riwayat kasim
gebalau dingin suara-suara samun itu menggigir di tubir-tubir ruhku lewat pecahan cahaya yang leleh dari kelamin para penyamun. dikangkangi lelaki yang menjelma bapak di tikungan selindap pertigaan itu aku hanya bisa mengerakkan korek merah jambu dalam permainan farji gaun pengantin ibu. di langit yang membius dengan seribu rimbun rambut-rambut lembut dari telapak nganga aku dimuntahkan oleh anjing berdarah pisau lipat berlapis mantra penjinak zakar bergelibatan antara tiang-tiang bendera
aku lumer serupa setan-setan mungil berloncatan dalam hasrat mengatasi ketakutan habsi, menanting gumpalan kapas bersarung sutra piningit. antrian kucing pasar seperti ingin merayakan kelahiranku dengan onani bersama teriring madah kelana - syair-syair berdarah - dan sunatan masal. tak ada tuhan yang bersamadi melebihi lendir dan kilatan-kilatan sisikku. bulan pucat, menyimpan cemburu yang lurus pada surat-surat kawat. padahal selalu ada hati untuk pemesan jantung dalam pesta tempik setan-setan berjubah keniscayaan
semoga jalan-jalan tak lagi berlari saat tanganku turun dan menjejalkan pecahan botol kosong di gelambir susu ibu dan terkeratlah kertak tulang selangkamu oleh bias semburan nafasku yang lembur rangkai anusmu seperti lukisan-lukisan telinga patah berbalut kedunguan cantik dari negeri kincir angin. meski angin tak akan pernah lewat untuk sekedar melepas pemberangkatanmu menuju tonggak-tonggak paloma kita yang nyeringai angkuh. mari masuk ke rangka rengat dan karatku, maka kau akan temui wujudmu yang paling kasim
052003
Tidak ada komentar:
Komentar baru tidak diizinkan.