serampang tigadua
Semak memudar, kering musim ini lebih sepi
dari kematian, kubur batu dan tubuh angin diam
selindap badan awan gelapkan langit, menawan
lidah-lidah yang membakar belukar. Lalat hijau
berdengung dalam kepalamu, tikus air yang laju
memburu jalan panjang lata itu, menyeret mimpi
mimpi legam perawan yang lelah terhisap pasi
bulan, pelacur yang memerak dalam kolam
paraumu. Jari-jarimu geletaran menunggu
batu hitam itu retak dan lahirkan masa silam arak
arakan mendung, menjelma bangsa kaum barzanzi
kau pencipta kesangsian yang menjurus segala tanya
pada bayangmu sendiri, jubah babi bulu-bulu lesi
muntahan sisa pesta sepanjang malam para pemabuk
lolong srigala tersihir seruan rahib-rahib jadi kawanan
anjing pasar, atas namamu sendiri Kunyalakan bara itu
menggarang kedalaman kerak kepalamu yang tak mungkin
menyentuh kaki yang begini tegak memaku, batu penjuru
langit. Aku tajwid, waktu kau bisikkan selamat malam
pada bulan yang tak lagi mengintip bibir rahim takbir
Aku udara, nanti bersaksi jika bayangan ratib berganti
jasad wong agung yang telah lelah dan terlupa bisa
menakutkan seekor ular hijau
takbirkedua, 2002
Tidak ada komentar:
Komentar baru tidak diizinkan.