan serigala itu disayat kotamu
mayat-mayat tersadar dari tidur panjang
desisku; hari ini kau sudah
membunuh dirimu sendiri
tak ada bunga
seperti yang kuberikan pada nigeria
yang telanjang, menari di gerlap punggung
kotamu. tapi akan kukenangkan
tamparan dan mimpimu sebagai tanda
langit tak lagi beku oleh seringai serigala
hantu
052003
serapuh bunga-bunga yang kau tawarkan
kau telah melebihi semua perempuan banal
kotamu. kau jaga mayat
mayat tetap hidup dalam hutan di kaki gunung
yang menjulang. menantang langit dan kematian
ularku; menggelibat dalam pasang
nafas tertahan dan menggelegak
kau tetap berjaga
saat lolongan serigala itu disayat kotamu
mayat-mayat tersadar dari tidur panjang
desisku; hari ini kau sudah
membunuh dirimu sendiri
tak ada bunga
seperti yang kuberikan pada nigeria
yang telanjang, menari di gerlap punggung
kotamu. tapi akan kukenangkan
tamparan dan mimpimu sebagai tanda
langit tak lagi beku oleh seringai serigala
hantu
052003
Langganan:
Postingan (Atom)