Senin, Juli 28, 2003

bapak satu menit



minggu lalu bapak menonjok mataku dengan segulung koran. kubuka di perutnya ada cerita tentang aliran jalan damai. kumpulan orang-orang dungu dari negeri mata tersilet. kulihat gambar-gambar menangis; anak yang busung, ibu tersenyum murung, bapak kena kampak di tempurung kepalanya. burung terus berjemur di ranting-ranting. daun-daun meranggas.

tapi setiap yang tersungkur di depan pintu aliran jalan damai adalah harapan tentang hidup yang jumawa di atas samun pikiranku. dan yang teronggok di pintu belakang rumah nujum itu adalah rumput-rumput tanpa warna dan menunggu terbakar matahari.

aku tengadah pada langit yang berkumis tipis itu. bapak tak lagi berdiri di kelas. tak lagi jenak di kursi para wali. bapak juga bukan dewa; mati dalam senyuman. aku lihat bapak mengetuk-ketuk pintuku. mondar-mandir di rumah sambil mengacung-acungkan dupa. kubaca dalam buku bergambar dupa itu bercampur dengan candu dan cendawan. aku baca lagi buku bergambar seperti tulisan bapak di koran minggu lalu.

050603

Tidak ada komentar: