Sabtu, Agustus 02, 2003

aku ular rawa



; hyangsitianabrang



seperti anjing meranggas di atas rawa

lahir dari batu dan lumpur – sumbat perahu

dua tiang besar menyangkal dari haluan

menggantungku pada angin buritan



palguna, kelingking putus

dilarang memanah di tanah

merah, saat gerimis ngangkang

langit tirus dan bulan rembang

menggiring ribuan gema

gurun turun menegur

daun-daun



ular gerit

mengetuk pintu langit

tariannya khusyuk berkabut

pohon pengetahuan majal

menunggu maut dajjal

tanpa isyarat



langit muntah

mengaji dinding batu

aku melacur telanjang kaki

kujilati tapak terompah tua

pinjaman tanah merah

berkumur riwayat

tanda tanya



bila fajar datang

atas nama nabi-nabi dalam tubuhku

kerasukan iman berbusa demi bisa

lantakkan bisaku, bakar aku

110503
profissiat



musim hujan kepagian

lewat jendela mata diam

melingsut di daun-daun

bambu yang murung dan getas

payung kertas

bocah berpeci menuntun sapi


042003

5BAB



kau simpan kerinduan hujan dari fajar

bayanganku, yang tegak lurus

pada bumi? serupa hantu dalam jubahmu

tak tersingkap biar sebentar

batas-batasnya tipis dan kabur

kadang tersenyum mengulum

atau membakar kelakar



lebur di arus sungsang, menjemput

angin puput. sedang pelukis daun

diantaranya pun telah kupenggal



dari tungkainya. meski di luar jendela

hujan tetap membuka payungnya

tergolek di teras dilumuri kabut sendiri

kusangsikan siang sayap-sayapku

mencari jejak di atas decak

– sisa musim bertamu. ah, siapa

berharap tanganku terbuka



tentu bukan binatang yang menyeret

langkah menelikung. dengarkan

nafas di kepak jantungmu, kami



selembar bayangan di balik kain

dan suluh bambu. anginmu gagap

gagu seperti perawan yang baru

dihunjam maut dari aliran darahnya

; permisi aku berpulang

ular-ular di rumahku lebih tulus

dari jubahmu. angin yang hilang



bisa berbalik, meski sebagian

sedang yang kaubuang terlalu sarat

buat kembali. seperti menjaring



dan memilah air dengan tangan

sementara kau terus mengejar

bayanganku, nanti aku pasti

mengempasmu. pada mata

menyala selembar daun

jatuh pun pecah

di depannya

042003
ringin sirah





hanya merayap di bawah bayang-bayang

malam purnama menjelma kerajaan kami

setelah negerimu menempuh laut

memeluk ombak dengan barisan-barisan

meriam di atas geladak dan kabin



tarian daun-daun bambu telah berganti

dengan bau mesiu dan tembok tinggi loji

ledakan-ledakan serupa hujan

tak kenal siang dan malam



mimpi-mimpi kami pun hangus

disambar ribuan api yang kau lontarkan

para penjaga gerbang telah lumpuh

kehilangan iman pada tangan-tanganmu



mulut-mulut kami tersumpal sampah

sisa dari keramik negeri seruling kuning

yang kau lemparkan di pelataran dan kolam

kolam hiu beradu dengan dendam buaya



kami mengendap di bawah kereta

kecemasan, ketika lampu-lampu membuka

mata. membunuh siang yang terlalu kering

membakar perut anak-anak dan perempuan

mencairkan anjing-anjing berkalung pasar

tembang-tembang berdarah seperti bulan

mawar. kami rayakan pesta begal ini

2003

percakapan embun

di lidah daun
atau di rimbun
rumputan

titik-titik embun
membiru berhimpun
teriring hujan yang turun

selarat gerimis
pekat dalam mataku
saat kugangsir kubur

di kaki nenekku
kutanam cicit yang baru
mati oleh rasa ibunya

tangan-tangan besi
langit yang pasi
perihku tak terbagi

betapa embun lupa
memberi setetes sejuk
lewat kerlingnya

052003
kurangkai katamu



kaurangkai mimpi

lewat sekerat malam

bulan sabit awan beku



dalam tinggal tenang

terletak kekuatan

diam



mimpi urai diri

merangkai ritus hujan

payung hitam dari malam



042003
kau yang terlupa





kau menggantungku di payung

barisan warung pinggir jalan

aku serupa ular beludak

tersumbat

dalam botol plastik



nanti aku lepas

menjemputmu dengan cecapan

lumat bibirmu yang selalu menuntun

buat menutup pintu kamarku

; sebab kita mengerak di antara alang



selalu ingatan kau tawarkan

mencatatnya sebagai mimpi samun

buka jendela kamar, biarkan sinar pagi

merasuk kabar bagi matamu dari dirinya

sendiri lewat bangkai kacamu



atau siang datang

membawakan secangkir kopi dan api

tentang mataku, lurus ke dalam

lihat ekornya menari-nari hangatkan

malam dan hari-hari nanti

032003
kadish





doa kematian batu ratapan





Aku menangis

demi kematianmu yang sia-sia dan tak henti-henti

darah itu menggenangi lengan-lengan para rahib

yang haramkan taring dan lendir, marus dan susu

busuk, penuh senyum dan santun



menjamah kepalaku yang basah

Sebab kematianmu yang muda dan manis

bukan oleh tanganku. Aku menyesal

sungguh

2002
bocah jaring laba-laba





Buat lendir berjalan



Kau tampar aku demi cinta

Pada pelarianmu yang ketakutan

; tugas kita hanya mengapur

sambil kau lemparkan

serpihan kaca yang tak bisa kau pegang

lagi dalam bilik kemuramanmu



bocah itu tertawa sekeras matahari

mengunyah pagi, berlarian kencang telanjang

penuh lukisan kematian dan malam. Kau memburu

lebih cepat dari setan, sambil memaki terus

; bantu aku memasang celana kodoknya

kau berlari

lebih kuat lagi, menuju negeri-negeri berkabut

bersimpang jalan



kau hujani langit

yang makin menguning dan tak memberi waktu

meski untuk sekedar permainan, sepanjang kemarau

laknatmu

; sembilan matahari tak memberi apa-apa

maka kau tumpahkan seluruh duniamu pada bocah

yang makin muram itu, seburam kecantikanmu



kau ludahi aku

dengan keangkuhan yang kisut dan nujum

tanpa matahari menggarang langkah maut

menggiringmu

; kau lihat bocah itu, bocahku

satu musim benar

serapahmu. Kenang aku, kenanglah ludahmu



agar engkau tahu bocah-bocah cuma mencecap

dan menelan lendirmu demi menjadi bayangan

seraya bertanya pada serpihan kaca yang telah

mengkhianatimu

2002

serampang tigadua





Semak memudar, kering musim ini lebih sepi

dari kematian, kubur batu dan tubuh angin diam

selindap badan awan gelapkan langit, menawan



lidah-lidah yang membakar belukar. Lalat hijau

berdengung dalam kepalamu, tikus air yang laju



memburu jalan panjang lata itu, menyeret mimpi

mimpi legam perawan yang lelah terhisap pasi

bulan, pelacur yang memerak dalam kolam



paraumu. Jari-jarimu geletaran menunggu

batu hitam itu retak dan lahirkan masa silam arak



arakan mendung, menjelma bangsa kaum barzanzi

kau pencipta kesangsian yang menjurus segala tanya

pada bayangmu sendiri, jubah babi bulu-bulu lesi



muntahan sisa pesta sepanjang malam para pemabuk

lolong srigala tersihir seruan rahib-rahib jadi kawanan



anjing pasar, atas namamu sendiri Kunyalakan bara itu

menggarang kedalaman kerak kepalamu yang tak mungkin

menyentuh kaki yang begini tegak memaku, batu penjuru



langit. Aku tajwid, waktu kau bisikkan selamat malam

pada bulan yang tak lagi mengintip bibir rahim takbir



Aku udara, nanti bersaksi jika bayangan ratib berganti

jasad wong agung yang telah lelah dan terlupa bisa

menakutkan seekor ular hijau



takbirkedua, 2002

Senin, Juli 28, 2003

cintai dee dengan cinta



untuk Jule



aku semburkan mantra agar bermimpi menjelma dee. tapi semburat tarian asing menggugahku dalam tenunan kata-kata dari kotamu



ada yang menggeliat dari dalam mulut. kukorek dengan lidah, lompat satu di ubin. masih ada geliat lagi di sela gigi geraham. kukorek dan semburkan, sekumpulan belatung menari di situ



mataku seribu bintang. cahaya berpendaran melebihi sembilan matahari. tarian dada terbuka berpusar-pusar. seperti baling-baling kincir angin. gadis penjual susu berburu dengan angin dan nafasmu



kulesakkan pukulan paling hina. batoknya penyok dan kepalaku menjadi bulat telur dalam cuka. lonjong serupa lontong. kulesakkan kepala dungu itu ke dalam botol. maka selaksa lalat hijau berhamburan dari dalamnya



lontong-lonjongku leleh di atas air, dalam botol. pesan dalam botol, menguning oleh leleran berlendir. seperti ngilu kaca-buram yang tersembur semburat tanda pengetahuan



lalu johny walker jalan sempoyongan dalam kepalaku. seperti jacko yang mau jadi janggo di atas bulan purnama. melayang terbawa asep sunarya yang menggolekkan wayang-wayangnya dengan asap nirvana



telingaku gasing. adalah seribu lebah dalam mantra tanpa jeda. aku pernah berharap punya segudang madu memang, tapi bukan begini caranya. ribuan lebah mencuri dengar setiap yang kudapatkan. menjelma halimun bernama gebalau terbantun



dalam perut terasa mual. lebih muak dari kematian saat jandaku menangis sebab tak ada polis. berguncang-guncang bukannya kenyang. lambung digelegak kebusukan terlaknat.



tubuhku pecah oleh semburan cermin dalam kamar. ledakan tanpa tuan telah melantakkannya dalam serpihan. kulitku dirajam malaikat paling laknat, kaca kusam berkhianat dan tubuhku makin nyerpih. menjelma perca dan tanda tanya



menggodaku saat terbangun kedua kalinya. adakah aku baru saja bermimpi sebagai serangga. atau kini aku serangga yang bermimpi serupa manusia

0703

bapak satu menit



minggu lalu bapak menonjok mataku dengan segulung koran. kubuka di perutnya ada cerita tentang aliran jalan damai. kumpulan orang-orang dungu dari negeri mata tersilet. kulihat gambar-gambar menangis; anak yang busung, ibu tersenyum murung, bapak kena kampak di tempurung kepalanya. burung terus berjemur di ranting-ranting. daun-daun meranggas.

tapi setiap yang tersungkur di depan pintu aliran jalan damai adalah harapan tentang hidup yang jumawa di atas samun pikiranku. dan yang teronggok di pintu belakang rumah nujum itu adalah rumput-rumput tanpa warna dan menunggu terbakar matahari.

aku tengadah pada langit yang berkumis tipis itu. bapak tak lagi berdiri di kelas. tak lagi jenak di kursi para wali. bapak juga bukan dewa; mati dalam senyuman. aku lihat bapak mengetuk-ketuk pintuku. mondar-mandir di rumah sambil mengacung-acungkan dupa. kubaca dalam buku bergambar dupa itu bercampur dengan candu dan cendawan. aku baca lagi buku bergambar seperti tulisan bapak di koran minggu lalu.

050603
Dieu Ecrit Droit

Aux Lignes Courbes




tuhan menulis sajak di atas garis-garis berliku. seperti remah-remah stupa, relief-relief para pencuri. semak-semak bergesekan di kuta, lukisan-lukisan luka, matahari hitam bersayap perawan pemilin rambut.



seperti ukiran tak bernafsu di pinggang-pinggang kebaya. kwawung, parang rusak, parang jejeg, tak bermotif. lelaki jongkok menjulur zakarnya. tugu-tugu gagu kehilangan nama. seperti tuhan yang tak punya muka. sibuk mencari diri di dalam kolam, menggenang di belahan kaki yang tertawa. seperti para penghasut yang tetap bersiul, lagu-lagu mati di pajangan-pajangan jembut.



kepala ratu bekasaan yang kosong dipenuhi raja jin dengan nama-nama. malam jadi bising, tikus-tikus nungging. berlari setelah desing, selepas pesing. bulan bergasing jadi petruk seperti ratu buta. jadi gareng yang suka menggoreng. jeritan-jeritan senyap berdarah, seperti lukisan tercabut dari pinggang. jongkok menggesek gathel bengkak. seperti tuhan mati selepas menulis bayangan sendiri 052003

Bon Vivant







Buku-buku menjadi anggur enak, rokok-rokok kelas satu dan dada indah perempuan. Duduk bersafari senyum tipis dan rambut tersisir rapi. Kulihat kau di atas majalah anak-anak nakal; bir di atas meja, rokok di tangan, tatapan mata jauh terpancar bulgaria.

Lelaki menjelma budak yang selalu terpesona. Tak pernah berdaya di depan tubuh-tubuh biola. Bergesekan dengan dada-dada ranum. Onggokan anggur rimbun berjuntai. Berpindah dari bangku sekolah menengah. Cinta adalah payudara anak tetangga sebelah. Mariyuana yang mengajarkan bulgaria.

Vladimir menembakkan senyum masygul, kau tak menimpal. Attanasov menambal putting-putting lencing, kau pun manimbal di gelas-gelas anggur. Rambut terselip di pinggang piala-piala mariyuana. Perbatasan yang terpesona, bulagria terpana, anak-anak belajar menyamun asap-asap nirvana. Kau senyum mati di atas meja.

052003

riwayat kasim



gebalau dingin suara-suara samun itu menggigir di tubir-tubir ruhku lewat pecahan cahaya yang leleh dari kelamin para penyamun. dikangkangi lelaki yang menjelma bapak di tikungan selindap pertigaan itu aku hanya bisa mengerakkan korek merah jambu dalam permainan farji gaun pengantin ibu. di langit yang membius dengan seribu rimbun rambut-rambut lembut dari telapak nganga aku dimuntahkan oleh anjing berdarah pisau lipat berlapis mantra penjinak zakar bergelibatan antara tiang-tiang bendera



aku lumer serupa setan-setan mungil berloncatan dalam hasrat mengatasi ketakutan habsi, menanting gumpalan kapas bersarung sutra piningit. antrian kucing pasar seperti ingin merayakan kelahiranku dengan onani bersama teriring madah kelana - syair-syair berdarah - dan sunatan masal. tak ada tuhan yang bersamadi melebihi lendir dan kilatan-kilatan sisikku. bulan pucat, menyimpan cemburu yang lurus pada surat-surat kawat. padahal selalu ada hati untuk pemesan jantung dalam pesta tempik setan-setan berjubah keniscayaan



semoga jalan-jalan tak lagi berlari saat tanganku turun dan menjejalkan pecahan botol kosong di gelambir susu ibu dan terkeratlah kertak tulang selangkamu oleh bias semburan nafasku yang lembur rangkai anusmu seperti lukisan-lukisan telinga patah berbalut kedunguan cantik dari negeri kincir angin. meski angin tak akan pernah lewat untuk sekedar melepas pemberangkatanmu menuju tonggak-tonggak paloma kita yang nyeringai angkuh. mari masuk ke rangka rengat dan karatku, maka kau akan temui wujudmu yang paling kasim

052003
Mak Menikmati Kehujanan







Lebih baik kau tak bilang pada siapa pun, kecuali Tuhan. Mak, Mak dari ibumu ini telah mati. Jangan menangis, sebab tangismu tak akan menghentikan apa pun. Tangisan tak akan melahirkan apa pun.

Tuhan,

Aku seorang bocah tujuh tahunan. Lahir dalam bedeng kontrakan. Besar dan tidur di jalanan. Tiap hari aku bermain sepanjang trotoar, biasanya sepulang sekolah. Tiap malam kuhabiskan waktu sebelum tidur dengan mas-mas dan mbak-mbak yang sekolah di dalam sana. Mereka suka ngobrol soal cerita-cerita dan tulisan-tulisan lainnya. Mereka itu memang keranjingan tulisan. Kalau sudah ngomong soal tulisan bisa lupa makan. Memang, mereka tidak pernah makan di warung kami selain satu dua gelas kopi pahit. Semuanya begitu, dan semuanya baru bisa aku ikuti tentu saja sepulang mengaji. Oya Tuhan, setiap sore aku pergi mengaji. Guru ngaji bilang, kalau ada yang membuat susah berdoalah. Sebab Tuhan Maha Pemurah.

Dua minggu lalu, Mak sibuk bersih-bersih. Terpal plastik coklat itu digulung dan diturunkan dari atas rangka kayu pelindung warung. Diikat dan dicampur kumpul kompor, panci, dan lainnya.

”Mak, kita mau pulang ya?” Harap-harap cemas aku. Senang rasanya, membayangkan pulang kampung naik kereta.

”Nggak. Sudah, kamu main-main saja sana!” Mak terus menggosok gerobak kami dengan gombal basah. ”Tapi jangan jauh-jauh. Jangan turun ke jalan, jangan masuk-masuk kampus, nanti bikin susah ibumu.”

Aku diam, bingung melihat Mak marah-marah. Kuambil karet ban pengasih Pak Bur, mau kujadikan sabuknya Satria Baja Hitam1. Tapi mataku tak bisa dibohongi, berkedip-kedip tak mengerti. Semalam Mak memang kelihatan susah sehabis dipanggil Pak Bo, mas yang sekolah di dalam sana dan biasa nongkrong di warung juga. Pak Bo jualan buku di ujung jalan. Tapi, kalau Mak susah karena Pak Bo, kenapa yang kena marah aku.

Tiga kawanan itu Pak Bo, Pak Lo, dan Wak Ban, lewat depan warung. Mau mbongkar kiosnya Pak Bo mungkin. Orang-orang lain sudah pada mbongkari warungnya sendiri-sendiri tadi malam. Kelihatannya Pak Bo kelewat sibuk ngurusi orang lain, sampai lupa kiosnya sendiri.

Selagi tiga orang itu lewat tahu-tahu ada yang nyanyi.

”Semua tak sama. Tak pernah sama…” Tangan Mak masih menggosok gerobaknya. ”Apa, Pak? Lihat-lihat apa?”

Mak meringis, barisan giginya melongo sebagian. Tiga orang itu senyam-senyum dan saling adu pandang sebentar.

”Ah, Emak bisa saja…” Bertiga itu mengingatkan pada hormat pagi di kelasku.

Mereka pun beriringan lagi menuju pojok jalan itu. Juga Mak, terus saja dengan lagunya. Heran, darimana Mak tahu lagu orang-orang yang suka genjrang-genjreng di bangku warung itu? Nggak tahulah, yang penting Mak sudah bisa nyanyi. Aku pun ngeluyur pergi.

”Daripada sakit hati. Lebih baik sakit gigi ini.” Mak masih berlagu. Padahal kalau sakit gigi betulan, aku yang sering kena getahnya. Aku lari sekencang-kencangnya.

Mula-mula main di pinggir jalan. Lama-lama bosan juga, melihat banyak tampang menahan berak di mana-mana. Aku lari ke dalam, siapa tahu ada mbak-mbak ayu. Aku ingat setiap pulang sekolah, di jalan suka ada tukang becak yang nyanyi lagu jawa edan. Begini….

Mbakyu, Mbakyu, bakul jamu

Sampeyan meriki kulo tum…basi…2

Sampai di tum itu biasanya suka ada yang nyahuti jadi tumpaki3. Ah, dasar langgam4 jawa edan. Aku pernah dimarahi Bu Guru Bahasa Daerah gara-gara nyanyi lagu itu. Lha sumpah, Gusti Allah jadi saksi, aku ini tidak bisa nyanyi. Salah sendiri nyuruh aku nyanyi. Aku kan cuma menirukan yang pernah kudengar.

Siang langit terang. Aku main di dalam puas-puas. Lari ke sana, lari ke mari. Kadang jadi Satria Baja Hitam, kadang jadi Power Rangers5. Pokoknya, berubah! Berubah! Persis ular yang pintar ganti-ganti kulit. Ssst….mas-mas bilang itu panggilan buat Pak Lo. Intrik, kata mereka panggilan itu namanya intrik. Aku? Mana tahu yang begitu-begitu. Aku kan cuma pingin jadi jagoan di jalan depan itu, kalau besar nanti.

Kalau jadi jagoan, Tuhan, aku mau pukul orang-orang yang suka mintai uang Mak buat mabuk-mabukan di tikungan seberang sana. Aku hajar mereka, sampai nggak bisa apa-apa lagi. Sampai tangannya patah, kakinya patah. Kepalanya…kuinjak-injak sampai remuk. Darahnya kuminum, seperti lakon-lakonnya wayang kulit. Bapak pernah ngajak nonton wayang kulit sambil naik becak. Bapak yang genjot, aku yang kasih aba-aba. Tuhan, kecil-kecil begini aku ketua kelas lho, jadi biasa kasih aba-aba.

Sore langit seperti mau jatuh. Petir dan geledeknya menyambar-nyambar. Aku lari pulang ke warung, sekencang-kencangnya. Makin kencang makin baik. Terus lari sambil menyanyi lagu kesukaanku dalam hati.

Naik kereta tut-tut, tut tut tut

Siapa hendak turut

Kesambar putra petir

Kepalanya jadi opak gambir

Pak Lo pernah cerita soal Ki Ageng Selo yang jago nangkap petir. Lantas menurunkan lagu tadi. Pak Lo juga sudah mengajariku lagu penjinak petir itu. Aku tidak tahu, tapi percaya saja. Siapa tahu Pak Lo jelmaan petir itu sendiri, kata orang memang begitu. Petir di tangan Ki Ageng Selo jadi ulo alias ular besar.

Angin meliung-liung, lariku meliuk-liuk. Takut juga kalau warungnya Mak rubuh karena angin begini besar. Aku lari lebih kencang. Napasku sudah sengal satu-satu. Acara bongkar-bongkaran itu belum selesai. Tapi, warung Mak sudah tak ada lagi. Mak dan Ibu mau mendorong warung kami ke seberang jalan.

”Mak, kita jualannya pindah ke sana ya?”

”Nggak. Sudah, sudah. Diam saja di situ!”

Aku bingung lagi. Mak masih marah juga, padahal sudah bisa nyanyi tadi. Aku cuma bisa diam akhirnya. Sehabis membereskan semuanya, Mak mengajak kami pulang ke bedeng kontrakan. Semalaman itu aku mimpi ketemu ular besar memakan kayu-kayu dan gerobak kami. Ular itu keluar dari banjir yang membandang warung kami juga.

Besoknya, pagi-pagi Mak mengajak kami keluar lagi. Bertiga kami beli nasi bungkusan. Bertiga kami makan di bekas warung Mak. Masih sisa satu bangku, kami berdempet-dempetan di situ.

”Mak, nanti kita pulangnya naik kereta, ya?”

”Ya.”

”Buk, nanti aku dibelikan mainan baru, ya?”

”Hhh.”

Diam lagi. Semuanya serba kaku. Mungkin Mak dan Ibu sedang sakit perut sehabis sarapan ini tadi. Aku tidak tahan, mau lari tapi tanganku dicekal Mak.

”Jangan! Nanti kamu diculik orang.” Mata Mak sebesar telor ceplok. ”Hhh. Itu mereka datang.”

Aku takut setengah mati. Dari ujung jalan jauh di sana datang serombongan tukang culik itu. Ada yang jalan, ada yang naik truk. Ah, mereka pakai baju seragam. Seperti seragamku kalau hari Jum’at. Ada polisinya juga, ada tentaranya juga, ada apa ini? Aku ketakutan hampir mati.

Muka mereka lebih ngotot dari muka orang-orang warungan. Tetangga-tetangga warung berlarian ke sana-sini. Dari balik pohon di depan bekas warung aku lihat mereka mengacung-acungkan tongkat kayu. Memukuli dan merubuhkan gerobak-gerobak yang ketinggalan. Gerobak lama-baru yang sudah rubuh diinjak-injak, sampai kacanya berhamburan. Sisanya diangkut dalam truk. Ada juga yang marah-marahan dengan orang-orang.

Sampai di seberang jalan tempat Mak dan orang-orang lain menaruh gerobaknya kemarin, mereka itu otot-ototan lagi dengan Pak Her. Kepala keamanan sekolah di dalam itu tak kalah sengit ngototnya, sambil menuding-nuding ke dalam sana.

Tak lama mereka pun selesai otot-ototan. Semua bubar sendiri-sendiri. Orang-orang seragaman itu naik truk lagi. Orang-orang warungan berbisak-bisik tak karuan. Aku bingung dan ketakutan. Takut kalau warungnya Mak ikut diangkut. Takut kalau Mak tak bisa jualan lagi. Takut kalau aku tak dibelikan mainan lagi. Uang hasil tarikan becak Bapak tak pernah kulihat selembar pun. Aku bingung dan takut, dan lebih takut lagi kalau ingat tampang-tampang seram berseragam tadi itu.

Sore lewat, tanpa obrolan dan genjrengan. Pak Bo dan orang-orang sibuk berkasak-kusuk di belakang pagar sekolahan besar ini. Mak tidak datang, mungkin sudah mulai sakit gigi. Dalam diam mukanya ditekuk. Kalau sudah begitu leher keriputnya jadi hilang. Semuanya hilang malam ini. Ya Tuhan, aku pun tak berangkat mengaji sore tadi.

Dua hari sejak itu kami tunggui saja bekas warung ini. Mak, Ibu, dan aku saling diam-diaman. Jidat Mak berkerut-kerut lebih banyak lagi. Mata Ibu melihat ke depan, jauh sekali. Mereka mirip orang yang baru marahan. Aku terjepit di tengah-tengahnya. Aku tak berminat mengganggu mereka, atau melakukan apa pun. Tapi lucu juga, kami jadi seperti anak kecil semua. Sekalipun tetangga kanan-kiri mulai klesak-klesik mencari cara supaya bisa buka lagi, Mak dan Ibu seperti tak mau ambil perduli. Dua hari itu benar-benar kami diamkan hanya buat diam.

Hari ketiga, Mak mulai coba-coba jualan lagi. Warung dibuka kecil-kecilan. Satu meja, satu kursi empuk bekas punya tetangga, dua bangku dan seperangkat alat dapur. Beberapa tetangga juga begitu. Beberapa langganan mulai datang. Tapi langganan lain yang sibuk ngurusi soal buka lagi masih jarang duduk di sini. Apalagi Pak Bo yang jadi ketua rombongan kami, kata Mak, dia pasti lebih sibuk dari sibuk.

Aku bisa main-main lagi, lari-lari lagi. Bisa nyanyi juga, lagu kesukaanku juga. Tapi, tetap takut-takut. Nggak seberani kemarin-kemarin memang. Tapi syukurlah, Ya Gusti Allah, aku masih sempat bernyanyi. Soal Mak? Di sela-sela giginya yang masih tersisa Mak seperti sudah lupa buat menyanyi. Mak sudah biasa senyam-senyum lagi, biasa marah-marah lagi, dan bergunjing lagi. Seperti barisan gigi orang tua cerewet itu, semua sudah mulai plong lagi.

Seminggu lewat kami berdagang kecil-kecilan, sembunyi-sembunyi. Kata Mak, kalau sewaktu-waktu ada yang datang lagi kita semua mesti siap. Benar juga omongan Mak itu. Satu kali datang serombongan orang lagi. Mereka menanyai Mak, Ibu, dan orang-orang lain satu-satu. Sekarang bukan cuma soal warung yang harus pergi. Sekarang kami semua harus pergi dari sini.

”Kenapa mereka tidak tanya aku?”

”Belum waktunya. Kamu belum punya KTP.”

Aku bingung lagi. Bukan cuma mataku yang berkedip-kedip terus. Kepalaku pusing bukan kepalang. Pusing sepanjang jalan pulang. Kami pulang lagi. Mak sebenarnya sudah bilang kalau KTPnya ketinggalan di rumah, tapi orang-orang itu tak mau percaya. Mak minta tempo buat mengurusnya, mereka bilang Mak musti pulang. Kami musti pulang. Mak seperti mau bilang sesuatu waktu tangan salah seorang dari mereka mendorongnya. Dan kami pun pulang.

Mak nangis sepanjang jalan. Matanya yang sebesar telor ceplok itu tinggal sebengkol jengkol yang basah terus-terusan. Ibu ikut-ikutan nangis juga. Aku tidak tahu mau apa, ikut nangis saja. Bertiga kami pulang, bertangis-tangisan sepanjang jalan. Orang-orang lain juga marah-marah karena soal ini. Mereka juga pulang ke kontrakannya sendiri-sendiri. Semua pulang dengan mata merah yang sama. Hujan turun, langit pun menyambut dengan cara yang sama.

Sorenya, Mak bersiap-siap keluar rumah.

”Ke mana?”

”Warung. Ada yang ketinggalan.”

”Apa yang ketinggalan?”

Mak menjawab dengan meloncat ke tengah hujan lebat. Air di depan sudah hampir masuk bedeng ini. Kilat sambar bersambut petir sekeras petasan lebaran, Ibu teriak keras-keras, Mak tak perduli lagi.

”Sudah. Ini angkat dulu.” Bapak menunjuk kasur bolong-bolong dan barang-barang lain di lantai.

Ibu menggaruk kepalanya sebentar, dan berbalik ke arah kasur. Sampai malam Ibu sibuk membantu Bapak mengangkati barang-barang. Kertas-kertas lusuh dipindah ke tempat paling tinggi. Tapi air seperti terus mengejar kami. Semakin kami naik semakin dia tinggi. Kepalaku menekuk di bawah atap bilik bambu berkapur tak rata. Kakiku menekuk rapat-rapat, perut lengket pada punggung. Ibu meringkuk seperti ayam kedinginan, Bapak juga tak kalah bulatnya. Aku kedinginan semalaman.

Malam itu aku bermimpi lagi. Ular besar itu menggulung warung dan bangku-bangku kami. Habis satu meja dan dua bangku, dia seperti belum puas juga. Kursi bekas punya tetangga ditelannya juga. Ular itu jadi makin besar. Sepanjang jalan depan sekolahan besar itu sudah habis dipenuhi badan lembeknya. Gelambir-gelambir kulitnya makin mengkilat dan keras saja. Tambah panjang dan lama-lama memenuhi jalan-jalan lain juga. Melingkar-lingkar seperti mau menelan semuanya. Moncongnya terus menggerus bangunan-bangunan dan semua yang kelihatan di sekitarnya. Tingkah ular besar ini pun diikuti hujan deras yang tak mau berhenti. Dan, kulihat lagi Mak meringkuk di kursi empuk bekas punya tetangga. Kelihatannya Mak menikmati kehujanan semalaman. Mungkin, sampai kami tahu apa yang dilakukannya.

Ibu, aku dan Bapak bangun kesiangan. Turun pelan-pelan, satu-satu. Banjir belum surut benar, masih setinggi lutut. Hujan sudah jadi gerimis kecil. Ibu tak mau menunggu lebih lama lagi. Ibu, Bapak dan aku pergi mencari Mak.

Di jalan kami bertemu becak lain.

”Mak Menik mati kehujanan.” Celetuk tukang becak itu.

Ya, Mak sudah mati. Duduk meringkuk di atas kursi bekas punya tetangga. Bibirnya biru, badannya biru. Dan seperti kata Ibu, tangisan tak menghentikan apa-apa. Semua ini aku ceritakan kembali, Ya Tuhan. Semua kuocehkan saja lewat mulutku yang juga biru, demi ketakutan yang belum lagi selesai. Demi ziarah yang tak ada habis-habisnya, ya Tuhan.



Keterangan:

Nama tokoh dalam film kartun

Mbakyu, Mbakyu Tukang Jamu. Marilah ke mari saya mau beli

Naiki

Lagu

Nama tokoh kartun yang lain

2002

***