Minggu, Desember 28, 2003

kau mau matiku

lihat mataku
lebih dalam dari laut
prasangka bebalmu
lihat mataku

tapi aku sangsikan matamu
benarkah itu yang terindah
yang kutahu cuma sepasang mata
bola di balik celana yang kedodoran
goni tali rami dan seribu kutu busuk
kepinding atau bangsat

lalu gatal
mulai kau garuk
dengan air hangat suam
seperti waktu kau tarik
cacing, lubang yang sama

sumur mati, dimana bisa kau dengar
gema suara kertap saat kau buka
dan tutup matamu, biru daun tua
menyarangkan seekor anjing
dalam tarian bumi kelangkang
oya,

kalo ada yang mau diramal pake cara lain, silakan kirim tanggal/bln/thn lair plus copy-an telapak tangan....huehuehuehuehue........ ;;)

perahu kertas kita, yayi

                     : just 4 Uul


tapi ingatkah kau ketika kanak-kanak
kita lepaskan dua perahu di arus kecil
kali belakang rumah dekat sawah

lalu kau tersenyum
seperti mau terus saksikan perahumu
laju terbawa arus yang gericik sampai
seperti kau awasi dari tiang pengintai
kalau-kalau ada batu karang dan rompak
mengalang pandang
sesekali kau lompat ke geladakku
dimana hanya suling gembala, desau angin
dan nafasku yang makin kuning mengiringmu
dari arus buta dan mabuk

kau masih senyum
waktu ujung hidungnya sandar
entah di pelabuhan atau terdampar
tapi kau nyaris sampai ke ujung senja
dari sela akar bakau kau rintihkan tanda
akankah perahuku merapat dekat
dekat senyummu

tapi ingatkah kau perihal perahu-perahu
kita yang hanyut, basah dan tak lagi wujud
di sela akar bakau kertas itu bertanya

:*:*:*

Lolita Compleks

Kau pasti pernah mengenalnya. Dan kalau pun kau belum mengenalnya, kau pasti ingin mengenalnya. Persoalannya beranikah kau mengenalnya? Sebab dengan mengenalnya kau pun akan mengenal dirimu sendiri, eh..... siapa tahu? hahahahahaha.....

Gadis itu namanya Lolita. Tapi kali ini bukan hasil rekayasa genetikanya si gila Freud :) Lolita, teman kita ini, kebetulan punya nama dengan salah satu tokoh kompleksnya si Mumund itu. Sebagai gadis penghuni puri keluarga bangsawan sudah barang tentu Lolita tak boleh sembarangan keluar dari lingkungannya. Lebih-lebih setelah diketahui keluarganya kalau ia sedang menjalin hubungan jalan belakang dengan seorang pemuda biasa dari desa setempat bernama Freddy, maka derita gadis pingitan pun makin terasa di pundaknya :(

Sementara itu ada juga pemuda ningrat(-an) berparap Marcel yang sudah dikenal baik oleh keluarganya dan beberapa kali tembakannya ditolak oleh Lolita. Satu kali Freddy absen dari kunjungan diam-diamnya, beberapa hari Lolita menemukan tempat kencannya tanpa kehadiran Freddy. Dengar-dengar si Freddy sakit keras. Mengetahui ini tentu saja gadis kita bingung tak ada ujung, tiap hari dan malamnya berubah jadi serangga menakutkan dan kecemasan.... Keluar rumah jelas ga mungkin, menunggu sampai pangerannya sembuh rasanya kok ya sudah tak sabar lagi.

Alhasil, datanglah bintang jatuh Marcel dengan sejuta senyum khasnya menawarkan bantuan yang diharapkan dengan sedikit imbalan.......

"Putriku, hamba bersedia menyerahkan seluruh jiwa dan ragaku guna membantumu menemui kekasihmu. Sebab aku bukan orang yang tahan melihat jerat cinta yang begini mencekik. Begini mencekik...." Ujar Marcel persis kuda liar...... asalkan Lolita mau menyumbangkan sedikit tanda gadisnya pada si ular beludak ini......

Demi dorongan rasa yang tak tertahankan lagi untuk segera menemui kekasihnya, demi cinta yang tak terlukiskan oleh tangan-tangan Eva, maka berangkatlah Lolita menjelang ranjang sakit pangerannya diantarkan nafas bintang jatuh Marcel yang berdengusan dan berpeluh-peluh yang berleleran.

Sesampainya Lolita di sisi ranjang Freddy, maka seperti kebanyakan yuyu-kangkang Marcel pun bersijingkat tenang, perlahan tapi pasti. Ular beludak itu pun pergi.

Tak lama ditunggui limpahan kasih dari sang putri tercinta kesehatan dan kebugaran

Freddy pun pulih seperti sedia kala. Namun, rupanya ada yang tak terpulihkan ketika dia mengetahui keadaan putri pujaannya itu telah kehilangan harga di matanya. Berat memang, tapi Freddy lebih suka melakukannya, meski dia tahu Lolita tak mungkin lagi kembali ke dalam puri.

Alih-alih menghilangkan rasa bersalah Freddy melakukan lari estafet dengan Lolita sebagai piala bergilirnya. Dengan tenang Freddy menyerahkan Lolita pada seorang sahabatnya, yakni Edward atau biasa dipanggil Edo. Sebagai sahabat paling dekat Edo merasa perlu membantu Freddy, namun dia juga merasa ada hal yang tak nalar kalau dia sampai menerima Lolita sebagai isterinya.

"Maafkan aku, Lolita..." Ujar Edo sepeninggal Freddy. "Aku punya seorang sahabat lagi......eee, mungkin dia bisa menerimamu di rumahnya...uhh."

Edo pun mengantarkan Lolita ke rumah sahabat yang telah dijanjikan, yakni Chandra. Dengan penuh kehati-hatian, Chandra menerima kedua tamunya. Dengan penuh perhatian dia dengarkan cerita mereka. Dengan mata seperti tersayat selaksa tanda tanya dari retak fajar pertama akhirnya Chandra angkat bicara, "ehmm....baiklah Lolita engkau tinggal di gubug ini dan jadilah penghuni baru dalam rumah hatiku..."



Cerita begituan benernya dah jayus banget, yah:):"> Masalahnya kemudian kloar pertanyaan di pala gw dari antara kelima tokoh utama kita, siapakah yang kata'lo paling bener, bener, rada bener, salah, dan paling salah. Masing-masing tokoh dah dapat tempat, kan? Jawaban itu bakal nunjukin sebagian dari diri lo, kaya gimananya lo.....? Buat yang penasaran jawaban bisa dikirim ke-email gw, biar privacy kejaga. Ok? cunxttm;;)