Selasa, November 04, 2003

solilokui

sebagai ular laut
bisaku membekukan puncak-puncak dunia
membaca kebenaran dari kaca yang muram
dalam sebuah kamar gelap
serpihan-serpihan isyarat
kesalehan dan kesalahan
mencair dan selalu luput
dari genggaman
dengan taring-taring gila
lelerkan samudera tuba
gelibatan dalam kelam malam
tarikan tujuh kepala
sepuluh tanduk
dan batu-batu nyala
di tiap pecinya

kenangamu merpati
ayat-ayat anggur basi
dalam bunga karang
bahasa kaum puritan
yang payah dan menyedihkan
tarjamah dan dituliskan sayap
sayap yang gemetar saat tarikan
garis putus-putus dari pena bulu
kempa

adakah yang lebih runduk
dari tikus-tikus malam
yang pernah melepas harimau
dari jejaring laba-laba petani
tua dan senyum murahan

dan jika ular merambat di sela
jala, menjilati warna mega kepakan
merpati, pelarian tikus-tikus malam
muram, harimau tertawa dan terangi
samun senyum petani tua
yang makin menjadi juga
menjadi gila
adakah kau lihat titik nadir
dari luka di dalam mataku
perkampungan orang-orang
buangan, neraka yang kau ciptakan
buatku, seperti kapal rompak yang karam
menghantam mercusuar dalam badai berkabut
setelah armada perangmu membakar dermaga berikut
semua penghuninya lantak