(1)
seperti panah aku lepas dari telikung busurmu
dan menghablur. jauh dari cahaya gelap, merasuk
suram malam yang masih lindap – samar mengabu
seperti kota-kota lapuk yang menakutkan ular gurun
kebangkitanku bukan fajar, hanya sejenis kabut pekat
di bawah payung hitam, berangsur lungsur dari dadaku
yang terbakar tarianmu
sayap-sayapku tak lebih pekat dari kegelapan
jubahmu. tapi lampu-lampu kota pasai berhamburan
mengasah langkah gumpalan api luruh – bukan atas namaku
kau telah memburu dan membunuh segala angin demi muka
malam tanpa cahaya. bahkan bulan yang mencoba melukis
bayanganmu telah hangus ditelan waktu
(2)
di situ aku mangkir
mungkar dan nangkir dari jalan-jalan yang lewat
dimana jubah hitam menjelma selongsong pikiran
kosong yang kau serukan sebagai hujan mitraliur
rahasia langit. in absentia, aku hanya proforma
dalam muslihat tarian kumpulan serangga
yang kaumainkan – figuran dari lakon-lakon
gundik yang lama kutinggalkan
di ujung jaman yang sudah
rumah-rumah sujud ketika sisa-sisa kota leleh
anak-anak digerus keretamu, fakir tua dilempar
ke jalan semak berduri, badut pesta meledak
di udara seusai meruwat jasadmu yang menguning
dengan lambung pacah dan usus membuih – dirajam
matahari habsi dalam pusaran beliung nafasmu
gerhana adalah raja yang gelisah dan menyapu
perempuan penjaga malam. aku tersenyum
memuntahkan aliran sungai – sesal dan kutukan
mataku nanar mengeja antara kesenyapan
jisimmu dan tarian bulan yang tak pernah
lelah menindih dada matahari – perempuan
terindah, adik sendiri – habis dilumatnya
anakmu itu tak akan menyadari kerasnya
lengan pengusung batu dan getas mimpi
mimpinya. melalaikan keheningan kolam
mencari kecantikannya lewat mata pesolek
anggrek tanah bermuka dua. sebab tak kenal
pada langkah-langkah raja berkaki gajah
saat menyingkirkan kota – membawa mayat
bapa dan cinta ibunya dalam buta
(3)
bila gelak kalap para rasulmu nanti langsir
ada tertulis sebagai gugusan bintang dan bulan
menarikan lagu kedua belas binatang yang mati
raga, maka anakmu lepas dari peredaran kelam
menyihir diri sebagai tuhan yang menudingku
serupa beludak dari segala yang lata. tidak lebih
dari setenggakan waktu dan pesta telah mengubur
bayanganmu dalam ribuan abad yang menimbun
tulang. tak ada nama bisa kau sebutkan sejak luka
di rongga khadamku terkerat jejakmu berkali-kali
aku tak menjanjikan sebuah sapa pun
tersurat dalam catatanku, selepas pesta
perkawinanmu dengan lapak-lapak pasar
selamat, untuk kemesumanmu sekalipun
bayanganmu hilang dari sumur waktu
kisaran tanpa jeda yang kau mau
rekaman hitam dalam kubur
para pesakitan
seolah kau di sisiku, mengiringkan jalan
langkah angin yang kesepian. kasak-kusuk
dengan ritus liur malaikat kematian. aku raib
bersama hujan menjelang persimpangan akhir
muara arus kota yang kehilangan lampu-lampu
tak akan kusebutkan nama di ambang maut
menyambutmu dengan sayap-sayap pekatnya
sebut aku di ujung lidahmu jika nanti terdengar
letupan-letupan kecil di lambungmu menyebar
asap, serupa ratus-ratus hantu. bunga rumput
liar dan beberapa bumbung beras mencair
di lahatmu. kusarungkan rasa dengan sekulum
kelebat biru berkelok tujuh
(4)
aku lekat di mulut-mulut kota – kampung
orang-orang buangan. ujung persinggahan
bagi semua yang tak lagi hidup di jamanmu
terikat pada keangkuhan masa lalu. jalinan
baja hitam merantai seluruh ketajamanku
dan sulur-sulur berduri meringkus kepala
neraka ribuan kati menjema bukit tengkorak
kerangka mengerak di antara timbunan tulang
selangka. bulan datang hanya tertawa
untuk dirinya sendiri, seperti malaikat
yang mati penasaran. layar terakhir
sebelum panggung menutup mata
tak lagi kutanyakan asal dan untuk apa
begitu kutahu dia pun tak akan sanggup
membunuhku – cuma sejenis tawa kecil
yang tak mau dan tak mampu menebusku
dengan gerigi apinya pun dia cuma basu
– jelmaan malaikat bebal yang suka lagu
lagu banal sambil meniup tanduk bagal
mendaulat diri sebagai kepala ebstabtion
siap berangkatkan kereta pulang, entah
kemana. rumah-rumah telah luruh
seperti tubuhku yang lumpuh
dalam serpihan-serpihan
akhirnya aku adalah tanggal merah di atas almanak
tahun saka berulang seperti jawa yang busung
lapar dengan perut bergelang. penantian panjang
pada seorang tua janggut panjang sepucat tali-tali
jiwa siti jenar. tangan yang gemetar adalah tanda
kegembiraannya meruap. menjulurkan kamboja
seperti membuka lembaran makam-makamku – aroma
tubuh anak perempuannya – isteriku yang terburai lurus
keretak tanganku
(5)
aku tersihir dalam lautan tanpa tanda
tanda jaman antara sesal dan kutukan, tapi kenangan
akan sumpah kepada angin, matahari dan daun-daun
telah menampar dan melemparku ke tengah perang
baru. sedang kau masih menunggu kedatanganku
seperti bayangan yang setia menjaga pintu tuannya
sebagai anak seorang lurah kesrakat kau cukup tirakat
– mengatasi serapah dan kekosongan, raja dan ratu bekasaan
kalau kau bisa
kawinlah nanti dan akan kukirimkan bingkisan
kentut terindahku. kau pasti mengumpat, aku tahu
tapi, betapa bulan terlalu genit sebagai penerangan
lembu selalu lamban dan mudah lelah. laut pasang
dan ikan-ikan semakin gaib di padas palung sungsang
kawanan yang tersisa pun kian lebur ditelan arus
jaman dan kau makin beruban. matamu lamur
di ujung dzuhur. tinggal aku, bidak hitam papan
kegelapan. jika kau sangsikan rongga-ronggaku
dan kau lihat sebuah suluh empat penjuru
yakini arah kematian cahayanya. di situ
aku yang satu
(6)
datang tak diundang
sebab bukan pemukim, tapi pribumi
sebenarnya lihai menjamu dan berlaku
seperti tamu. pelayan yang membasuh
kakimu di arus gangga sebab aku raja
sangga buana, tiang dunia, pemangku
terang dan kegelapanmu
keculasan dan kecantikan ujaran
yang kau ajarkan hanya baris pembuka
lembar pertama buku-buku yang sudah
kutuliskan. bahkan setelah kau hitamkan
semua halaman, masih kubaca warna
di tiap-tiap ayatku. jika kau rangkum
seluruh kematian telah kutiupkan
kelahiran seutas senyum
042003