Senin, Juli 21, 2003

Jika Pagi Datang

Jika pagi datang tanpaku nanti
dan aku tak ada bersaksi, ruam matahari
mengusap matamu. Selirih tangisan arus sungai
sungsang padaku; akan kubakar segala penjuru
kupenggal arus yang suluri paras subuhmu kini
saat kau tanggung dosa-dosa dunia
Semua yang tak bisa kita sebutkan

Seperti halnya aku
betapa bandang kasihmu pasang. Dari tiap saat
kau bunuh bulan dan matahari, aku mengenali
kerinduan itu; Tapi jika pagi datang tanpaku
nanti, cobalah pahami gercik arusmu pergi
Merpati putih sampaikan kabar, seperti hujan
menyeru namaku dan membuka jalan

Ada tertulis, tempatku telah tersedia
dalam petang di taman itu. Dan aku harus tanggalkan
sayap-sayap pelangi. Tapi saat langkahku merayap
pelahan di atas jembatan itu, setitik nyala lelehkan
mata. Merah meraga segala cuaca demi mimpi
yang selalu mengganggu tidurku
Aku tak akan mati

Aku mimpikan gerah gairah, begitu banyak
surat yang masih tersirat. Seperti piala anggur
yang tak kuhendaki, aku meninggalkanmu

Aku sesapi lagi sisa pesta kemarin. Anggur tua
dan cuka paling busuk. Kenangan dan kerinduan
celaka itu. Dan segala kegilaan kita yang jumawa

Kalau bisa kubangkitkan lagi
kemarin yang mati, meski sejenak, kecaplah salam
Kecapi dan zakar melingkar, mungkin juga kujilati
senyummu. Tapi lalu kusaksikan irama serulingmu
melesat tinggi dan tak akan pernah kembali
Demi kekosongan dan kenangan, kinanthi
kelak menghisap ronggaku

Ketika tarian langit
dan bumi meliuk, aku nyanyikan ufuk
Madahkan kidungmu dan sesaat jalanku
menghitam dalam diam. Tapi waktu melayang
jauh menembus jembatan kematian, kucium aroma
mawar rumah kita. Ketika pemilik taman tua itu nanap
menatap bumi dan senyum padaku. Dari kursi besar
kecemasannya

Dia pun berseru; inilah pesta abadi
dan semua yang telah kujanjikan
padamu
Hari ini duniamu tinggal masa lalu
tapi di sini kehidupan mulai
dengan yang baru
Aku berjanji tanpa esok, hanya hari ini
akan jadi jalan terakhir dan selalu
dan jika tiap hari berlaku sama

Tak ada tempat bagi masa lalu

Katanya aku telah menjadi batu karang
begitu teguh dan benar. Meski ada kalanya
kuperbuat kebodohan yang tak mesti kudapat
Tapi kau telah terampuni, bisiknya, dan sekarang
akhirnya, kau bebas. Maka sanggupkah kau datang
dan jamah tanganku. Dan rayakan pesta bersamaku

Maka jika pagi datang tanpaku nanti
jangan arungi betapa jarak kita. Demi waktu
saat kau kenangkan aku. Aku ada di sini
di dalam ruhmu

2002

Tidak ada komentar: