Rabu, Juli 23, 2003

lelaki tua di pundak kerbau





Aku berjalan terseret

di atas kerbau tua yang lelah

dilepas tuannya, dari kandang dan jalan

ramai. Menuju negeri bulan yang menjual diri

dengan tarian seribu matahari, dada busung

bergantung-gantung menyapu udara. Sendiri



kuseret jalan ini

Tak kusebut namamu, bagal

binal yang selalu mencari subuhnya gunung

tunggak bambu di jalanku, demi guruh

tepukan para tua dan pemuja buta

perih kegalibanmu menggasang

langkahku

2002



Pulanglah dengan dendam





Bukan ke dalam kamarmu yang penuh buku tanpa debu

menepilah di gericik kali kecil belakang rumah

Atau diamlah dalam pengap panepen



Bukan dengan mata lagi kau baca

lembar-lembar selumbar yang suburkan uban

Tanpa kalimasada. Kecuali farji-farji gasang

dan mitos-mitos sungsang yang menjeratmu

Mimpi-mimpi tentang ajalku mengerat ujung jari



Pulanglah ke lesut tajammu yang lama mengubur diri

sebab rusuk kematianku yang kau sesap cuma seutas

sengat, dan kau tak paham bisa. Tak akan bisa

darahku kau hisap habis hanya dengan dendam

2002



jangan bicara luka



tak perlu kau cerita

bayangan yang tak kau tahu

jangan paksakan tubuhmu

menjelma cakrawala atasku



pernahkah kau bunuh

anakmu sendiri dengan luka

nganga di dada malammu

adakah kau dengar

perih suara dalam rahim

saat tak ada lagi ruang



kau hidup dalam limpahan

tangan-tangan galib bayangan

senyum bulan melingkari kolam

takkan ada ketakutan senyap

pada mimpi-mimpi indahmu

yang dimanjakan jalanan



takkan ada paham

darimu padaku

230703

Senin, Juli 21, 2003

Jika Pagi Datang

Jika pagi datang tanpaku nanti
dan aku tak ada bersaksi, ruam matahari
mengusap matamu. Selirih tangisan arus sungai
sungsang padaku; akan kubakar segala penjuru
kupenggal arus yang suluri paras subuhmu kini
saat kau tanggung dosa-dosa dunia
Semua yang tak bisa kita sebutkan

Seperti halnya aku
betapa bandang kasihmu pasang. Dari tiap saat
kau bunuh bulan dan matahari, aku mengenali
kerinduan itu; Tapi jika pagi datang tanpaku
nanti, cobalah pahami gercik arusmu pergi
Merpati putih sampaikan kabar, seperti hujan
menyeru namaku dan membuka jalan

Ada tertulis, tempatku telah tersedia
dalam petang di taman itu. Dan aku harus tanggalkan
sayap-sayap pelangi. Tapi saat langkahku merayap
pelahan di atas jembatan itu, setitik nyala lelehkan
mata. Merah meraga segala cuaca demi mimpi
yang selalu mengganggu tidurku
Aku tak akan mati

Aku mimpikan gerah gairah, begitu banyak
surat yang masih tersirat. Seperti piala anggur
yang tak kuhendaki, aku meninggalkanmu

Aku sesapi lagi sisa pesta kemarin. Anggur tua
dan cuka paling busuk. Kenangan dan kerinduan
celaka itu. Dan segala kegilaan kita yang jumawa

Kalau bisa kubangkitkan lagi
kemarin yang mati, meski sejenak, kecaplah salam
Kecapi dan zakar melingkar, mungkin juga kujilati
senyummu. Tapi lalu kusaksikan irama serulingmu
melesat tinggi dan tak akan pernah kembali
Demi kekosongan dan kenangan, kinanthi
kelak menghisap ronggaku

Ketika tarian langit
dan bumi meliuk, aku nyanyikan ufuk
Madahkan kidungmu dan sesaat jalanku
menghitam dalam diam. Tapi waktu melayang
jauh menembus jembatan kematian, kucium aroma
mawar rumah kita. Ketika pemilik taman tua itu nanap
menatap bumi dan senyum padaku. Dari kursi besar
kecemasannya

Dia pun berseru; inilah pesta abadi
dan semua yang telah kujanjikan
padamu
Hari ini duniamu tinggal masa lalu
tapi di sini kehidupan mulai
dengan yang baru
Aku berjanji tanpa esok, hanya hari ini
akan jadi jalan terakhir dan selalu
dan jika tiap hari berlaku sama

Tak ada tempat bagi masa lalu

Katanya aku telah menjadi batu karang
begitu teguh dan benar. Meski ada kalanya
kuperbuat kebodohan yang tak mesti kudapat
Tapi kau telah terampuni, bisiknya, dan sekarang
akhirnya, kau bebas. Maka sanggupkah kau datang
dan jamah tanganku. Dan rayakan pesta bersamaku

Maka jika pagi datang tanpaku nanti
jangan arungi betapa jarak kita. Demi waktu
saat kau kenangkan aku. Aku ada di sini
di dalam ruhmu

2002
akulah kutukan





Tak ada lagi rumput

yang lebih hijau dan khusyuk melayani

dan membasuh kakimu, menguapkan subuh

mimpimu ke ujung langit yang kau sulam berulang

dan selalu

: sayat-sayat perih adalah kutukanku



Kulum senyumku

surga makin mengecil sesudah keteduhannya

Waktu kau gangsir rumpun rimbunnya atas senja

kau susun batu-batu menjadi kastil-kastil cahaya

aku pun tetap berjaga dengan seutas senyum

serupa kutukanmu

: lahir dari batu



Lihat bayi merah

yang baru lahir ini, kau kuburkan lagi

Berkali mataku penuh tanya ke luas padang

pasir yang kau lagukan sebagai istana pantai

Bukankah hanya candu dan cendawan

: rebahlah di sini



Meski kau tak datang lebih pagi dari fajar

reguk aku sampai basah kemarau hitammu

tumpas segala musim yang merajam banal lagumu

2002

Minggu, Juli 20, 2003

Lelaki yang hilang





Di antara remang rimbun farjimu yang merangkum bulan

biarkan hilang, nadir di altar rami-rami keabadian. lepaslah

dia yang tak bisa lagi mencumbu kakimu seraya berkata

: demam menggarangku, menyerangga kelangkang lesu



dan biru ini, merajam nadi yang sisa. Sejak kembang

kemuningkan musim berahi di atas nisan. Meski mata

selalu bertanya di daun yang sesekali lewat ditanting

angin, tentang selangka kananmu yang seronok. Tapi

matahari kelewat lelah dan tak sempat tahbiskan

bayangmu



Pelacur kecilku

yang tertinggal dalam busuk delapan penjuru

waktu dan menggelinjang dalam tempurungku, biar kureguk

muram kesenyapan. Seperti ada tertulis, akulah raja pengabdi

Pembasuh kaki yang berjaga ketika sungai itu memandikan

lelaki yang hilang

2002
Testimoni 4 yang tertunda





Untuk lowell dan freedom



Tangan-tangan hantu menggiring langkahku

mencekam lenganku dalam istirah di bibir pantai

Sebuah rumah kayu yang gemetar menunggu angin

laut mengantarkan cuaca yang pekat



Angin juga memancangkan tungkaimu

dalam beku di ujung tikungan laknat kota. Kunang-kunang

merayakan malam lelap yang menelan lolongan mautmu

ketika isteri berlari dan anak-anak menudingmu

serupa boneka salju



Mungkin kau dengar

nada sela antara matahari yang kulup dan surup

bulan bersamadi dan angin dirasuk koma. Ujung telunjukku

yang telah menjentikmu pada tikungan kesekian, akan petikkan

tungkai-tungkai. Kupancangkan sebagai tiang, kugelar racun

tembakau dan alamat, nama-nama yang telah kausebutkan

dan tertunda



Aku berbohong

kalau tak kukatakan bahwa tengah ada pesta untuk kematianmu

mesin-mesin berderak, meski semuanya lindap dalam gudang-gudang

tua, merajang tembakau dan memilinnya dengan amonia. Hanya kamar

hukuman yang menyala, memancung kepala dan merajam tubuhmu

yang lepuh oleh rahasia perjanjianmu dengan maut. Lepaslah

aku menunggang waktu, menjaring petaka atas nama

dan alamatnya

2003

belalang tua hijau daun



Telah kubuka pintu

langit dan anak-anak surga, meniup seruling

kematian. Ada satu bocah yang terus mengharap

embun, demi tarian hijau pupusmu. Di atas senja

yang bungkam



aku menjelma

seribu ketakutan, jika harus berjalan lurus

Kau bukan mata air di atas tanah yang basah

Aku yang mengundang bandang laknat datang

Aku cinta petaka, lumpuh di ujung lidahmu



Dan aku tak lebih bisa

dari belalang tua yang terkapar di bibir malam

Sebelum fajar membakar pagi aku ingin menjadi

pohonan. Tulang-tulangku berlepasan menerima

tiap bulir embun dan senyum di ujung matamu

yang mencekam lumpuhku

bakarlah aku agar menjadi

matahari

2002