aku ular rawa
; hyangsitianabrang
seperti anjing meranggas di atas rawa
lahir dari batu dan lumpur – sumbat perahu
dua tiang besar menyangkal dari haluan
menggantungku pada angin buritan
palguna, kelingking putus
dilarang memanah di tanah
merah, saat gerimis ngangkang
langit tirus dan bulan rembang
menggiring ribuan gema
gurun turun menegur
daun-daun
ular gerit
mengetuk pintu langit
tariannya khusyuk berkabut
pohon pengetahuan majal
menunggu maut dajjal
tanpa isyarat
langit muntah
mengaji dinding batu
aku melacur telanjang kaki
kujilati tapak terompah tua
pinjaman tanah merah
berkumur riwayat
tanda tanya
bila fajar datang
atas nama nabi-nabi dalam tubuhku
kerasukan iman berbusa demi bisa
lantakkan bisaku, bakar aku
110503
Sabtu, Agustus 02, 2003
5BAB
kau simpan kerinduan hujan dari fajar
bayanganku, yang tegak lurus
pada bumi? serupa hantu dalam jubahmu
tak tersingkap biar sebentar
batas-batasnya tipis dan kabur
kadang tersenyum mengulum
atau membakar kelakar
lebur di arus sungsang, menjemput
angin puput. sedang pelukis daun
diantaranya pun telah kupenggal
dari tungkainya. meski di luar jendela
hujan tetap membuka payungnya
tergolek di teras dilumuri kabut sendiri
kusangsikan siang sayap-sayapku
mencari jejak di atas decak
– sisa musim bertamu. ah, siapa
berharap tanganku terbuka
tentu bukan binatang yang menyeret
langkah menelikung. dengarkan
nafas di kepak jantungmu, kami
selembar bayangan di balik kain
dan suluh bambu. anginmu gagap
gagu seperti perawan yang baru
dihunjam maut dari aliran darahnya
; permisi aku berpulang
ular-ular di rumahku lebih tulus
dari jubahmu. angin yang hilang
bisa berbalik, meski sebagian
sedang yang kaubuang terlalu sarat
buat kembali. seperti menjaring
dan memilah air dengan tangan
sementara kau terus mengejar
bayanganku, nanti aku pasti
mengempasmu. pada mata
menyala selembar daun
jatuh pun pecah
di depannya
042003
kau simpan kerinduan hujan dari fajar
bayanganku, yang tegak lurus
pada bumi? serupa hantu dalam jubahmu
tak tersingkap biar sebentar
batas-batasnya tipis dan kabur
kadang tersenyum mengulum
atau membakar kelakar
lebur di arus sungsang, menjemput
angin puput. sedang pelukis daun
diantaranya pun telah kupenggal
dari tungkainya. meski di luar jendela
hujan tetap membuka payungnya
tergolek di teras dilumuri kabut sendiri
kusangsikan siang sayap-sayapku
mencari jejak di atas decak
– sisa musim bertamu. ah, siapa
berharap tanganku terbuka
tentu bukan binatang yang menyeret
langkah menelikung. dengarkan
nafas di kepak jantungmu, kami
selembar bayangan di balik kain
dan suluh bambu. anginmu gagap
gagu seperti perawan yang baru
dihunjam maut dari aliran darahnya
; permisi aku berpulang
ular-ular di rumahku lebih tulus
dari jubahmu. angin yang hilang
bisa berbalik, meski sebagian
sedang yang kaubuang terlalu sarat
buat kembali. seperti menjaring
dan memilah air dengan tangan
sementara kau terus mengejar
bayanganku, nanti aku pasti
mengempasmu. pada mata
menyala selembar daun
jatuh pun pecah
di depannya
042003
ringin sirah
hanya merayap di bawah bayang-bayang
malam purnama menjelma kerajaan kami
setelah negerimu menempuh laut
memeluk ombak dengan barisan-barisan
meriam di atas geladak dan kabin
tarian daun-daun bambu telah berganti
dengan bau mesiu dan tembok tinggi loji
ledakan-ledakan serupa hujan
tak kenal siang dan malam
mimpi-mimpi kami pun hangus
disambar ribuan api yang kau lontarkan
para penjaga gerbang telah lumpuh
kehilangan iman pada tangan-tanganmu
mulut-mulut kami tersumpal sampah
sisa dari keramik negeri seruling kuning
yang kau lemparkan di pelataran dan kolam
kolam hiu beradu dengan dendam buaya
kami mengendap di bawah kereta
kecemasan, ketika lampu-lampu membuka
mata. membunuh siang yang terlalu kering
membakar perut anak-anak dan perempuan
mencairkan anjing-anjing berkalung pasar
tembang-tembang berdarah seperti bulan
mawar. kami rayakan pesta begal ini
2003
hanya merayap di bawah bayang-bayang
malam purnama menjelma kerajaan kami
setelah negerimu menempuh laut
memeluk ombak dengan barisan-barisan
meriam di atas geladak dan kabin
tarian daun-daun bambu telah berganti
dengan bau mesiu dan tembok tinggi loji
ledakan-ledakan serupa hujan
tak kenal siang dan malam
mimpi-mimpi kami pun hangus
disambar ribuan api yang kau lontarkan
para penjaga gerbang telah lumpuh
kehilangan iman pada tangan-tanganmu
mulut-mulut kami tersumpal sampah
sisa dari keramik negeri seruling kuning
yang kau lemparkan di pelataran dan kolam
kolam hiu beradu dengan dendam buaya
kami mengendap di bawah kereta
kecemasan, ketika lampu-lampu membuka
mata. membunuh siang yang terlalu kering
membakar perut anak-anak dan perempuan
mencairkan anjing-anjing berkalung pasar
tembang-tembang berdarah seperti bulan
mawar. kami rayakan pesta begal ini
2003
percakapan embun
di lidah daun
atau di rimbun
rumputan
titik-titik embun
membiru berhimpun
teriring hujan yang turun
selarat gerimis
pekat dalam mataku
saat kugangsir kubur
di kaki nenekku
kutanam cicit yang baru
mati oleh rasa ibunya
tangan-tangan besi
langit yang pasi
perihku tak terbagi
betapa embun lupa
memberi setetes sejuk
lewat kerlingnya
052003
atau di rimbun
rumputan
titik-titik embun
membiru berhimpun
teriring hujan yang turun
selarat gerimis
pekat dalam mataku
saat kugangsir kubur
di kaki nenekku
kutanam cicit yang baru
mati oleh rasa ibunya
tangan-tangan besi
langit yang pasi
perihku tak terbagi
betapa embun lupa
memberi setetes sejuk
lewat kerlingnya
052003
kau yang terlupa
kau menggantungku di payung
barisan warung pinggir jalan
aku serupa ular beludak
tersumbat
dalam botol plastik
nanti aku lepas
menjemputmu dengan cecapan
lumat bibirmu yang selalu menuntun
buat menutup pintu kamarku
; sebab kita mengerak di antara alang
selalu ingatan kau tawarkan
mencatatnya sebagai mimpi samun
buka jendela kamar, biarkan sinar pagi
merasuk kabar bagi matamu dari dirinya
sendiri lewat bangkai kacamu
atau siang datang
membawakan secangkir kopi dan api
tentang mataku, lurus ke dalam
lihat ekornya menari-nari hangatkan
malam dan hari-hari nanti
032003
kau menggantungku di payung
barisan warung pinggir jalan
aku serupa ular beludak
tersumbat
dalam botol plastik
nanti aku lepas
menjemputmu dengan cecapan
lumat bibirmu yang selalu menuntun
buat menutup pintu kamarku
; sebab kita mengerak di antara alang
selalu ingatan kau tawarkan
mencatatnya sebagai mimpi samun
buka jendela kamar, biarkan sinar pagi
merasuk kabar bagi matamu dari dirinya
sendiri lewat bangkai kacamu
atau siang datang
membawakan secangkir kopi dan api
tentang mataku, lurus ke dalam
lihat ekornya menari-nari hangatkan
malam dan hari-hari nanti
032003
kadish
doa kematian batu ratapan
Aku menangis
demi kematianmu yang sia-sia dan tak henti-henti
darah itu menggenangi lengan-lengan para rahib
yang haramkan taring dan lendir, marus dan susu
busuk, penuh senyum dan santun
menjamah kepalaku yang basah
Sebab kematianmu yang muda dan manis
bukan oleh tanganku. Aku menyesal
sungguh
2002
doa kematian batu ratapan
Aku menangis
demi kematianmu yang sia-sia dan tak henti-henti
darah itu menggenangi lengan-lengan para rahib
yang haramkan taring dan lendir, marus dan susu
busuk, penuh senyum dan santun
menjamah kepalaku yang basah
Sebab kematianmu yang muda dan manis
bukan oleh tanganku. Aku menyesal
sungguh
2002
bocah jaring laba-laba
Buat lendir berjalan
Kau tampar aku demi cinta
Pada pelarianmu yang ketakutan
; tugas kita hanya mengapur
sambil kau lemparkan
serpihan kaca yang tak bisa kau pegang
lagi dalam bilik kemuramanmu
bocah itu tertawa sekeras matahari
mengunyah pagi, berlarian kencang telanjang
penuh lukisan kematian dan malam. Kau memburu
lebih cepat dari setan, sambil memaki terus
; bantu aku memasang celana kodoknya
kau berlari
lebih kuat lagi, menuju negeri-negeri berkabut
bersimpang jalan
kau hujani langit
yang makin menguning dan tak memberi waktu
meski untuk sekedar permainan, sepanjang kemarau
laknatmu
; sembilan matahari tak memberi apa-apa
maka kau tumpahkan seluruh duniamu pada bocah
yang makin muram itu, seburam kecantikanmu
kau ludahi aku
dengan keangkuhan yang kisut dan nujum
tanpa matahari menggarang langkah maut
menggiringmu
; kau lihat bocah itu, bocahku
satu musim benar
serapahmu. Kenang aku, kenanglah ludahmu
agar engkau tahu bocah-bocah cuma mencecap
dan menelan lendirmu demi menjadi bayangan
seraya bertanya pada serpihan kaca yang telah
mengkhianatimu
2002
Buat lendir berjalan
Kau tampar aku demi cinta
Pada pelarianmu yang ketakutan
; tugas kita hanya mengapur
sambil kau lemparkan
serpihan kaca yang tak bisa kau pegang
lagi dalam bilik kemuramanmu
bocah itu tertawa sekeras matahari
mengunyah pagi, berlarian kencang telanjang
penuh lukisan kematian dan malam. Kau memburu
lebih cepat dari setan, sambil memaki terus
; bantu aku memasang celana kodoknya
kau berlari
lebih kuat lagi, menuju negeri-negeri berkabut
bersimpang jalan
kau hujani langit
yang makin menguning dan tak memberi waktu
meski untuk sekedar permainan, sepanjang kemarau
laknatmu
; sembilan matahari tak memberi apa-apa
maka kau tumpahkan seluruh duniamu pada bocah
yang makin muram itu, seburam kecantikanmu
kau ludahi aku
dengan keangkuhan yang kisut dan nujum
tanpa matahari menggarang langkah maut
menggiringmu
; kau lihat bocah itu, bocahku
satu musim benar
serapahmu. Kenang aku, kenanglah ludahmu
agar engkau tahu bocah-bocah cuma mencecap
dan menelan lendirmu demi menjadi bayangan
seraya bertanya pada serpihan kaca yang telah
mengkhianatimu
2002
serampang tigadua
Semak memudar, kering musim ini lebih sepi
dari kematian, kubur batu dan tubuh angin diam
selindap badan awan gelapkan langit, menawan
lidah-lidah yang membakar belukar. Lalat hijau
berdengung dalam kepalamu, tikus air yang laju
memburu jalan panjang lata itu, menyeret mimpi
mimpi legam perawan yang lelah terhisap pasi
bulan, pelacur yang memerak dalam kolam
paraumu. Jari-jarimu geletaran menunggu
batu hitam itu retak dan lahirkan masa silam arak
arakan mendung, menjelma bangsa kaum barzanzi
kau pencipta kesangsian yang menjurus segala tanya
pada bayangmu sendiri, jubah babi bulu-bulu lesi
muntahan sisa pesta sepanjang malam para pemabuk
lolong srigala tersihir seruan rahib-rahib jadi kawanan
anjing pasar, atas namamu sendiri Kunyalakan bara itu
menggarang kedalaman kerak kepalamu yang tak mungkin
menyentuh kaki yang begini tegak memaku, batu penjuru
langit. Aku tajwid, waktu kau bisikkan selamat malam
pada bulan yang tak lagi mengintip bibir rahim takbir
Aku udara, nanti bersaksi jika bayangan ratib berganti
jasad wong agung yang telah lelah dan terlupa bisa
menakutkan seekor ular hijau
takbirkedua, 2002
Semak memudar, kering musim ini lebih sepi
dari kematian, kubur batu dan tubuh angin diam
selindap badan awan gelapkan langit, menawan
lidah-lidah yang membakar belukar. Lalat hijau
berdengung dalam kepalamu, tikus air yang laju
memburu jalan panjang lata itu, menyeret mimpi
mimpi legam perawan yang lelah terhisap pasi
bulan, pelacur yang memerak dalam kolam
paraumu. Jari-jarimu geletaran menunggu
batu hitam itu retak dan lahirkan masa silam arak
arakan mendung, menjelma bangsa kaum barzanzi
kau pencipta kesangsian yang menjurus segala tanya
pada bayangmu sendiri, jubah babi bulu-bulu lesi
muntahan sisa pesta sepanjang malam para pemabuk
lolong srigala tersihir seruan rahib-rahib jadi kawanan
anjing pasar, atas namamu sendiri Kunyalakan bara itu
menggarang kedalaman kerak kepalamu yang tak mungkin
menyentuh kaki yang begini tegak memaku, batu penjuru
langit. Aku tajwid, waktu kau bisikkan selamat malam
pada bulan yang tak lagi mengintip bibir rahim takbir
Aku udara, nanti bersaksi jika bayangan ratib berganti
jasad wong agung yang telah lelah dan terlupa bisa
menakutkan seekor ular hijau
takbirkedua, 2002
Senin, Juli 28, 2003
cintai dee dengan cinta
untuk Jule
aku semburkan mantra agar bermimpi menjelma dee. tapi semburat tarian asing menggugahku dalam tenunan kata-kata dari kotamu
ada yang menggeliat dari dalam mulut. kukorek dengan lidah, lompat satu di ubin. masih ada geliat lagi di sela gigi geraham. kukorek dan semburkan, sekumpulan belatung menari di situ
mataku seribu bintang. cahaya berpendaran melebihi sembilan matahari. tarian dada terbuka berpusar-pusar. seperti baling-baling kincir angin. gadis penjual susu berburu dengan angin dan nafasmu
kulesakkan pukulan paling hina. batoknya penyok dan kepalaku menjadi bulat telur dalam cuka. lonjong serupa lontong. kulesakkan kepala dungu itu ke dalam botol. maka selaksa lalat hijau berhamburan dari dalamnya
lontong-lonjongku leleh di atas air, dalam botol. pesan dalam botol, menguning oleh leleran berlendir. seperti ngilu kaca-buram yang tersembur semburat tanda pengetahuan
lalu johny walker jalan sempoyongan dalam kepalaku. seperti jacko yang mau jadi janggo di atas bulan purnama. melayang terbawa asep sunarya yang menggolekkan wayang-wayangnya dengan asap nirvana
telingaku gasing. adalah seribu lebah dalam mantra tanpa jeda. aku pernah berharap punya segudang madu memang, tapi bukan begini caranya. ribuan lebah mencuri dengar setiap yang kudapatkan. menjelma halimun bernama gebalau terbantun
dalam perut terasa mual. lebih muak dari kematian saat jandaku menangis sebab tak ada polis. berguncang-guncang bukannya kenyang. lambung digelegak kebusukan terlaknat.
tubuhku pecah oleh semburan cermin dalam kamar. ledakan tanpa tuan telah melantakkannya dalam serpihan. kulitku dirajam malaikat paling laknat, kaca kusam berkhianat dan tubuhku makin nyerpih. menjelma perca dan tanda tanya
menggodaku saat terbangun kedua kalinya. adakah aku baru saja bermimpi sebagai serangga. atau kini aku serangga yang bermimpi serupa manusia
0703
untuk Jule
aku semburkan mantra agar bermimpi menjelma dee. tapi semburat tarian asing menggugahku dalam tenunan kata-kata dari kotamu
ada yang menggeliat dari dalam mulut. kukorek dengan lidah, lompat satu di ubin. masih ada geliat lagi di sela gigi geraham. kukorek dan semburkan, sekumpulan belatung menari di situ
mataku seribu bintang. cahaya berpendaran melebihi sembilan matahari. tarian dada terbuka berpusar-pusar. seperti baling-baling kincir angin. gadis penjual susu berburu dengan angin dan nafasmu
kulesakkan pukulan paling hina. batoknya penyok dan kepalaku menjadi bulat telur dalam cuka. lonjong serupa lontong. kulesakkan kepala dungu itu ke dalam botol. maka selaksa lalat hijau berhamburan dari dalamnya
lontong-lonjongku leleh di atas air, dalam botol. pesan dalam botol, menguning oleh leleran berlendir. seperti ngilu kaca-buram yang tersembur semburat tanda pengetahuan
lalu johny walker jalan sempoyongan dalam kepalaku. seperti jacko yang mau jadi janggo di atas bulan purnama. melayang terbawa asep sunarya yang menggolekkan wayang-wayangnya dengan asap nirvana
telingaku gasing. adalah seribu lebah dalam mantra tanpa jeda. aku pernah berharap punya segudang madu memang, tapi bukan begini caranya. ribuan lebah mencuri dengar setiap yang kudapatkan. menjelma halimun bernama gebalau terbantun
dalam perut terasa mual. lebih muak dari kematian saat jandaku menangis sebab tak ada polis. berguncang-guncang bukannya kenyang. lambung digelegak kebusukan terlaknat.
tubuhku pecah oleh semburan cermin dalam kamar. ledakan tanpa tuan telah melantakkannya dalam serpihan. kulitku dirajam malaikat paling laknat, kaca kusam berkhianat dan tubuhku makin nyerpih. menjelma perca dan tanda tanya
menggodaku saat terbangun kedua kalinya. adakah aku baru saja bermimpi sebagai serangga. atau kini aku serangga yang bermimpi serupa manusia
0703
bapak satu menit
minggu lalu bapak menonjok mataku dengan segulung koran. kubuka di perutnya ada cerita tentang aliran jalan damai. kumpulan orang-orang dungu dari negeri mata tersilet. kulihat gambar-gambar menangis; anak yang busung, ibu tersenyum murung, bapak kena kampak di tempurung kepalanya. burung terus berjemur di ranting-ranting. daun-daun meranggas.
tapi setiap yang tersungkur di depan pintu aliran jalan damai adalah harapan tentang hidup yang jumawa di atas samun pikiranku. dan yang teronggok di pintu belakang rumah nujum itu adalah rumput-rumput tanpa warna dan menunggu terbakar matahari.
aku tengadah pada langit yang berkumis tipis itu. bapak tak lagi berdiri di kelas. tak lagi jenak di kursi para wali. bapak juga bukan dewa; mati dalam senyuman. aku lihat bapak mengetuk-ketuk pintuku. mondar-mandir di rumah sambil mengacung-acungkan dupa. kubaca dalam buku bergambar dupa itu bercampur dengan candu dan cendawan. aku baca lagi buku bergambar seperti tulisan bapak di koran minggu lalu.
050603
minggu lalu bapak menonjok mataku dengan segulung koran. kubuka di perutnya ada cerita tentang aliran jalan damai. kumpulan orang-orang dungu dari negeri mata tersilet. kulihat gambar-gambar menangis; anak yang busung, ibu tersenyum murung, bapak kena kampak di tempurung kepalanya. burung terus berjemur di ranting-ranting. daun-daun meranggas.
tapi setiap yang tersungkur di depan pintu aliran jalan damai adalah harapan tentang hidup yang jumawa di atas samun pikiranku. dan yang teronggok di pintu belakang rumah nujum itu adalah rumput-rumput tanpa warna dan menunggu terbakar matahari.
aku tengadah pada langit yang berkumis tipis itu. bapak tak lagi berdiri di kelas. tak lagi jenak di kursi para wali. bapak juga bukan dewa; mati dalam senyuman. aku lihat bapak mengetuk-ketuk pintuku. mondar-mandir di rumah sambil mengacung-acungkan dupa. kubaca dalam buku bergambar dupa itu bercampur dengan candu dan cendawan. aku baca lagi buku bergambar seperti tulisan bapak di koran minggu lalu.
050603
Dieu Ecrit Droit
Aux Lignes Courbes
tuhan menulis sajak di atas garis-garis berliku. seperti remah-remah stupa, relief-relief para pencuri. semak-semak bergesekan di kuta, lukisan-lukisan luka, matahari hitam bersayap perawan pemilin rambut.
seperti ukiran tak bernafsu di pinggang-pinggang kebaya. kwawung, parang rusak, parang jejeg, tak bermotif. lelaki jongkok menjulur zakarnya. tugu-tugu gagu kehilangan nama. seperti tuhan yang tak punya muka. sibuk mencari diri di dalam kolam, menggenang di belahan kaki yang tertawa. seperti para penghasut yang tetap bersiul, lagu-lagu mati di pajangan-pajangan jembut.
kepala ratu bekasaan yang kosong dipenuhi raja jin dengan nama-nama. malam jadi bising, tikus-tikus nungging. berlari setelah desing, selepas pesing. bulan bergasing jadi petruk seperti ratu buta. jadi gareng yang suka menggoreng. jeritan-jeritan senyap berdarah, seperti lukisan tercabut dari pinggang. jongkok menggesek gathel bengkak. seperti tuhan mati selepas menulis bayangan sendiri 052003
Aux Lignes Courbes
tuhan menulis sajak di atas garis-garis berliku. seperti remah-remah stupa, relief-relief para pencuri. semak-semak bergesekan di kuta, lukisan-lukisan luka, matahari hitam bersayap perawan pemilin rambut.
seperti ukiran tak bernafsu di pinggang-pinggang kebaya. kwawung, parang rusak, parang jejeg, tak bermotif. lelaki jongkok menjulur zakarnya. tugu-tugu gagu kehilangan nama. seperti tuhan yang tak punya muka. sibuk mencari diri di dalam kolam, menggenang di belahan kaki yang tertawa. seperti para penghasut yang tetap bersiul, lagu-lagu mati di pajangan-pajangan jembut.
kepala ratu bekasaan yang kosong dipenuhi raja jin dengan nama-nama. malam jadi bising, tikus-tikus nungging. berlari setelah desing, selepas pesing. bulan bergasing jadi petruk seperti ratu buta. jadi gareng yang suka menggoreng. jeritan-jeritan senyap berdarah, seperti lukisan tercabut dari pinggang. jongkok menggesek gathel bengkak. seperti tuhan mati selepas menulis bayangan sendiri 052003
Bon Vivant
Buku-buku menjadi anggur enak, rokok-rokok kelas satu dan dada indah perempuan. Duduk bersafari senyum tipis dan rambut tersisir rapi. Kulihat kau di atas majalah anak-anak nakal; bir di atas meja, rokok di tangan, tatapan mata jauh terpancar bulgaria.
Lelaki menjelma budak yang selalu terpesona. Tak pernah berdaya di depan tubuh-tubuh biola. Bergesekan dengan dada-dada ranum. Onggokan anggur rimbun berjuntai. Berpindah dari bangku sekolah menengah. Cinta adalah payudara anak tetangga sebelah. Mariyuana yang mengajarkan bulgaria.
Vladimir menembakkan senyum masygul, kau tak menimpal. Attanasov menambal putting-putting lencing, kau pun manimbal di gelas-gelas anggur. Rambut terselip di pinggang piala-piala mariyuana. Perbatasan yang terpesona, bulagria terpana, anak-anak belajar menyamun asap-asap nirvana. Kau senyum mati di atas meja.
052003
Buku-buku menjadi anggur enak, rokok-rokok kelas satu dan dada indah perempuan. Duduk bersafari senyum tipis dan rambut tersisir rapi. Kulihat kau di atas majalah anak-anak nakal; bir di atas meja, rokok di tangan, tatapan mata jauh terpancar bulgaria.
Lelaki menjelma budak yang selalu terpesona. Tak pernah berdaya di depan tubuh-tubuh biola. Bergesekan dengan dada-dada ranum. Onggokan anggur rimbun berjuntai. Berpindah dari bangku sekolah menengah. Cinta adalah payudara anak tetangga sebelah. Mariyuana yang mengajarkan bulgaria.
Vladimir menembakkan senyum masygul, kau tak menimpal. Attanasov menambal putting-putting lencing, kau pun manimbal di gelas-gelas anggur. Rambut terselip di pinggang piala-piala mariyuana. Perbatasan yang terpesona, bulagria terpana, anak-anak belajar menyamun asap-asap nirvana. Kau senyum mati di atas meja.
052003
riwayat kasim
gebalau dingin suara-suara samun itu menggigir di tubir-tubir ruhku lewat pecahan cahaya yang leleh dari kelamin para penyamun. dikangkangi lelaki yang menjelma bapak di tikungan selindap pertigaan itu aku hanya bisa mengerakkan korek merah jambu dalam permainan farji gaun pengantin ibu. di langit yang membius dengan seribu rimbun rambut-rambut lembut dari telapak nganga aku dimuntahkan oleh anjing berdarah pisau lipat berlapis mantra penjinak zakar bergelibatan antara tiang-tiang bendera
aku lumer serupa setan-setan mungil berloncatan dalam hasrat mengatasi ketakutan habsi, menanting gumpalan kapas bersarung sutra piningit. antrian kucing pasar seperti ingin merayakan kelahiranku dengan onani bersama teriring madah kelana - syair-syair berdarah - dan sunatan masal. tak ada tuhan yang bersamadi melebihi lendir dan kilatan-kilatan sisikku. bulan pucat, menyimpan cemburu yang lurus pada surat-surat kawat. padahal selalu ada hati untuk pemesan jantung dalam pesta tempik setan-setan berjubah keniscayaan
semoga jalan-jalan tak lagi berlari saat tanganku turun dan menjejalkan pecahan botol kosong di gelambir susu ibu dan terkeratlah kertak tulang selangkamu oleh bias semburan nafasku yang lembur rangkai anusmu seperti lukisan-lukisan telinga patah berbalut kedunguan cantik dari negeri kincir angin. meski angin tak akan pernah lewat untuk sekedar melepas pemberangkatanmu menuju tonggak-tonggak paloma kita yang nyeringai angkuh. mari masuk ke rangka rengat dan karatku, maka kau akan temui wujudmu yang paling kasim
052003
gebalau dingin suara-suara samun itu menggigir di tubir-tubir ruhku lewat pecahan cahaya yang leleh dari kelamin para penyamun. dikangkangi lelaki yang menjelma bapak di tikungan selindap pertigaan itu aku hanya bisa mengerakkan korek merah jambu dalam permainan farji gaun pengantin ibu. di langit yang membius dengan seribu rimbun rambut-rambut lembut dari telapak nganga aku dimuntahkan oleh anjing berdarah pisau lipat berlapis mantra penjinak zakar bergelibatan antara tiang-tiang bendera
aku lumer serupa setan-setan mungil berloncatan dalam hasrat mengatasi ketakutan habsi, menanting gumpalan kapas bersarung sutra piningit. antrian kucing pasar seperti ingin merayakan kelahiranku dengan onani bersama teriring madah kelana - syair-syair berdarah - dan sunatan masal. tak ada tuhan yang bersamadi melebihi lendir dan kilatan-kilatan sisikku. bulan pucat, menyimpan cemburu yang lurus pada surat-surat kawat. padahal selalu ada hati untuk pemesan jantung dalam pesta tempik setan-setan berjubah keniscayaan
semoga jalan-jalan tak lagi berlari saat tanganku turun dan menjejalkan pecahan botol kosong di gelambir susu ibu dan terkeratlah kertak tulang selangkamu oleh bias semburan nafasku yang lembur rangkai anusmu seperti lukisan-lukisan telinga patah berbalut kedunguan cantik dari negeri kincir angin. meski angin tak akan pernah lewat untuk sekedar melepas pemberangkatanmu menuju tonggak-tonggak paloma kita yang nyeringai angkuh. mari masuk ke rangka rengat dan karatku, maka kau akan temui wujudmu yang paling kasim
052003
Mak Menikmati Kehujanan
Lebih baik kau tak bilang pada siapa pun, kecuali Tuhan. Mak, Mak dari ibumu ini telah mati. Jangan menangis, sebab tangismu tak akan menghentikan apa pun. Tangisan tak akan melahirkan apa pun.
Tuhan,
Aku seorang bocah tujuh tahunan. Lahir dalam bedeng kontrakan. Besar dan tidur di jalanan. Tiap hari aku bermain sepanjang trotoar, biasanya sepulang sekolah. Tiap malam kuhabiskan waktu sebelum tidur dengan mas-mas dan mbak-mbak yang sekolah di dalam sana. Mereka suka ngobrol soal cerita-cerita dan tulisan-tulisan lainnya. Mereka itu memang keranjingan tulisan. Kalau sudah ngomong soal tulisan bisa lupa makan. Memang, mereka tidak pernah makan di warung kami selain satu dua gelas kopi pahit. Semuanya begitu, dan semuanya baru bisa aku ikuti tentu saja sepulang mengaji. Oya Tuhan, setiap sore aku pergi mengaji. Guru ngaji bilang, kalau ada yang membuat susah berdoalah. Sebab Tuhan Maha Pemurah.
Dua minggu lalu, Mak sibuk bersih-bersih. Terpal plastik coklat itu digulung dan diturunkan dari atas rangka kayu pelindung warung. Diikat dan dicampur kumpul kompor, panci, dan lainnya.
”Mak, kita mau pulang ya?” Harap-harap cemas aku. Senang rasanya, membayangkan pulang kampung naik kereta.
”Nggak. Sudah, kamu main-main saja sana!” Mak terus menggosok gerobak kami dengan gombal basah. ”Tapi jangan jauh-jauh. Jangan turun ke jalan, jangan masuk-masuk kampus, nanti bikin susah ibumu.”
Aku diam, bingung melihat Mak marah-marah. Kuambil karet ban pengasih Pak Bur, mau kujadikan sabuknya Satria Baja Hitam1. Tapi mataku tak bisa dibohongi, berkedip-kedip tak mengerti. Semalam Mak memang kelihatan susah sehabis dipanggil Pak Bo, mas yang sekolah di dalam sana dan biasa nongkrong di warung juga. Pak Bo jualan buku di ujung jalan. Tapi, kalau Mak susah karena Pak Bo, kenapa yang kena marah aku.
Tiga kawanan itu Pak Bo, Pak Lo, dan Wak Ban, lewat depan warung. Mau mbongkar kiosnya Pak Bo mungkin. Orang-orang lain sudah pada mbongkari warungnya sendiri-sendiri tadi malam. Kelihatannya Pak Bo kelewat sibuk ngurusi orang lain, sampai lupa kiosnya sendiri.
Selagi tiga orang itu lewat tahu-tahu ada yang nyanyi.
”Semua tak sama. Tak pernah sama…” Tangan Mak masih menggosok gerobaknya. ”Apa, Pak? Lihat-lihat apa?”
Mak meringis, barisan giginya melongo sebagian. Tiga orang itu senyam-senyum dan saling adu pandang sebentar.
”Ah, Emak bisa saja…” Bertiga itu mengingatkan pada hormat pagi di kelasku.
Mereka pun beriringan lagi menuju pojok jalan itu. Juga Mak, terus saja dengan lagunya. Heran, darimana Mak tahu lagu orang-orang yang suka genjrang-genjreng di bangku warung itu? Nggak tahulah, yang penting Mak sudah bisa nyanyi. Aku pun ngeluyur pergi.
”Daripada sakit hati. Lebih baik sakit gigi ini.” Mak masih berlagu. Padahal kalau sakit gigi betulan, aku yang sering kena getahnya. Aku lari sekencang-kencangnya.
Mula-mula main di pinggir jalan. Lama-lama bosan juga, melihat banyak tampang menahan berak di mana-mana. Aku lari ke dalam, siapa tahu ada mbak-mbak ayu. Aku ingat setiap pulang sekolah, di jalan suka ada tukang becak yang nyanyi lagu jawa edan. Begini….
Mbakyu, Mbakyu, bakul jamu
Sampeyan meriki kulo tum…basi…2
Sampai di tum itu biasanya suka ada yang nyahuti jadi tumpaki3. Ah, dasar langgam4 jawa edan. Aku pernah dimarahi Bu Guru Bahasa Daerah gara-gara nyanyi lagu itu. Lha sumpah, Gusti Allah jadi saksi, aku ini tidak bisa nyanyi. Salah sendiri nyuruh aku nyanyi. Aku kan cuma menirukan yang pernah kudengar.
Siang langit terang. Aku main di dalam puas-puas. Lari ke sana, lari ke mari. Kadang jadi Satria Baja Hitam, kadang jadi Power Rangers5. Pokoknya, berubah! Berubah! Persis ular yang pintar ganti-ganti kulit. Ssst….mas-mas bilang itu panggilan buat Pak Lo. Intrik, kata mereka panggilan itu namanya intrik. Aku? Mana tahu yang begitu-begitu. Aku kan cuma pingin jadi jagoan di jalan depan itu, kalau besar nanti.
Kalau jadi jagoan, Tuhan, aku mau pukul orang-orang yang suka mintai uang Mak buat mabuk-mabukan di tikungan seberang sana. Aku hajar mereka, sampai nggak bisa apa-apa lagi. Sampai tangannya patah, kakinya patah. Kepalanya…kuinjak-injak sampai remuk. Darahnya kuminum, seperti lakon-lakonnya wayang kulit. Bapak pernah ngajak nonton wayang kulit sambil naik becak. Bapak yang genjot, aku yang kasih aba-aba. Tuhan, kecil-kecil begini aku ketua kelas lho, jadi biasa kasih aba-aba.
Sore langit seperti mau jatuh. Petir dan geledeknya menyambar-nyambar. Aku lari pulang ke warung, sekencang-kencangnya. Makin kencang makin baik. Terus lari sambil menyanyi lagu kesukaanku dalam hati.
Naik kereta tut-tut, tut tut tut
Siapa hendak turut
Kesambar putra petir
Kepalanya jadi opak gambir
Pak Lo pernah cerita soal Ki Ageng Selo yang jago nangkap petir. Lantas menurunkan lagu tadi. Pak Lo juga sudah mengajariku lagu penjinak petir itu. Aku tidak tahu, tapi percaya saja. Siapa tahu Pak Lo jelmaan petir itu sendiri, kata orang memang begitu. Petir di tangan Ki Ageng Selo jadi ulo alias ular besar.
Angin meliung-liung, lariku meliuk-liuk. Takut juga kalau warungnya Mak rubuh karena angin begini besar. Aku lari lebih kencang. Napasku sudah sengal satu-satu. Acara bongkar-bongkaran itu belum selesai. Tapi, warung Mak sudah tak ada lagi. Mak dan Ibu mau mendorong warung kami ke seberang jalan.
”Mak, kita jualannya pindah ke sana ya?”
”Nggak. Sudah, sudah. Diam saja di situ!”
Aku bingung lagi. Mak masih marah juga, padahal sudah bisa nyanyi tadi. Aku cuma bisa diam akhirnya. Sehabis membereskan semuanya, Mak mengajak kami pulang ke bedeng kontrakan. Semalaman itu aku mimpi ketemu ular besar memakan kayu-kayu dan gerobak kami. Ular itu keluar dari banjir yang membandang warung kami juga.
Besoknya, pagi-pagi Mak mengajak kami keluar lagi. Bertiga kami beli nasi bungkusan. Bertiga kami makan di bekas warung Mak. Masih sisa satu bangku, kami berdempet-dempetan di situ.
”Mak, nanti kita pulangnya naik kereta, ya?”
”Ya.”
”Buk, nanti aku dibelikan mainan baru, ya?”
”Hhh.”
Diam lagi. Semuanya serba kaku. Mungkin Mak dan Ibu sedang sakit perut sehabis sarapan ini tadi. Aku tidak tahan, mau lari tapi tanganku dicekal Mak.
”Jangan! Nanti kamu diculik orang.” Mata Mak sebesar telor ceplok. ”Hhh. Itu mereka datang.”
Aku takut setengah mati. Dari ujung jalan jauh di sana datang serombongan tukang culik itu. Ada yang jalan, ada yang naik truk. Ah, mereka pakai baju seragam. Seperti seragamku kalau hari Jum’at. Ada polisinya juga, ada tentaranya juga, ada apa ini? Aku ketakutan hampir mati.
Muka mereka lebih ngotot dari muka orang-orang warungan. Tetangga-tetangga warung berlarian ke sana-sini. Dari balik pohon di depan bekas warung aku lihat mereka mengacung-acungkan tongkat kayu. Memukuli dan merubuhkan gerobak-gerobak yang ketinggalan. Gerobak lama-baru yang sudah rubuh diinjak-injak, sampai kacanya berhamburan. Sisanya diangkut dalam truk. Ada juga yang marah-marahan dengan orang-orang.
Sampai di seberang jalan tempat Mak dan orang-orang lain menaruh gerobaknya kemarin, mereka itu otot-ototan lagi dengan Pak Her. Kepala keamanan sekolah di dalam itu tak kalah sengit ngototnya, sambil menuding-nuding ke dalam sana.
Tak lama mereka pun selesai otot-ototan. Semua bubar sendiri-sendiri. Orang-orang seragaman itu naik truk lagi. Orang-orang warungan berbisak-bisik tak karuan. Aku bingung dan ketakutan. Takut kalau warungnya Mak ikut diangkut. Takut kalau Mak tak bisa jualan lagi. Takut kalau aku tak dibelikan mainan lagi. Uang hasil tarikan becak Bapak tak pernah kulihat selembar pun. Aku bingung dan takut, dan lebih takut lagi kalau ingat tampang-tampang seram berseragam tadi itu.
Sore lewat, tanpa obrolan dan genjrengan. Pak Bo dan orang-orang sibuk berkasak-kusuk di belakang pagar sekolahan besar ini. Mak tidak datang, mungkin sudah mulai sakit gigi. Dalam diam mukanya ditekuk. Kalau sudah begitu leher keriputnya jadi hilang. Semuanya hilang malam ini. Ya Tuhan, aku pun tak berangkat mengaji sore tadi.
Dua hari sejak itu kami tunggui saja bekas warung ini. Mak, Ibu, dan aku saling diam-diaman. Jidat Mak berkerut-kerut lebih banyak lagi. Mata Ibu melihat ke depan, jauh sekali. Mereka mirip orang yang baru marahan. Aku terjepit di tengah-tengahnya. Aku tak berminat mengganggu mereka, atau melakukan apa pun. Tapi lucu juga, kami jadi seperti anak kecil semua. Sekalipun tetangga kanan-kiri mulai klesak-klesik mencari cara supaya bisa buka lagi, Mak dan Ibu seperti tak mau ambil perduli. Dua hari itu benar-benar kami diamkan hanya buat diam.
Hari ketiga, Mak mulai coba-coba jualan lagi. Warung dibuka kecil-kecilan. Satu meja, satu kursi empuk bekas punya tetangga, dua bangku dan seperangkat alat dapur. Beberapa tetangga juga begitu. Beberapa langganan mulai datang. Tapi langganan lain yang sibuk ngurusi soal buka lagi masih jarang duduk di sini. Apalagi Pak Bo yang jadi ketua rombongan kami, kata Mak, dia pasti lebih sibuk dari sibuk.
Aku bisa main-main lagi, lari-lari lagi. Bisa nyanyi juga, lagu kesukaanku juga. Tapi, tetap takut-takut. Nggak seberani kemarin-kemarin memang. Tapi syukurlah, Ya Gusti Allah, aku masih sempat bernyanyi. Soal Mak? Di sela-sela giginya yang masih tersisa Mak seperti sudah lupa buat menyanyi. Mak sudah biasa senyam-senyum lagi, biasa marah-marah lagi, dan bergunjing lagi. Seperti barisan gigi orang tua cerewet itu, semua sudah mulai plong lagi.
Seminggu lewat kami berdagang kecil-kecilan, sembunyi-sembunyi. Kata Mak, kalau sewaktu-waktu ada yang datang lagi kita semua mesti siap. Benar juga omongan Mak itu. Satu kali datang serombongan orang lagi. Mereka menanyai Mak, Ibu, dan orang-orang lain satu-satu. Sekarang bukan cuma soal warung yang harus pergi. Sekarang kami semua harus pergi dari sini.
”Kenapa mereka tidak tanya aku?”
”Belum waktunya. Kamu belum punya KTP.”
Aku bingung lagi. Bukan cuma mataku yang berkedip-kedip terus. Kepalaku pusing bukan kepalang. Pusing sepanjang jalan pulang. Kami pulang lagi. Mak sebenarnya sudah bilang kalau KTPnya ketinggalan di rumah, tapi orang-orang itu tak mau percaya. Mak minta tempo buat mengurusnya, mereka bilang Mak musti pulang. Kami musti pulang. Mak seperti mau bilang sesuatu waktu tangan salah seorang dari mereka mendorongnya. Dan kami pun pulang.
Mak nangis sepanjang jalan. Matanya yang sebesar telor ceplok itu tinggal sebengkol jengkol yang basah terus-terusan. Ibu ikut-ikutan nangis juga. Aku tidak tahu mau apa, ikut nangis saja. Bertiga kami pulang, bertangis-tangisan sepanjang jalan. Orang-orang lain juga marah-marah karena soal ini. Mereka juga pulang ke kontrakannya sendiri-sendiri. Semua pulang dengan mata merah yang sama. Hujan turun, langit pun menyambut dengan cara yang sama.
Sorenya, Mak bersiap-siap keluar rumah.
”Ke mana?”
”Warung. Ada yang ketinggalan.”
”Apa yang ketinggalan?”
Mak menjawab dengan meloncat ke tengah hujan lebat. Air di depan sudah hampir masuk bedeng ini. Kilat sambar bersambut petir sekeras petasan lebaran, Ibu teriak keras-keras, Mak tak perduli lagi.
”Sudah. Ini angkat dulu.” Bapak menunjuk kasur bolong-bolong dan barang-barang lain di lantai.
Ibu menggaruk kepalanya sebentar, dan berbalik ke arah kasur. Sampai malam Ibu sibuk membantu Bapak mengangkati barang-barang. Kertas-kertas lusuh dipindah ke tempat paling tinggi. Tapi air seperti terus mengejar kami. Semakin kami naik semakin dia tinggi. Kepalaku menekuk di bawah atap bilik bambu berkapur tak rata. Kakiku menekuk rapat-rapat, perut lengket pada punggung. Ibu meringkuk seperti ayam kedinginan, Bapak juga tak kalah bulatnya. Aku kedinginan semalaman.
Malam itu aku bermimpi lagi. Ular besar itu menggulung warung dan bangku-bangku kami. Habis satu meja dan dua bangku, dia seperti belum puas juga. Kursi bekas punya tetangga ditelannya juga. Ular itu jadi makin besar. Sepanjang jalan depan sekolahan besar itu sudah habis dipenuhi badan lembeknya. Gelambir-gelambir kulitnya makin mengkilat dan keras saja. Tambah panjang dan lama-lama memenuhi jalan-jalan lain juga. Melingkar-lingkar seperti mau menelan semuanya. Moncongnya terus menggerus bangunan-bangunan dan semua yang kelihatan di sekitarnya. Tingkah ular besar ini pun diikuti hujan deras yang tak mau berhenti. Dan, kulihat lagi Mak meringkuk di kursi empuk bekas punya tetangga. Kelihatannya Mak menikmati kehujanan semalaman. Mungkin, sampai kami tahu apa yang dilakukannya.
Ibu, aku dan Bapak bangun kesiangan. Turun pelan-pelan, satu-satu. Banjir belum surut benar, masih setinggi lutut. Hujan sudah jadi gerimis kecil. Ibu tak mau menunggu lebih lama lagi. Ibu, Bapak dan aku pergi mencari Mak.
Di jalan kami bertemu becak lain.
”Mak Menik mati kehujanan.” Celetuk tukang becak itu.
Ya, Mak sudah mati. Duduk meringkuk di atas kursi bekas punya tetangga. Bibirnya biru, badannya biru. Dan seperti kata Ibu, tangisan tak menghentikan apa-apa. Semua ini aku ceritakan kembali, Ya Tuhan. Semua kuocehkan saja lewat mulutku yang juga biru, demi ketakutan yang belum lagi selesai. Demi ziarah yang tak ada habis-habisnya, ya Tuhan.
Keterangan:
Nama tokoh dalam film kartun
Mbakyu, Mbakyu Tukang Jamu. Marilah ke mari saya mau beli
Naiki
Lagu
Nama tokoh kartun yang lain
2002
***
Lebih baik kau tak bilang pada siapa pun, kecuali Tuhan. Mak, Mak dari ibumu ini telah mati. Jangan menangis, sebab tangismu tak akan menghentikan apa pun. Tangisan tak akan melahirkan apa pun.
Tuhan,
Aku seorang bocah tujuh tahunan. Lahir dalam bedeng kontrakan. Besar dan tidur di jalanan. Tiap hari aku bermain sepanjang trotoar, biasanya sepulang sekolah. Tiap malam kuhabiskan waktu sebelum tidur dengan mas-mas dan mbak-mbak yang sekolah di dalam sana. Mereka suka ngobrol soal cerita-cerita dan tulisan-tulisan lainnya. Mereka itu memang keranjingan tulisan. Kalau sudah ngomong soal tulisan bisa lupa makan. Memang, mereka tidak pernah makan di warung kami selain satu dua gelas kopi pahit. Semuanya begitu, dan semuanya baru bisa aku ikuti tentu saja sepulang mengaji. Oya Tuhan, setiap sore aku pergi mengaji. Guru ngaji bilang, kalau ada yang membuat susah berdoalah. Sebab Tuhan Maha Pemurah.
Dua minggu lalu, Mak sibuk bersih-bersih. Terpal plastik coklat itu digulung dan diturunkan dari atas rangka kayu pelindung warung. Diikat dan dicampur kumpul kompor, panci, dan lainnya.
”Mak, kita mau pulang ya?” Harap-harap cemas aku. Senang rasanya, membayangkan pulang kampung naik kereta.
”Nggak. Sudah, kamu main-main saja sana!” Mak terus menggosok gerobak kami dengan gombal basah. ”Tapi jangan jauh-jauh. Jangan turun ke jalan, jangan masuk-masuk kampus, nanti bikin susah ibumu.”
Aku diam, bingung melihat Mak marah-marah. Kuambil karet ban pengasih Pak Bur, mau kujadikan sabuknya Satria Baja Hitam1. Tapi mataku tak bisa dibohongi, berkedip-kedip tak mengerti. Semalam Mak memang kelihatan susah sehabis dipanggil Pak Bo, mas yang sekolah di dalam sana dan biasa nongkrong di warung juga. Pak Bo jualan buku di ujung jalan. Tapi, kalau Mak susah karena Pak Bo, kenapa yang kena marah aku.
Tiga kawanan itu Pak Bo, Pak Lo, dan Wak Ban, lewat depan warung. Mau mbongkar kiosnya Pak Bo mungkin. Orang-orang lain sudah pada mbongkari warungnya sendiri-sendiri tadi malam. Kelihatannya Pak Bo kelewat sibuk ngurusi orang lain, sampai lupa kiosnya sendiri.
Selagi tiga orang itu lewat tahu-tahu ada yang nyanyi.
”Semua tak sama. Tak pernah sama…” Tangan Mak masih menggosok gerobaknya. ”Apa, Pak? Lihat-lihat apa?”
Mak meringis, barisan giginya melongo sebagian. Tiga orang itu senyam-senyum dan saling adu pandang sebentar.
”Ah, Emak bisa saja…” Bertiga itu mengingatkan pada hormat pagi di kelasku.
Mereka pun beriringan lagi menuju pojok jalan itu. Juga Mak, terus saja dengan lagunya. Heran, darimana Mak tahu lagu orang-orang yang suka genjrang-genjreng di bangku warung itu? Nggak tahulah, yang penting Mak sudah bisa nyanyi. Aku pun ngeluyur pergi.
”Daripada sakit hati. Lebih baik sakit gigi ini.” Mak masih berlagu. Padahal kalau sakit gigi betulan, aku yang sering kena getahnya. Aku lari sekencang-kencangnya.
Mula-mula main di pinggir jalan. Lama-lama bosan juga, melihat banyak tampang menahan berak di mana-mana. Aku lari ke dalam, siapa tahu ada mbak-mbak ayu. Aku ingat setiap pulang sekolah, di jalan suka ada tukang becak yang nyanyi lagu jawa edan. Begini….
Mbakyu, Mbakyu, bakul jamu
Sampeyan meriki kulo tum…basi…2
Sampai di tum itu biasanya suka ada yang nyahuti jadi tumpaki3. Ah, dasar langgam4 jawa edan. Aku pernah dimarahi Bu Guru Bahasa Daerah gara-gara nyanyi lagu itu. Lha sumpah, Gusti Allah jadi saksi, aku ini tidak bisa nyanyi. Salah sendiri nyuruh aku nyanyi. Aku kan cuma menirukan yang pernah kudengar.
Siang langit terang. Aku main di dalam puas-puas. Lari ke sana, lari ke mari. Kadang jadi Satria Baja Hitam, kadang jadi Power Rangers5. Pokoknya, berubah! Berubah! Persis ular yang pintar ganti-ganti kulit. Ssst….mas-mas bilang itu panggilan buat Pak Lo. Intrik, kata mereka panggilan itu namanya intrik. Aku? Mana tahu yang begitu-begitu. Aku kan cuma pingin jadi jagoan di jalan depan itu, kalau besar nanti.
Kalau jadi jagoan, Tuhan, aku mau pukul orang-orang yang suka mintai uang Mak buat mabuk-mabukan di tikungan seberang sana. Aku hajar mereka, sampai nggak bisa apa-apa lagi. Sampai tangannya patah, kakinya patah. Kepalanya…kuinjak-injak sampai remuk. Darahnya kuminum, seperti lakon-lakonnya wayang kulit. Bapak pernah ngajak nonton wayang kulit sambil naik becak. Bapak yang genjot, aku yang kasih aba-aba. Tuhan, kecil-kecil begini aku ketua kelas lho, jadi biasa kasih aba-aba.
Sore langit seperti mau jatuh. Petir dan geledeknya menyambar-nyambar. Aku lari pulang ke warung, sekencang-kencangnya. Makin kencang makin baik. Terus lari sambil menyanyi lagu kesukaanku dalam hati.
Naik kereta tut-tut, tut tut tut
Siapa hendak turut
Kesambar putra petir
Kepalanya jadi opak gambir
Pak Lo pernah cerita soal Ki Ageng Selo yang jago nangkap petir. Lantas menurunkan lagu tadi. Pak Lo juga sudah mengajariku lagu penjinak petir itu. Aku tidak tahu, tapi percaya saja. Siapa tahu Pak Lo jelmaan petir itu sendiri, kata orang memang begitu. Petir di tangan Ki Ageng Selo jadi ulo alias ular besar.
Angin meliung-liung, lariku meliuk-liuk. Takut juga kalau warungnya Mak rubuh karena angin begini besar. Aku lari lebih kencang. Napasku sudah sengal satu-satu. Acara bongkar-bongkaran itu belum selesai. Tapi, warung Mak sudah tak ada lagi. Mak dan Ibu mau mendorong warung kami ke seberang jalan.
”Mak, kita jualannya pindah ke sana ya?”
”Nggak. Sudah, sudah. Diam saja di situ!”
Aku bingung lagi. Mak masih marah juga, padahal sudah bisa nyanyi tadi. Aku cuma bisa diam akhirnya. Sehabis membereskan semuanya, Mak mengajak kami pulang ke bedeng kontrakan. Semalaman itu aku mimpi ketemu ular besar memakan kayu-kayu dan gerobak kami. Ular itu keluar dari banjir yang membandang warung kami juga.
Besoknya, pagi-pagi Mak mengajak kami keluar lagi. Bertiga kami beli nasi bungkusan. Bertiga kami makan di bekas warung Mak. Masih sisa satu bangku, kami berdempet-dempetan di situ.
”Mak, nanti kita pulangnya naik kereta, ya?”
”Ya.”
”Buk, nanti aku dibelikan mainan baru, ya?”
”Hhh.”
Diam lagi. Semuanya serba kaku. Mungkin Mak dan Ibu sedang sakit perut sehabis sarapan ini tadi. Aku tidak tahan, mau lari tapi tanganku dicekal Mak.
”Jangan! Nanti kamu diculik orang.” Mata Mak sebesar telor ceplok. ”Hhh. Itu mereka datang.”
Aku takut setengah mati. Dari ujung jalan jauh di sana datang serombongan tukang culik itu. Ada yang jalan, ada yang naik truk. Ah, mereka pakai baju seragam. Seperti seragamku kalau hari Jum’at. Ada polisinya juga, ada tentaranya juga, ada apa ini? Aku ketakutan hampir mati.
Muka mereka lebih ngotot dari muka orang-orang warungan. Tetangga-tetangga warung berlarian ke sana-sini. Dari balik pohon di depan bekas warung aku lihat mereka mengacung-acungkan tongkat kayu. Memukuli dan merubuhkan gerobak-gerobak yang ketinggalan. Gerobak lama-baru yang sudah rubuh diinjak-injak, sampai kacanya berhamburan. Sisanya diangkut dalam truk. Ada juga yang marah-marahan dengan orang-orang.
Sampai di seberang jalan tempat Mak dan orang-orang lain menaruh gerobaknya kemarin, mereka itu otot-ototan lagi dengan Pak Her. Kepala keamanan sekolah di dalam itu tak kalah sengit ngototnya, sambil menuding-nuding ke dalam sana.
Tak lama mereka pun selesai otot-ototan. Semua bubar sendiri-sendiri. Orang-orang seragaman itu naik truk lagi. Orang-orang warungan berbisak-bisik tak karuan. Aku bingung dan ketakutan. Takut kalau warungnya Mak ikut diangkut. Takut kalau Mak tak bisa jualan lagi. Takut kalau aku tak dibelikan mainan lagi. Uang hasil tarikan becak Bapak tak pernah kulihat selembar pun. Aku bingung dan takut, dan lebih takut lagi kalau ingat tampang-tampang seram berseragam tadi itu.
Sore lewat, tanpa obrolan dan genjrengan. Pak Bo dan orang-orang sibuk berkasak-kusuk di belakang pagar sekolahan besar ini. Mak tidak datang, mungkin sudah mulai sakit gigi. Dalam diam mukanya ditekuk. Kalau sudah begitu leher keriputnya jadi hilang. Semuanya hilang malam ini. Ya Tuhan, aku pun tak berangkat mengaji sore tadi.
Dua hari sejak itu kami tunggui saja bekas warung ini. Mak, Ibu, dan aku saling diam-diaman. Jidat Mak berkerut-kerut lebih banyak lagi. Mata Ibu melihat ke depan, jauh sekali. Mereka mirip orang yang baru marahan. Aku terjepit di tengah-tengahnya. Aku tak berminat mengganggu mereka, atau melakukan apa pun. Tapi lucu juga, kami jadi seperti anak kecil semua. Sekalipun tetangga kanan-kiri mulai klesak-klesik mencari cara supaya bisa buka lagi, Mak dan Ibu seperti tak mau ambil perduli. Dua hari itu benar-benar kami diamkan hanya buat diam.
Hari ketiga, Mak mulai coba-coba jualan lagi. Warung dibuka kecil-kecilan. Satu meja, satu kursi empuk bekas punya tetangga, dua bangku dan seperangkat alat dapur. Beberapa tetangga juga begitu. Beberapa langganan mulai datang. Tapi langganan lain yang sibuk ngurusi soal buka lagi masih jarang duduk di sini. Apalagi Pak Bo yang jadi ketua rombongan kami, kata Mak, dia pasti lebih sibuk dari sibuk.
Aku bisa main-main lagi, lari-lari lagi. Bisa nyanyi juga, lagu kesukaanku juga. Tapi, tetap takut-takut. Nggak seberani kemarin-kemarin memang. Tapi syukurlah, Ya Gusti Allah, aku masih sempat bernyanyi. Soal Mak? Di sela-sela giginya yang masih tersisa Mak seperti sudah lupa buat menyanyi. Mak sudah biasa senyam-senyum lagi, biasa marah-marah lagi, dan bergunjing lagi. Seperti barisan gigi orang tua cerewet itu, semua sudah mulai plong lagi.
Seminggu lewat kami berdagang kecil-kecilan, sembunyi-sembunyi. Kata Mak, kalau sewaktu-waktu ada yang datang lagi kita semua mesti siap. Benar juga omongan Mak itu. Satu kali datang serombongan orang lagi. Mereka menanyai Mak, Ibu, dan orang-orang lain satu-satu. Sekarang bukan cuma soal warung yang harus pergi. Sekarang kami semua harus pergi dari sini.
”Kenapa mereka tidak tanya aku?”
”Belum waktunya. Kamu belum punya KTP.”
Aku bingung lagi. Bukan cuma mataku yang berkedip-kedip terus. Kepalaku pusing bukan kepalang. Pusing sepanjang jalan pulang. Kami pulang lagi. Mak sebenarnya sudah bilang kalau KTPnya ketinggalan di rumah, tapi orang-orang itu tak mau percaya. Mak minta tempo buat mengurusnya, mereka bilang Mak musti pulang. Kami musti pulang. Mak seperti mau bilang sesuatu waktu tangan salah seorang dari mereka mendorongnya. Dan kami pun pulang.
Mak nangis sepanjang jalan. Matanya yang sebesar telor ceplok itu tinggal sebengkol jengkol yang basah terus-terusan. Ibu ikut-ikutan nangis juga. Aku tidak tahu mau apa, ikut nangis saja. Bertiga kami pulang, bertangis-tangisan sepanjang jalan. Orang-orang lain juga marah-marah karena soal ini. Mereka juga pulang ke kontrakannya sendiri-sendiri. Semua pulang dengan mata merah yang sama. Hujan turun, langit pun menyambut dengan cara yang sama.
Sorenya, Mak bersiap-siap keluar rumah.
”Ke mana?”
”Warung. Ada yang ketinggalan.”
”Apa yang ketinggalan?”
Mak menjawab dengan meloncat ke tengah hujan lebat. Air di depan sudah hampir masuk bedeng ini. Kilat sambar bersambut petir sekeras petasan lebaran, Ibu teriak keras-keras, Mak tak perduli lagi.
”Sudah. Ini angkat dulu.” Bapak menunjuk kasur bolong-bolong dan barang-barang lain di lantai.
Ibu menggaruk kepalanya sebentar, dan berbalik ke arah kasur. Sampai malam Ibu sibuk membantu Bapak mengangkati barang-barang. Kertas-kertas lusuh dipindah ke tempat paling tinggi. Tapi air seperti terus mengejar kami. Semakin kami naik semakin dia tinggi. Kepalaku menekuk di bawah atap bilik bambu berkapur tak rata. Kakiku menekuk rapat-rapat, perut lengket pada punggung. Ibu meringkuk seperti ayam kedinginan, Bapak juga tak kalah bulatnya. Aku kedinginan semalaman.
Malam itu aku bermimpi lagi. Ular besar itu menggulung warung dan bangku-bangku kami. Habis satu meja dan dua bangku, dia seperti belum puas juga. Kursi bekas punya tetangga ditelannya juga. Ular itu jadi makin besar. Sepanjang jalan depan sekolahan besar itu sudah habis dipenuhi badan lembeknya. Gelambir-gelambir kulitnya makin mengkilat dan keras saja. Tambah panjang dan lama-lama memenuhi jalan-jalan lain juga. Melingkar-lingkar seperti mau menelan semuanya. Moncongnya terus menggerus bangunan-bangunan dan semua yang kelihatan di sekitarnya. Tingkah ular besar ini pun diikuti hujan deras yang tak mau berhenti. Dan, kulihat lagi Mak meringkuk di kursi empuk bekas punya tetangga. Kelihatannya Mak menikmati kehujanan semalaman. Mungkin, sampai kami tahu apa yang dilakukannya.
Ibu, aku dan Bapak bangun kesiangan. Turun pelan-pelan, satu-satu. Banjir belum surut benar, masih setinggi lutut. Hujan sudah jadi gerimis kecil. Ibu tak mau menunggu lebih lama lagi. Ibu, Bapak dan aku pergi mencari Mak.
Di jalan kami bertemu becak lain.
”Mak Menik mati kehujanan.” Celetuk tukang becak itu.
Ya, Mak sudah mati. Duduk meringkuk di atas kursi bekas punya tetangga. Bibirnya biru, badannya biru. Dan seperti kata Ibu, tangisan tak menghentikan apa-apa. Semua ini aku ceritakan kembali, Ya Tuhan. Semua kuocehkan saja lewat mulutku yang juga biru, demi ketakutan yang belum lagi selesai. Demi ziarah yang tak ada habis-habisnya, ya Tuhan.
Keterangan:
Nama tokoh dalam film kartun
Mbakyu, Mbakyu Tukang Jamu. Marilah ke mari saya mau beli
Naiki
Lagu
Nama tokoh kartun yang lain
2002
***
Langganan:
Postingan (Atom)