tak adakah lagi waktu untukku
atau sedang begitu khusyuk
merenda gaun pengatin putihmu
menyulam benang demi benang
bingkisan terindah bagi suamimu
aku hanya mata yang buta dan cemburu
menangis dalam malam yang lapar
haus akan kasihmu
kelembutanmu tak mungkin
kulupa. jika pun bisa
yang kulakukan hanya membunuh
kesunyian ini dengan tanda-tanda luka
di baris tembok merah atau berlin sana
pada lorong-lorong gelap
dimana matahari adalah impian para peziarah
dan gedung-gedung tinggi jadi selimut kabut
dengan darah dan nanah
leleh pada tanah yang merah
menciumi tiap suara poster
yang sembunyi dari panas, hujan, debu
dan vandalisme
aku melolong
mengais sepi
demi seliup pertemuan
paling tipis pun
aku mengerak, aku melembur raga
kupecah lima agar engkau tahu
semuanya hanya untukmu
dada yang buram
untuk kasih yang tak pernah
lengkap pahami tiap bulir rima
dari geliatku ketika pagi datang
kau seduhkan kopi, tapi bukan aku
dan saat terbangun aku hanya ngungun
adakah aku baru bermimpi jadi belalang
atau belalang yang sedang mimpi
tentang kasihmu, menjelma manusia
aku meregukmu lebih dari yang kumau
060803