lihat mataku
lebih dalam dari laut
prasangka bebalmu
lihat mataku
tapi aku sangsikan matamu
benarkah itu yang terindah
yang kutahu cuma sepasang mata
bola di balik celana yang kedodoran
goni tali rami dan seribu kutu busuk
kepinding atau bangsat
lalu gatal
mulai kau garuk
dengan air hangat suam
seperti waktu kau tarik
cacing, lubang yang sama
sumur mati, dimana bisa kau dengar
gema suara kertap saat kau buka
dan tutup matamu, biru daun tua
menyarangkan seekor anjing
dalam tarian bumi kelangkang
Minggu, Desember 28, 2003
perahu kertas kita, yayi
: just 4 Uul
tapi ingatkah kau ketika kanak-kanak
kita lepaskan dua perahu di arus kecil
kali belakang rumah dekat sawah
lalu kau tersenyum
seperti mau terus saksikan perahumu
laju terbawa arus yang gericik sampai
seperti kau awasi dari tiang pengintai
kalau-kalau ada batu karang dan rompak
mengalang pandang
sesekali kau lompat ke geladakku
dimana hanya suling gembala, desau angin
dan nafasku yang makin kuning mengiringmu
dari arus buta dan mabuk
kau masih senyum
waktu ujung hidungnya sandar
entah di pelabuhan atau terdampar
tapi kau nyaris sampai ke ujung senja
dari sela akar bakau kau rintihkan tanda
akankah perahuku merapat dekat
dekat senyummu
tapi ingatkah kau perihal perahu-perahu
kita yang hanyut, basah dan tak lagi wujud
di sela akar bakau kertas itu bertanya
:*:*:*
tapi ingatkah kau ketika kanak-kanak
kita lepaskan dua perahu di arus kecil
kali belakang rumah dekat sawah
lalu kau tersenyum
seperti mau terus saksikan perahumu
laju terbawa arus yang gericik sampai
seperti kau awasi dari tiang pengintai
kalau-kalau ada batu karang dan rompak
mengalang pandang
sesekali kau lompat ke geladakku
dimana hanya suling gembala, desau angin
dan nafasku yang makin kuning mengiringmu
dari arus buta dan mabuk
kau masih senyum
waktu ujung hidungnya sandar
entah di pelabuhan atau terdampar
tapi kau nyaris sampai ke ujung senja
dari sela akar bakau kau rintihkan tanda
akankah perahuku merapat dekat
dekat senyummu
tapi ingatkah kau perihal perahu-perahu
kita yang hanyut, basah dan tak lagi wujud
di sela akar bakau kertas itu bertanya
:*:*:*
Lolita Compleks
Kau pasti pernah mengenalnya. Dan kalau pun kau belum mengenalnya, kau pasti ingin mengenalnya. Persoalannya beranikah kau mengenalnya? Sebab dengan mengenalnya kau pun akan mengenal dirimu sendiri, eh..... siapa tahu? hahahahahaha.....
Gadis itu namanya Lolita. Tapi kali ini bukan hasil rekayasa genetikanya si gila Freud :) Lolita, teman kita ini, kebetulan punya nama dengan salah satu tokoh kompleksnya si Mumund itu. Sebagai gadis penghuni puri keluarga bangsawan sudah barang tentu Lolita tak boleh sembarangan keluar dari lingkungannya. Lebih-lebih setelah diketahui keluarganya kalau ia sedang menjalin hubungan jalan belakang dengan seorang pemuda biasa dari desa setempat bernama Freddy, maka derita gadis pingitan pun makin terasa di pundaknya :(
Sementara itu ada juga pemuda ningrat(-an) berparap Marcel yang sudah dikenal baik oleh keluarganya dan beberapa kali tembakannya ditolak oleh Lolita. Satu kali Freddy absen dari kunjungan diam-diamnya, beberapa hari Lolita menemukan tempat kencannya tanpa kehadiran Freddy. Dengar-dengar si Freddy sakit keras. Mengetahui ini tentu saja gadis kita bingung tak ada ujung, tiap hari dan malamnya berubah jadi serangga menakutkan dan kecemasan.... Keluar rumah jelas ga mungkin, menunggu sampai pangerannya sembuh rasanya kok ya sudah tak sabar lagi.
Alhasil, datanglah bintang jatuh Marcel dengan sejuta senyum khasnya menawarkan bantuan yang diharapkan dengan sedikit imbalan.......
"Putriku, hamba bersedia menyerahkan seluruh jiwa dan ragaku guna membantumu menemui kekasihmu. Sebab aku bukan orang yang tahan melihat jerat cinta yang begini mencekik. Begini mencekik...." Ujar Marcel persis kuda liar...... asalkan Lolita mau menyumbangkan sedikit tanda gadisnya pada si ular beludak ini......
Demi dorongan rasa yang tak tertahankan lagi untuk segera menemui kekasihnya, demi cinta yang tak terlukiskan oleh tangan-tangan Eva, maka berangkatlah Lolita menjelang ranjang sakit pangerannya diantarkan nafas bintang jatuh Marcel yang berdengusan dan berpeluh-peluh yang berleleran.
Sesampainya Lolita di sisi ranjang Freddy, maka seperti kebanyakan yuyu-kangkang Marcel pun bersijingkat tenang, perlahan tapi pasti. Ular beludak itu pun pergi.
Tak lama ditunggui limpahan kasih dari sang putri tercinta kesehatan dan kebugaran
Freddy pun pulih seperti sedia kala. Namun, rupanya ada yang tak terpulihkan ketika dia mengetahui keadaan putri pujaannya itu telah kehilangan harga di matanya. Berat memang, tapi Freddy lebih suka melakukannya, meski dia tahu Lolita tak mungkin lagi kembali ke dalam puri.
Alih-alih menghilangkan rasa bersalah Freddy melakukan lari estafet dengan Lolita sebagai piala bergilirnya. Dengan tenang Freddy menyerahkan Lolita pada seorang sahabatnya, yakni Edward atau biasa dipanggil Edo. Sebagai sahabat paling dekat Edo merasa perlu membantu Freddy, namun dia juga merasa ada hal yang tak nalar kalau dia sampai menerima Lolita sebagai isterinya.
"Maafkan aku, Lolita..." Ujar Edo sepeninggal Freddy. "Aku punya seorang sahabat lagi......eee, mungkin dia bisa menerimamu di rumahnya...uhh."
Edo pun mengantarkan Lolita ke rumah sahabat yang telah dijanjikan, yakni Chandra. Dengan penuh kehati-hatian, Chandra menerima kedua tamunya. Dengan penuh perhatian dia dengarkan cerita mereka. Dengan mata seperti tersayat selaksa tanda tanya dari retak fajar pertama akhirnya Chandra angkat bicara, "ehmm....baiklah Lolita engkau tinggal di gubug ini dan jadilah penghuni baru dalam rumah hatiku..."
Cerita begituan benernya dah jayus banget, yah:):"> Masalahnya kemudian kloar pertanyaan di pala gw dari antara kelima tokoh utama kita, siapakah yang kata'lo paling bener, bener, rada bener, salah, dan paling salah. Masing-masing tokoh dah dapat tempat, kan? Jawaban itu bakal nunjukin sebagian dari diri lo, kaya gimananya lo.....? Buat yang penasaran jawaban bisa dikirim ke-email gw, biar privacy kejaga. Ok? cunxttm;;)
Gadis itu namanya Lolita. Tapi kali ini bukan hasil rekayasa genetikanya si gila Freud :) Lolita, teman kita ini, kebetulan punya nama dengan salah satu tokoh kompleksnya si Mumund itu. Sebagai gadis penghuni puri keluarga bangsawan sudah barang tentu Lolita tak boleh sembarangan keluar dari lingkungannya. Lebih-lebih setelah diketahui keluarganya kalau ia sedang menjalin hubungan jalan belakang dengan seorang pemuda biasa dari desa setempat bernama Freddy, maka derita gadis pingitan pun makin terasa di pundaknya :(
Sementara itu ada juga pemuda ningrat(-an) berparap Marcel yang sudah dikenal baik oleh keluarganya dan beberapa kali tembakannya ditolak oleh Lolita. Satu kali Freddy absen dari kunjungan diam-diamnya, beberapa hari Lolita menemukan tempat kencannya tanpa kehadiran Freddy. Dengar-dengar si Freddy sakit keras. Mengetahui ini tentu saja gadis kita bingung tak ada ujung, tiap hari dan malamnya berubah jadi serangga menakutkan dan kecemasan.... Keluar rumah jelas ga mungkin, menunggu sampai pangerannya sembuh rasanya kok ya sudah tak sabar lagi.
Alhasil, datanglah bintang jatuh Marcel dengan sejuta senyum khasnya menawarkan bantuan yang diharapkan dengan sedikit imbalan.......
"Putriku, hamba bersedia menyerahkan seluruh jiwa dan ragaku guna membantumu menemui kekasihmu. Sebab aku bukan orang yang tahan melihat jerat cinta yang begini mencekik. Begini mencekik...." Ujar Marcel persis kuda liar...... asalkan Lolita mau menyumbangkan sedikit tanda gadisnya pada si ular beludak ini......
Demi dorongan rasa yang tak tertahankan lagi untuk segera menemui kekasihnya, demi cinta yang tak terlukiskan oleh tangan-tangan Eva, maka berangkatlah Lolita menjelang ranjang sakit pangerannya diantarkan nafas bintang jatuh Marcel yang berdengusan dan berpeluh-peluh yang berleleran.
Sesampainya Lolita di sisi ranjang Freddy, maka seperti kebanyakan yuyu-kangkang Marcel pun bersijingkat tenang, perlahan tapi pasti. Ular beludak itu pun pergi.
Tak lama ditunggui limpahan kasih dari sang putri tercinta kesehatan dan kebugaran
Freddy pun pulih seperti sedia kala. Namun, rupanya ada yang tak terpulihkan ketika dia mengetahui keadaan putri pujaannya itu telah kehilangan harga di matanya. Berat memang, tapi Freddy lebih suka melakukannya, meski dia tahu Lolita tak mungkin lagi kembali ke dalam puri.
Alih-alih menghilangkan rasa bersalah Freddy melakukan lari estafet dengan Lolita sebagai piala bergilirnya. Dengan tenang Freddy menyerahkan Lolita pada seorang sahabatnya, yakni Edward atau biasa dipanggil Edo. Sebagai sahabat paling dekat Edo merasa perlu membantu Freddy, namun dia juga merasa ada hal yang tak nalar kalau dia sampai menerima Lolita sebagai isterinya.
"Maafkan aku, Lolita..." Ujar Edo sepeninggal Freddy. "Aku punya seorang sahabat lagi......eee, mungkin dia bisa menerimamu di rumahnya...uhh."
Edo pun mengantarkan Lolita ke rumah sahabat yang telah dijanjikan, yakni Chandra. Dengan penuh kehati-hatian, Chandra menerima kedua tamunya. Dengan penuh perhatian dia dengarkan cerita mereka. Dengan mata seperti tersayat selaksa tanda tanya dari retak fajar pertama akhirnya Chandra angkat bicara, "ehmm....baiklah Lolita engkau tinggal di gubug ini dan jadilah penghuni baru dalam rumah hatiku..."
Cerita begituan benernya dah jayus banget, yah:):"> Masalahnya kemudian kloar pertanyaan di pala gw dari antara kelima tokoh utama kita, siapakah yang kata'lo paling bener, bener, rada bener, salah, dan paling salah. Masing-masing tokoh dah dapat tempat, kan? Jawaban itu bakal nunjukin sebagian dari diri lo, kaya gimananya lo.....? Buat yang penasaran jawaban bisa dikirim ke-email gw, biar privacy kejaga. Ok? cunxttm;;)
Rabu, Desember 24, 2003
pulang
aku tenggelam di kedalaman matamu
yang terpagut burung-burung hantu.
aku pulang, merabai jalan kembali
semoga bapak ingat, anakmu
yang sempat hilang
kota asing pada wajahku
yang tak mau menjelma waktu
dan makin tua aku larut
dalam peraman buta
yang lebih malam dari hitam
dan jika kelak kita bertemu
mungkin kau pasang harga
pada ujung ranjang kita
22-12-03
yang terpagut burung-burung hantu.
aku pulang, merabai jalan kembali
semoga bapak ingat, anakmu
yang sempat hilang
kota asing pada wajahku
yang tak mau menjelma waktu
dan makin tua aku larut
dalam peraman buta
yang lebih malam dari hitam
dan jika kelak kita bertemu
mungkin kau pasang harga
pada ujung ranjang kita
22-12-03
Jumat, Desember 12, 2003
Maria, Julia dan Aku
Masih pagi yang sama dan Julia telah kehilangan dua orang buruannya. Pertama seorang lelaki yang setengah asing baginya. Kedua, perempuan matang, yang kemudian dikenalnya bernama Maria, penunjuk jalannya menuju lelaki setengah asing itu, yang lebih asing lagi darinya. Jejak yang tersisa hanyalah sebuah rumah dinas yang menggigil dan bersegel kuning barang sah milik dinas kepolisian. Dan, ia sendiri yang masih juga tak percaya.
?Begitulah dia,? Ujar Maria memulai ceritanya tentang lelaki setengah asing, yang selalu membuatnya penasaran itu. ?Sebenarnya dia hanya akan menunggu setiap yang datang, memberikan sedikit tempat buat menyambung nafas.?
Pagi kemarin, dengan seluruh nafas yang berdenyutan Julia mengadu untung menemui Maria di rumah dinasnya. Sedikit keberanian yang dipaksakan ada pada dirinya sendiri itu telah menghasilkan kalimat panjang lebar dari perempuan berkaca-mata minus itu. Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan Maria tentang dirinya yang telah begitu berhasrat mencari lelaki carut-marut itu. Satu hal yang pasti mulut perempuan matang itu terus saja berkomat-kamit, seperti membaca mantra atau rapalan tertentu yang dihapalnya di luar kepala. Dari cara bicaranya pun segera tertangkap kesan kalau mereka memiliki carut-marut perasaan yang bermuara pada lelaki setengah asing itu.
?Setelah dua atau tiga hari mendudukan dirinya di taman kota itu maka dia segera tahu kalau aku punya sedikit perhatian padanya. Sebenarnya perhatianku bukan pada tampangnya yang cenderung cantik atau perawakannya yang matang itu, melainkan lebih pada kebiasaannya itu sendiri. Kebiasaan duduk berlama-lama, di satu tempat, pada tiap jam yang sama. Ini membuatku tertarik lebih dari sekadar kegemaran naif pada permainan liar dan cermatnya di atas ranjang. Bukan, sekali-kali bukan karena itu, sekalipun itu bisa jadi catatan tersendiri secara panjang lebar. Sekali lagi, kebiasaan itulah kuncinya. Tolong catat itu lebih dari yang lain.
Aku sendiri baru satu minggu sejak dimutasikan pada Bank di belakang areal taman itu, saat melihatnya untuk kali pertama. Mula-mula aku menganggapnya sebagai orang yang sedikit kelebihan waktu sebelum berangkat kerja. Sambil menunggu bis kota atau apa, dia habiskan waktunya dengan memajang diri begitu rupa. Selebihnya, sentuhan matahari pagi pun cukup menjadikannya punya alasan untuk mendapat sedikit kehangatan dan kesehatan. Tapi, pikirku kemudian, penampilannya kurang lazim untuk seorang pekerja. Pakaiannya tidak cukup mendukung anggapan pertamaku itu. Kamu sendiri di ruangan kantormu tentu kesulitan mencari partner yang bisa bebas dengan ketsnya. Ah, coba dulu minumannya sebelum leher jenjangmu kekeringan.....?
Hati-hati Julia meneguk minuman itu karena tak ingin merusak suasananya. Sejak titik ini, Maria mulai lebih lancar dari setengah jam sebelumnya.
?Bahkan sebagai pekerja kerah biru pun jelas sekali dia tak punya potongan.? Lanjut bibir senja yang merona ditimpa fajar itu. ?Memasuki minggu kedua sejak kali pertama melihat tingkahnya itu aku mulai menyadari kalau dia tengah menunggu sesuatu atau seseorang tepatnya. Hari ketiga minggu kedua itu juga matanya mulai bisa memaksaku bertukar senyum dengannya. Senyumku mungkin berarti tegur sapa calon tetangga, sedang miliknya ? seperti yang kau lihat juga, kusadari kemudian ? mengandung dorongan yang lebih dalam dari sebuah ketekunan. Menurutku, seperti retakan ice cream saat gigitan pertama. Beberapa kali aku berusaha mencari tahu sampai berapa lama dia bertahan duduk di situ setelah setiap pagi biasanya. Setahuku, setiap aku pulang kerja dia sudah tak ada di taman itu. Maka, aku coba luangkan waktu saat jam istirahat buat sekadar memeriksa batang hidungnya, juga tak ada.
Jum?at minggu kedua sengaja aku berangkat dua jam lebih siang dari biasanya dan dia ternyata masih duduk di tempatnya. Sabtu pagi, agak malas aku bangun dan setelah berbenah aku keluar cari sarapan. Tepat tiga jam dari kebiasaanku berangkat kerja, taman itu sudah dipenuhi banyak orang, terutama kaum tua, dan dia sudah tak ada lagi di sana.
Segera kusimpulkan kalau dia memang menunggu sesuatu setiap pagi selama tiga jam lebih, satu jam sebelum dan dua jam sesudah jam masuk kerjaku. Tapi, aku tak pernah tahu apa dan siapa yang ditunggunya. Dia memang mengambil waktu sekitar jam berangkatku, tapi itu saja tidak cukup membuatku merasa sebagai orang yang ditunggu-tunggu itu. Jadi aku memang digariskan untuk tak pernah tahu sasaran yang ditunggunya sampai aku memberanikan diri bertanya waktu itu. Memberanikan diri terhadap pandangan orang di sana atau teman kerjaku yang kebetulan lewat. Aku menguatkan diri pada celaan yang muncul dari kepalaku sendiri. Bisa kau bayangkan, aku seorang staf akuntan sebuah bank terkemuka milik pemerintah disibukkan dengan perhatianku pada seorang lelaki asing yang terbiasa duduk-duduk di salah satu sudut taman kota. Hahahahahaha.....
Toh, akhirnya aku berhenti juga. Menyapanya sekilas dan segera semuanya berubah, seperti tengah malam paling hening saat terjadinya pergeseran hari menjelang esok. Lalu kami berjalan menyusuri pinggang taman itu, bercerita tentang beberapa hal di sela senyum dan sorot matanya. Selebihnya, dia menjadi penghuni baru di rumah ini. Tapi, maaf aku tak bisa memberikan satu nama pun padamu untuk menyebut atau memburunya. Sebab, buatku nama tak menjadi soal dan sikap selalu lebih penting dari sekadar kartu pengenal apa pun, kau tahu maksudku.
Terus terang aku merasa pernah berhubungan dengan orang macam ini, jauh sebelum ini. Berhubungan dengan orang yang bisa mencukupi nyaris semua kebutuhhanku. Uang, kehormatan, dan....seks, tentu saja, seperti yang kau harapkan bakal keluar dari mulutku. Perhatiannya yang besar membuat setiap yang dekat dengannya akan merasa nyaman dengan sendirinya. Bisa jadi itu wajar, mengingat dia adalah site manajer sebuah grup supermarket di tempatku kerja waktu itu. Satu hal yang sedikit menarik mungkin karena aku harus rela melepaskan posisi bagusku di sana hanya karena kami berencana menikah. Sekalipun baru sebatas rencana. Padahal kau tahu, untuk mendapatkan,? Maria berhenti sejenak meneguk minumannya, ?site manajer itu aku musti siap pula meninggalkan pasanganku yang lain, seorang analis komputer jempolan.
Tentang yang terakhir, analis komputer itu, dia benar-benar jembatan emas buatku. Dari semula aku hanya berencana menggunakan statusnya sebagai dosen bantu pada lab komputasi di Fakultasku untuk menghacurkan nilai setiap orang yang telah merusak jalanku. Salah satunya adalah seorang teman sekelas yang sama sekali tak tahu diri, seorang mahasiswi bermoral yang kehabisan tempat. Hmm, setelah kubantu pindah tempat tinggal ke tempat kosku, perlahan-lahan ia mulai menelikungku dari balik selimut. Mengaduku dengan ibu kos yang rupanya lebih mempercayai orang baru ini dan mengusirku hanya karena adegan kecil suatu petang di teras rumah. Ah, aku benar-benar tak ingin melihat wajahnya lagi sejak itu. Biar dia hadapi kehancuran berulang-ulang di bangku yang sama dengan moralitasnya. Juga yang lain, semua yang telah seenaknya mempermainkan aku menjadi mangsa empuk analis komputerku itu. Begitulah, sementara waktu berjalan dan kelulusanku menjadi dentang bel berakhirnya menikmati waktu di atas jembatanku. Maaf, mungkin aku bukan perempuan lembut yang cukup pantas kau jadikan sosok ibu yang kau cari-cari. Tak pernah terbayang sekilas pun dalam benakku gambaran menjadi seorang ibu. Menjijikkan sekali bahwa perempuan dipaksa melahirkan dan membesarkan anak-anak, sementara lelakinya asyik bermain-main di luaran.
Dia, maksudku partnerku yang site manajer dulu itu, datang tepat waktu. Begitu bel akhir itu berdentang teramat keras, begitu saja dia menyelinapkan dirinya lembut-lembut ke balik selimutku. Dan, jembatan emas itu pun hancur berkeping-keping. Kudengar sebentar kemudia dia nikahi adik kelasku yang cantik, beranak, lalu diceraikannya lagi. Beberapa kali dia menelponku di antara sekian dering yang lain. Tapi, telpon di tempatku rupanya sudah terlanjur mengikat diri pada basement pusat perbelanjaan baru itu. Malahan waktu telponnya membisik-bisikkan gesekkan lembut selimut dan ranjang merah jambu, hahahahaha...anggrekku cuma senyum tipis dengan desahan lirih setengah merintih, yang aku yakin akan membuat analis komputer itu makin terguncang-guncang di atas cadiknya yang rapuh. Kubilang satu kali menjawabnya.....
?Sudahlah, belajarlah dari sedikit, buanglah sampah pada tempatnya. Dan menuai benih dari yang kautaburkan.? Lalu terdengar kertak gigi di seberang, suara gagang telpon terbanting keras dan ngiiiiing. Baik, akan kuteruskan sendiri, semuanya. Kalau kau sendiri sudah terserang penyakit gagu dan gagap dalam mengiblatkan jalanmu sampai kau datang ke rumah dinas ini. Sedikit banyak kau pasti tahu, apa itu monolog. Dulu aku suka juga melihat pertunjukkan biarpun sedikit.
Benar, bukan cuma perhatian dan kehormatan yang aku dapatkan dari site manajerku itu. Lebih dari itu, kehangatan bisa aku nikmati setiap saat, di tempat paling dingin sekali pun. Justru dari karena site manajerku itu datang dari kota dingin. Di atas kotanya dia benar-benar kuda liar, baik di jalanan maupun di tengah ranjang. Serangan gencarnya membuatku berkali-kali kewalahan. Sekali putaran aku bisa mencapai tiga sampai lima puncak dengan resiko seluruh tulang serasa berlepasan. Dan anggrekku, ah anggrekku seperti dirajam pisau bermata seribu. Darahnya sulit berhenti, tapi sungguh ngilu yang kunikmati. Biasanya setelah saat-saat yang dahsyat itu kami menghabiskan waktu dalam buaian mimpi indah sebuah puri di gigir telaga yang seluruhnya diliputi cahaya remang. Sepasang angsa menggiring angin di wajah telaga yang pias oleh cahaya bulan setengah telanjang. Hahahahaha....
Saat-saat indah dalam hidupku. Setelah sekian kerikil tajam menisik dan mengantuk kakiku. Mungkin hanya satu orang yang bisa mengalahkan kegilaan macam ini. Kegilaan dan kenikmatan yang pekat. Ya, mungkin hanya satu orang yang sanggup mengalahkan rekor site manajerku. Sekali pernah kudaki tujuh puncak sekaligus, lalu aku benar-benar jadi sejenis lolita di sana. Di sisi novel pertamaku, lelaki kecil dan naif yang aku yakin masih menunggu sampai saat ini, setelah sekian penerbangan bersama analis komputer dan site manajerku. Lelaki kecil dan naif.....lebih tepatnya seorang bocah gembala yang selalu kekanakan. Entah sampai kapan, sebab kami dipertemukan dalam musim kawin pertama tahun kedua kuliahku. Selayaknya setiap musim kawin pertama, si kecil ini pun terlanjur melingkarkan cincin akar rumput di jari manis batinku.
Tak cuma soal tujuh puncak itu reputasinya, selalu dia mengakhiri perjalanan kami dengan basuhan-basuhan lembut di tubuhku yang basah dan membawaku terentang antara kaki langit gumpalan awan putih. Ah, sudahlah biarkan dia menghuni albumku yang berdebu dan lapuk sendiri suatu hari nanti.? Maria seperti mengalami kesulitan untuk keluar dari labirin masa lalunya. Kernyit kecil mempertajam bola matanya yang menjauh.
?Lalu, bagaimana tentang basementmu....?? Julia berusaha memperbaiki keadaan.
?Oya, kami berencana menikah. Baiknya langsung saja dari situ. Tapi, selalu aku harus berhadapan dengan masalah keluarga. Dia punya seorang ibu dari sejenis ular aristokrat sejati. Bermulut tajam, memandang orang lain dengan mata yang selalu mengantuk, penuh gairah dan sedikit culas. Bapaknya tak jauh beda. Macan kampung, tuan tanah puluhan hektarare, berkulit dan hidung belang-belang. Pada kekasih anaknya pun sempat mendenguskan nafas mesumnya. Semua ini yang membuat kami bertahan hanya lewat jalan belakang. Sampai, entah bagaimana, keluargaku mencium hubungan kami yang aga kelewatan itu. Papi memintaku pulang kampung secara mendadak. Sampai di sana aku dihadapkan pada sidang keluarga. Keluarga besar Mami datang semua. Tak ketinggalan seluruh warga dari garis Papi datang bertandang. Lalu sidang dibuka oleh Eyang Sepuh ? kakak tertua Eyang Kakung dari Mami.
?Aapa yang sudah kamu lakukan, Nduk? Mamimu nangis ndak habis-habis.? Eyang Sepuh mulai mendesakku.
Aku bergeming dan terus saja berusaha sekerasnya memperjuangkan pertahananku. Tapi sidang kemudian memutuskan agar aku memeriksakan diri ke dokter. Mami diutus sebagai pengantar pemeriksaan diriku. Dari sanalah bermulanya pergeseran hari. Semua mulai membaca dan mengulitiku habis-habisan. Untung mereka tahu hanya sebatas itu. Lalu tuntutan diajukan pada site manajerku beserta keluarga. Sampai di situ, habislah semuanya. Ibunya marah besar, mulutnya menyemburkan bisa. Bapaknya mengamuk sejadi-jadinya, menggeram dan mencabik-cabik hargaku dengan kuku di tiap ujung lidahnya. Dan makin tertampar aku waktu site manajer itu cuma diam, tertunduk kelu dan sekali bersuara.
?Buka aku yang pertama...?
Bagus, tampaknya semua batu harus diangkat oleh sisiphus yang sama. Sejak itu kuputuskan untuk menjalani hidup selibat tanpa sakramen, lepas dari keluarga dan siapa pun yang selama ini mengikatku. Menerbitkan dan menggelamkan sendiri matahariku. Sampai suatu pagi, aku lihat lelaki asing kita di sudut taman itu.
Dari semula aku tak berharap banyak darinya. Aku hanya tertarik pada kemauannya menunggui patung-patung batu di taman itu. Sekali tempo, sempat terpikir olehku, kalau dia tak hanya menunggu melainkan membasuh tubuh dewa-dewi di sekitar kolamnya juga. Tapi, pikiran-pikiran cengeng itu segera kuempaskan lagi dan terjadilah yang musti terjadi. Sejak dia menghuni rumah ini, tak sekali pun kutanyakan pekejaannya atau mengungkit-ungkit kebiasaannya memandang jauh keluar pagar taman setiap pagi sebelumnya.
Pagi-paginya kemudian diisi dengan membangunkan aku dengan ciuman lembut. Menyiapkan sarapan dan secangkir kopi dengan cream. Melepaskan aku pergi dan menutup pintu pagar lagi. Selebihnya aku tak tahu. Yang pasti aku melihatnya adalah sambutan hangatnya ketika aku pulang kerja. Membantuku melepaskan perlengkapan kerja satu per satu. Menyeka tengkuk, punggung dan beberapa bagian lain dengan handuk hangat. Sementara makanan kecil dan lemon tea sudah tersedia. Tiap malam kami isi dengan acara televisi atau permainan atau obrolan ringan seputar masalah umum. Selain menyiapkan makan malam, kalau kebetulan badanku terlalu capek untuk keluar rumah, tak lupa dia menyuguhiku santapan utama pengantar tidur.
Pernah sekali waktu, aku mencuri tahu kebiasaannya setelah larut malam. Kulihat pintu kamar kerja sedikit terbuka dan ada cahaya biru remang keluar dari mulut pintu. Kuperhatikan dia tercenung di depan layar monitor di sana. Entah sedang menulis apa, aku tak terlalu yakin dengan mata telanjangku pada jarak lebih dari lima meter. Kegugupan segera menyerang waktu dia menyadari kedatanganku, dia menengok ke arahku dengan pandangan tajam. Dia menghampiri dan aku menggigil dalam gelap, matanya seperti srigala lapar.
?Tidak baik membiasakan diri dengan pencurian...? Senyumnya masih bisa kubaca lewat berkas cahaya tipis dari monitor. Aku tertunduk lemas. Dia menuntunku kembali ke kamar dan menina-bobokanku dengan usapan lembut di kepala. Lamat-lamat Schubert merintih lewat Ave Maria.
Baik, semuanya telah kubeberkan, hanya karena aku perlu seorang teman bicara yang bisa dipercaya. Semuanya, sampai dia mendadak hilang sekarang. Sampai kau datang hari ini. Sekarang, mungkin giliranmu....? Perempuan matang berkaca-mata kecil itu seperti sedang melepaskan pukat ke depannya.
?Maksudku, sekarang mungkin giliranmu untuk bercerita. Barangkali kau sendiri punya sesuatu yang menarik untuk kita dengarkan siang ini.?
?Ee, begini. Ini tak lebih dari sekedar...?
Julia memulai tentang perjalanan kariernya sebagai reporter muda pada sebuah tabloid wanita. Juga tentang perasaannya pada lelaki setengah asing itu. Bahwa ia seperti pernah akrab dengan lelaki itu. Bahwa ia seperti bisa membayangkan apa yang dilakukan lelaki itu saat ini. Semua diketahuinya berdasarkan pengamatannya pada beberapa kasus serupa yang pernah dikejarnya. Tapi, satu hal yang tak pernah dibukanya pada Maria adalah bahwa lelaki jenis ini lebih berbahaya dari ular maupun srigala lapar. Dia dilahirkan sebagai jenis kegilaan yang melebihi guru besar kegilaan dari RS. John Hopkins, Hannibal Lector.
Bayangan yang dulu masih disimpannya itu kini telah terbukti, mungkin. Selain pita kuning tand panyegelan, kepolisian wilayah kota juga memberikan informasi.
?Kasusnya bunuh diri. Motifnya belum pasti. Masih dalam proses.?
Rumah dinas itu masih menggigil pagi ini, ketika Julia hendak beranjak pergi dan melepaskan sisa pandangan terakhir pada bangunan ngungun itu. Ia sadar benar, banyak kasus bunuh diri yang hanya bersaksi dinding bangunan itu sendiri. Julia sudah akan beranjak pergi waktu seseorang berbisik lembut dari belakang telinga kirinya, waktunya sudah habis, mari.....
medio1999-2003
________________________
Susilo, penulis lepas tinggal Jl. Karangmenjangan 68A, Surabaya, karya-karyanya pernah dimuat dalam; Antologi Puisi I Puska 1992, Jurnal Sastra Jejak ? Gapus Unair 1998, Majalah Aksara, Majalah Jayabaya, Majalah Liberty, Harian Surabaya News, Harian Sinar Harapan, Harian Berita Sore, Tabloid Mitra Rakyat, Tabloid The Smile File, www.cybersastra.net, www.puisi.crimsonzine.net, dan www.pintunet.com
?Begitulah dia,? Ujar Maria memulai ceritanya tentang lelaki setengah asing, yang selalu membuatnya penasaran itu. ?Sebenarnya dia hanya akan menunggu setiap yang datang, memberikan sedikit tempat buat menyambung nafas.?
Pagi kemarin, dengan seluruh nafas yang berdenyutan Julia mengadu untung menemui Maria di rumah dinasnya. Sedikit keberanian yang dipaksakan ada pada dirinya sendiri itu telah menghasilkan kalimat panjang lebar dari perempuan berkaca-mata minus itu. Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan Maria tentang dirinya yang telah begitu berhasrat mencari lelaki carut-marut itu. Satu hal yang pasti mulut perempuan matang itu terus saja berkomat-kamit, seperti membaca mantra atau rapalan tertentu yang dihapalnya di luar kepala. Dari cara bicaranya pun segera tertangkap kesan kalau mereka memiliki carut-marut perasaan yang bermuara pada lelaki setengah asing itu.
?Setelah dua atau tiga hari mendudukan dirinya di taman kota itu maka dia segera tahu kalau aku punya sedikit perhatian padanya. Sebenarnya perhatianku bukan pada tampangnya yang cenderung cantik atau perawakannya yang matang itu, melainkan lebih pada kebiasaannya itu sendiri. Kebiasaan duduk berlama-lama, di satu tempat, pada tiap jam yang sama. Ini membuatku tertarik lebih dari sekadar kegemaran naif pada permainan liar dan cermatnya di atas ranjang. Bukan, sekali-kali bukan karena itu, sekalipun itu bisa jadi catatan tersendiri secara panjang lebar. Sekali lagi, kebiasaan itulah kuncinya. Tolong catat itu lebih dari yang lain.
Aku sendiri baru satu minggu sejak dimutasikan pada Bank di belakang areal taman itu, saat melihatnya untuk kali pertama. Mula-mula aku menganggapnya sebagai orang yang sedikit kelebihan waktu sebelum berangkat kerja. Sambil menunggu bis kota atau apa, dia habiskan waktunya dengan memajang diri begitu rupa. Selebihnya, sentuhan matahari pagi pun cukup menjadikannya punya alasan untuk mendapat sedikit kehangatan dan kesehatan. Tapi, pikirku kemudian, penampilannya kurang lazim untuk seorang pekerja. Pakaiannya tidak cukup mendukung anggapan pertamaku itu. Kamu sendiri di ruangan kantormu tentu kesulitan mencari partner yang bisa bebas dengan ketsnya. Ah, coba dulu minumannya sebelum leher jenjangmu kekeringan.....?
Hati-hati Julia meneguk minuman itu karena tak ingin merusak suasananya. Sejak titik ini, Maria mulai lebih lancar dari setengah jam sebelumnya.
?Bahkan sebagai pekerja kerah biru pun jelas sekali dia tak punya potongan.? Lanjut bibir senja yang merona ditimpa fajar itu. ?Memasuki minggu kedua sejak kali pertama melihat tingkahnya itu aku mulai menyadari kalau dia tengah menunggu sesuatu atau seseorang tepatnya. Hari ketiga minggu kedua itu juga matanya mulai bisa memaksaku bertukar senyum dengannya. Senyumku mungkin berarti tegur sapa calon tetangga, sedang miliknya ? seperti yang kau lihat juga, kusadari kemudian ? mengandung dorongan yang lebih dalam dari sebuah ketekunan. Menurutku, seperti retakan ice cream saat gigitan pertama. Beberapa kali aku berusaha mencari tahu sampai berapa lama dia bertahan duduk di situ setelah setiap pagi biasanya. Setahuku, setiap aku pulang kerja dia sudah tak ada di taman itu. Maka, aku coba luangkan waktu saat jam istirahat buat sekadar memeriksa batang hidungnya, juga tak ada.
Jum?at minggu kedua sengaja aku berangkat dua jam lebih siang dari biasanya dan dia ternyata masih duduk di tempatnya. Sabtu pagi, agak malas aku bangun dan setelah berbenah aku keluar cari sarapan. Tepat tiga jam dari kebiasaanku berangkat kerja, taman itu sudah dipenuhi banyak orang, terutama kaum tua, dan dia sudah tak ada lagi di sana.
Segera kusimpulkan kalau dia memang menunggu sesuatu setiap pagi selama tiga jam lebih, satu jam sebelum dan dua jam sesudah jam masuk kerjaku. Tapi, aku tak pernah tahu apa dan siapa yang ditunggunya. Dia memang mengambil waktu sekitar jam berangkatku, tapi itu saja tidak cukup membuatku merasa sebagai orang yang ditunggu-tunggu itu. Jadi aku memang digariskan untuk tak pernah tahu sasaran yang ditunggunya sampai aku memberanikan diri bertanya waktu itu. Memberanikan diri terhadap pandangan orang di sana atau teman kerjaku yang kebetulan lewat. Aku menguatkan diri pada celaan yang muncul dari kepalaku sendiri. Bisa kau bayangkan, aku seorang staf akuntan sebuah bank terkemuka milik pemerintah disibukkan dengan perhatianku pada seorang lelaki asing yang terbiasa duduk-duduk di salah satu sudut taman kota. Hahahahahaha.....
Toh, akhirnya aku berhenti juga. Menyapanya sekilas dan segera semuanya berubah, seperti tengah malam paling hening saat terjadinya pergeseran hari menjelang esok. Lalu kami berjalan menyusuri pinggang taman itu, bercerita tentang beberapa hal di sela senyum dan sorot matanya. Selebihnya, dia menjadi penghuni baru di rumah ini. Tapi, maaf aku tak bisa memberikan satu nama pun padamu untuk menyebut atau memburunya. Sebab, buatku nama tak menjadi soal dan sikap selalu lebih penting dari sekadar kartu pengenal apa pun, kau tahu maksudku.
Terus terang aku merasa pernah berhubungan dengan orang macam ini, jauh sebelum ini. Berhubungan dengan orang yang bisa mencukupi nyaris semua kebutuhhanku. Uang, kehormatan, dan....seks, tentu saja, seperti yang kau harapkan bakal keluar dari mulutku. Perhatiannya yang besar membuat setiap yang dekat dengannya akan merasa nyaman dengan sendirinya. Bisa jadi itu wajar, mengingat dia adalah site manajer sebuah grup supermarket di tempatku kerja waktu itu. Satu hal yang sedikit menarik mungkin karena aku harus rela melepaskan posisi bagusku di sana hanya karena kami berencana menikah. Sekalipun baru sebatas rencana. Padahal kau tahu, untuk mendapatkan,? Maria berhenti sejenak meneguk minumannya, ?site manajer itu aku musti siap pula meninggalkan pasanganku yang lain, seorang analis komputer jempolan.
Tentang yang terakhir, analis komputer itu, dia benar-benar jembatan emas buatku. Dari semula aku hanya berencana menggunakan statusnya sebagai dosen bantu pada lab komputasi di Fakultasku untuk menghacurkan nilai setiap orang yang telah merusak jalanku. Salah satunya adalah seorang teman sekelas yang sama sekali tak tahu diri, seorang mahasiswi bermoral yang kehabisan tempat. Hmm, setelah kubantu pindah tempat tinggal ke tempat kosku, perlahan-lahan ia mulai menelikungku dari balik selimut. Mengaduku dengan ibu kos yang rupanya lebih mempercayai orang baru ini dan mengusirku hanya karena adegan kecil suatu petang di teras rumah. Ah, aku benar-benar tak ingin melihat wajahnya lagi sejak itu. Biar dia hadapi kehancuran berulang-ulang di bangku yang sama dengan moralitasnya. Juga yang lain, semua yang telah seenaknya mempermainkan aku menjadi mangsa empuk analis komputerku itu. Begitulah, sementara waktu berjalan dan kelulusanku menjadi dentang bel berakhirnya menikmati waktu di atas jembatanku. Maaf, mungkin aku bukan perempuan lembut yang cukup pantas kau jadikan sosok ibu yang kau cari-cari. Tak pernah terbayang sekilas pun dalam benakku gambaran menjadi seorang ibu. Menjijikkan sekali bahwa perempuan dipaksa melahirkan dan membesarkan anak-anak, sementara lelakinya asyik bermain-main di luaran.
Dia, maksudku partnerku yang site manajer dulu itu, datang tepat waktu. Begitu bel akhir itu berdentang teramat keras, begitu saja dia menyelinapkan dirinya lembut-lembut ke balik selimutku. Dan, jembatan emas itu pun hancur berkeping-keping. Kudengar sebentar kemudia dia nikahi adik kelasku yang cantik, beranak, lalu diceraikannya lagi. Beberapa kali dia menelponku di antara sekian dering yang lain. Tapi, telpon di tempatku rupanya sudah terlanjur mengikat diri pada basement pusat perbelanjaan baru itu. Malahan waktu telponnya membisik-bisikkan gesekkan lembut selimut dan ranjang merah jambu, hahahahaha...anggrekku cuma senyum tipis dengan desahan lirih setengah merintih, yang aku yakin akan membuat analis komputer itu makin terguncang-guncang di atas cadiknya yang rapuh. Kubilang satu kali menjawabnya.....
?Sudahlah, belajarlah dari sedikit, buanglah sampah pada tempatnya. Dan menuai benih dari yang kautaburkan.? Lalu terdengar kertak gigi di seberang, suara gagang telpon terbanting keras dan ngiiiiing. Baik, akan kuteruskan sendiri, semuanya. Kalau kau sendiri sudah terserang penyakit gagu dan gagap dalam mengiblatkan jalanmu sampai kau datang ke rumah dinas ini. Sedikit banyak kau pasti tahu, apa itu monolog. Dulu aku suka juga melihat pertunjukkan biarpun sedikit.
Benar, bukan cuma perhatian dan kehormatan yang aku dapatkan dari site manajerku itu. Lebih dari itu, kehangatan bisa aku nikmati setiap saat, di tempat paling dingin sekali pun. Justru dari karena site manajerku itu datang dari kota dingin. Di atas kotanya dia benar-benar kuda liar, baik di jalanan maupun di tengah ranjang. Serangan gencarnya membuatku berkali-kali kewalahan. Sekali putaran aku bisa mencapai tiga sampai lima puncak dengan resiko seluruh tulang serasa berlepasan. Dan anggrekku, ah anggrekku seperti dirajam pisau bermata seribu. Darahnya sulit berhenti, tapi sungguh ngilu yang kunikmati. Biasanya setelah saat-saat yang dahsyat itu kami menghabiskan waktu dalam buaian mimpi indah sebuah puri di gigir telaga yang seluruhnya diliputi cahaya remang. Sepasang angsa menggiring angin di wajah telaga yang pias oleh cahaya bulan setengah telanjang. Hahahahaha....
Saat-saat indah dalam hidupku. Setelah sekian kerikil tajam menisik dan mengantuk kakiku. Mungkin hanya satu orang yang bisa mengalahkan kegilaan macam ini. Kegilaan dan kenikmatan yang pekat. Ya, mungkin hanya satu orang yang sanggup mengalahkan rekor site manajerku. Sekali pernah kudaki tujuh puncak sekaligus, lalu aku benar-benar jadi sejenis lolita di sana. Di sisi novel pertamaku, lelaki kecil dan naif yang aku yakin masih menunggu sampai saat ini, setelah sekian penerbangan bersama analis komputer dan site manajerku. Lelaki kecil dan naif.....lebih tepatnya seorang bocah gembala yang selalu kekanakan. Entah sampai kapan, sebab kami dipertemukan dalam musim kawin pertama tahun kedua kuliahku. Selayaknya setiap musim kawin pertama, si kecil ini pun terlanjur melingkarkan cincin akar rumput di jari manis batinku.
Tak cuma soal tujuh puncak itu reputasinya, selalu dia mengakhiri perjalanan kami dengan basuhan-basuhan lembut di tubuhku yang basah dan membawaku terentang antara kaki langit gumpalan awan putih. Ah, sudahlah biarkan dia menghuni albumku yang berdebu dan lapuk sendiri suatu hari nanti.? Maria seperti mengalami kesulitan untuk keluar dari labirin masa lalunya. Kernyit kecil mempertajam bola matanya yang menjauh.
?Lalu, bagaimana tentang basementmu....?? Julia berusaha memperbaiki keadaan.
?Oya, kami berencana menikah. Baiknya langsung saja dari situ. Tapi, selalu aku harus berhadapan dengan masalah keluarga. Dia punya seorang ibu dari sejenis ular aristokrat sejati. Bermulut tajam, memandang orang lain dengan mata yang selalu mengantuk, penuh gairah dan sedikit culas. Bapaknya tak jauh beda. Macan kampung, tuan tanah puluhan hektarare, berkulit dan hidung belang-belang. Pada kekasih anaknya pun sempat mendenguskan nafas mesumnya. Semua ini yang membuat kami bertahan hanya lewat jalan belakang. Sampai, entah bagaimana, keluargaku mencium hubungan kami yang aga kelewatan itu. Papi memintaku pulang kampung secara mendadak. Sampai di sana aku dihadapkan pada sidang keluarga. Keluarga besar Mami datang semua. Tak ketinggalan seluruh warga dari garis Papi datang bertandang. Lalu sidang dibuka oleh Eyang Sepuh ? kakak tertua Eyang Kakung dari Mami.
?Aapa yang sudah kamu lakukan, Nduk? Mamimu nangis ndak habis-habis.? Eyang Sepuh mulai mendesakku.
Aku bergeming dan terus saja berusaha sekerasnya memperjuangkan pertahananku. Tapi sidang kemudian memutuskan agar aku memeriksakan diri ke dokter. Mami diutus sebagai pengantar pemeriksaan diriku. Dari sanalah bermulanya pergeseran hari. Semua mulai membaca dan mengulitiku habis-habisan. Untung mereka tahu hanya sebatas itu. Lalu tuntutan diajukan pada site manajerku beserta keluarga. Sampai di situ, habislah semuanya. Ibunya marah besar, mulutnya menyemburkan bisa. Bapaknya mengamuk sejadi-jadinya, menggeram dan mencabik-cabik hargaku dengan kuku di tiap ujung lidahnya. Dan makin tertampar aku waktu site manajer itu cuma diam, tertunduk kelu dan sekali bersuara.
?Buka aku yang pertama...?
Bagus, tampaknya semua batu harus diangkat oleh sisiphus yang sama. Sejak itu kuputuskan untuk menjalani hidup selibat tanpa sakramen, lepas dari keluarga dan siapa pun yang selama ini mengikatku. Menerbitkan dan menggelamkan sendiri matahariku. Sampai suatu pagi, aku lihat lelaki asing kita di sudut taman itu.
Dari semula aku tak berharap banyak darinya. Aku hanya tertarik pada kemauannya menunggui patung-patung batu di taman itu. Sekali tempo, sempat terpikir olehku, kalau dia tak hanya menunggu melainkan membasuh tubuh dewa-dewi di sekitar kolamnya juga. Tapi, pikiran-pikiran cengeng itu segera kuempaskan lagi dan terjadilah yang musti terjadi. Sejak dia menghuni rumah ini, tak sekali pun kutanyakan pekejaannya atau mengungkit-ungkit kebiasaannya memandang jauh keluar pagar taman setiap pagi sebelumnya.
Pagi-paginya kemudian diisi dengan membangunkan aku dengan ciuman lembut. Menyiapkan sarapan dan secangkir kopi dengan cream. Melepaskan aku pergi dan menutup pintu pagar lagi. Selebihnya aku tak tahu. Yang pasti aku melihatnya adalah sambutan hangatnya ketika aku pulang kerja. Membantuku melepaskan perlengkapan kerja satu per satu. Menyeka tengkuk, punggung dan beberapa bagian lain dengan handuk hangat. Sementara makanan kecil dan lemon tea sudah tersedia. Tiap malam kami isi dengan acara televisi atau permainan atau obrolan ringan seputar masalah umum. Selain menyiapkan makan malam, kalau kebetulan badanku terlalu capek untuk keluar rumah, tak lupa dia menyuguhiku santapan utama pengantar tidur.
Pernah sekali waktu, aku mencuri tahu kebiasaannya setelah larut malam. Kulihat pintu kamar kerja sedikit terbuka dan ada cahaya biru remang keluar dari mulut pintu. Kuperhatikan dia tercenung di depan layar monitor di sana. Entah sedang menulis apa, aku tak terlalu yakin dengan mata telanjangku pada jarak lebih dari lima meter. Kegugupan segera menyerang waktu dia menyadari kedatanganku, dia menengok ke arahku dengan pandangan tajam. Dia menghampiri dan aku menggigil dalam gelap, matanya seperti srigala lapar.
?Tidak baik membiasakan diri dengan pencurian...? Senyumnya masih bisa kubaca lewat berkas cahaya tipis dari monitor. Aku tertunduk lemas. Dia menuntunku kembali ke kamar dan menina-bobokanku dengan usapan lembut di kepala. Lamat-lamat Schubert merintih lewat Ave Maria.
Baik, semuanya telah kubeberkan, hanya karena aku perlu seorang teman bicara yang bisa dipercaya. Semuanya, sampai dia mendadak hilang sekarang. Sampai kau datang hari ini. Sekarang, mungkin giliranmu....? Perempuan matang berkaca-mata kecil itu seperti sedang melepaskan pukat ke depannya.
?Maksudku, sekarang mungkin giliranmu untuk bercerita. Barangkali kau sendiri punya sesuatu yang menarik untuk kita dengarkan siang ini.?
?Ee, begini. Ini tak lebih dari sekedar...?
Julia memulai tentang perjalanan kariernya sebagai reporter muda pada sebuah tabloid wanita. Juga tentang perasaannya pada lelaki setengah asing itu. Bahwa ia seperti pernah akrab dengan lelaki itu. Bahwa ia seperti bisa membayangkan apa yang dilakukan lelaki itu saat ini. Semua diketahuinya berdasarkan pengamatannya pada beberapa kasus serupa yang pernah dikejarnya. Tapi, satu hal yang tak pernah dibukanya pada Maria adalah bahwa lelaki jenis ini lebih berbahaya dari ular maupun srigala lapar. Dia dilahirkan sebagai jenis kegilaan yang melebihi guru besar kegilaan dari RS. John Hopkins, Hannibal Lector.
Bayangan yang dulu masih disimpannya itu kini telah terbukti, mungkin. Selain pita kuning tand panyegelan, kepolisian wilayah kota juga memberikan informasi.
?Kasusnya bunuh diri. Motifnya belum pasti. Masih dalam proses.?
Rumah dinas itu masih menggigil pagi ini, ketika Julia hendak beranjak pergi dan melepaskan sisa pandangan terakhir pada bangunan ngungun itu. Ia sadar benar, banyak kasus bunuh diri yang hanya bersaksi dinding bangunan itu sendiri. Julia sudah akan beranjak pergi waktu seseorang berbisik lembut dari belakang telinga kirinya, waktunya sudah habis, mari.....
medio1999-2003
________________________
Susilo, penulis lepas tinggal Jl. Karangmenjangan 68A, Surabaya, karya-karyanya pernah dimuat dalam; Antologi Puisi I Puska 1992, Jurnal Sastra Jejak ? Gapus Unair 1998, Majalah Aksara, Majalah Jayabaya, Majalah Liberty, Harian Surabaya News, Harian Sinar Harapan, Harian Berita Sore, Tabloid Mitra Rakyat, Tabloid The Smile File, www.cybersastra.net, www.puisi.crimsonzine.net, dan www.pintunet.com
Kamis, Desember 11, 2003
Manuel Dominguez
Tak ada lagi kematian
bayi-bayi. Bukan sebab segalanya
begitu mudah sekarang. Dalam gelas yang sama
kulihat para pembunuh mengambil wajah-wajah
paling awam dari penjuru kota. Jubah dan kubah
tak lagi serupa penyesalan atas kelahiran penjaga
maut, Isroil lahir bukan tanpa muka atau takdir
hujan yang jumawa
Dan kau tahu seribu wajah yang menggiring langkah
menembus pintu nama-nama ? serambut dibelah tujuh
Hujan mengantarkan pekat untuk mengundang matahari
membangun firdaus-firdaus baru. Demi menggugurkan
kembali bunga-bunga dan nafas baru
mungkin juga cambuk besar
teregam di tangan kanan atau kunci pintu hati ribuan
tahun bergantung di dada Anubis. Juga jika kau ajak
masuk gipsi ke dalam keretamu, maka neraca
bulu angsanya akan mengukur ketulusanmu
menerima selaksa rajam atau sekeping
mustika fir'aun. Mungkin tiap jubah
dan tudungmu
akan menambah berat piringan sebelah
hingga kau lihat punggungnya mencium tanah
punggungmu menggali lahat sendiri. Tangan
gemetar mencari keniscayaan dalam benakmu
Irish pun mungkin
tak datang tanpa kau undang dalam perjamuan
lewat tanda-tanda gaib dalam genggamanmu
Kadang perempuan lembut itu terlalu lelah
berhitung dengan waktu ? tenggelam diperentang
tali jiwa-jiwa yang jauh dan lekat di batas-batas
lembar meja lilin yang tersimpan. Kau nanti
saat tangan-tangan berhatu mengajakmu kerasukan
nafas para penjaga pintu abadi mendengus, melemparku
ke dalam semak kering yang hendak diperabukan
Kulum senyumku
sebentar lagi batu-batu memelukku
dan menjelma bara. Mungkin kau silap
kuingatkan, aku pulang dan kau bergunjing
terus dan selalu
032003
bayi-bayi. Bukan sebab segalanya
begitu mudah sekarang. Dalam gelas yang sama
kulihat para pembunuh mengambil wajah-wajah
paling awam dari penjuru kota. Jubah dan kubah
tak lagi serupa penyesalan atas kelahiran penjaga
maut, Isroil lahir bukan tanpa muka atau takdir
hujan yang jumawa
Dan kau tahu seribu wajah yang menggiring langkah
menembus pintu nama-nama ? serambut dibelah tujuh
Hujan mengantarkan pekat untuk mengundang matahari
membangun firdaus-firdaus baru. Demi menggugurkan
kembali bunga-bunga dan nafas baru
mungkin juga cambuk besar
teregam di tangan kanan atau kunci pintu hati ribuan
tahun bergantung di dada Anubis. Juga jika kau ajak
masuk gipsi ke dalam keretamu, maka neraca
bulu angsanya akan mengukur ketulusanmu
menerima selaksa rajam atau sekeping
mustika fir'aun. Mungkin tiap jubah
dan tudungmu
akan menambah berat piringan sebelah
hingga kau lihat punggungnya mencium tanah
punggungmu menggali lahat sendiri. Tangan
gemetar mencari keniscayaan dalam benakmu
Irish pun mungkin
tak datang tanpa kau undang dalam perjamuan
lewat tanda-tanda gaib dalam genggamanmu
Kadang perempuan lembut itu terlalu lelah
berhitung dengan waktu ? tenggelam diperentang
tali jiwa-jiwa yang jauh dan lekat di batas-batas
lembar meja lilin yang tersimpan. Kau nanti
saat tangan-tangan berhatu mengajakmu kerasukan
nafas para penjaga pintu abadi mendengus, melemparku
ke dalam semak kering yang hendak diperabukan
Kulum senyumku
sebentar lagi batu-batu memelukku
dan menjelma bara. Mungkin kau silap
kuingatkan, aku pulang dan kau bergunjing
terus dan selalu
032003
namaku luka
harusnya kau gampar aku
seperti katamu saat tergambar lukaku
ketika tangan lelaki itu membelaiku
selaksa kemarahan tak perlu kau pendam
agar menjadi bagiku kelengkapan dari hitam
malamku
kini aku tinggal kubangan
tiap-tiap bulir yang sisa menjelma leleran
masa silam buta dan mabuk
aku akan menghablur seperti bayangan
dan serpihan-serpihan jasadku
adalah kematian yang tak lengkap
aku yang bersalah
menjagal semua demi hidupku
lalu bayangan ibu datang
membawa senyum dan rasa dosa
yang tak pernah kukenali
wujud subuhnya
berhamburan dan terberai
dalam perjalanan nganga
hanya menempuh kehancuran
dan jika kehancuran itu pasti
maka akan kuhancurkan segala nama
segala langit, segala setan dan tuhan
demi nafas-nafas baru di taman bungamu
akan leburlah segala yang ada pada
waktu berimpit dan dunia terlipat
jika tak kuasa leburkan aku
maka akan kurobek perut bumi
kutenggak darah dari jalanan
jalan luka-luka dunia
111203
seperti katamu saat tergambar lukaku
ketika tangan lelaki itu membelaiku
selaksa kemarahan tak perlu kau pendam
agar menjadi bagiku kelengkapan dari hitam
malamku
kini aku tinggal kubangan
tiap-tiap bulir yang sisa menjelma leleran
masa silam buta dan mabuk
aku akan menghablur seperti bayangan
dan serpihan-serpihan jasadku
adalah kematian yang tak lengkap
aku yang bersalah
menjagal semua demi hidupku
lalu bayangan ibu datang
membawa senyum dan rasa dosa
yang tak pernah kukenali
wujud subuhnya
berhamburan dan terberai
dalam perjalanan nganga
hanya menempuh kehancuran
dan jika kehancuran itu pasti
maka akan kuhancurkan segala nama
segala langit, segala setan dan tuhan
demi nafas-nafas baru di taman bungamu
akan leburlah segala yang ada pada
waktu berimpit dan dunia terlipat
jika tak kuasa leburkan aku
maka akan kurobek perut bumi
kutenggak darah dari jalanan
jalan luka-luka dunia
111203
Minggu, Desember 07, 2003
og.og ogoglggg
aku telah menjelma kepekatan
lubang hitam tanpa dasar
malam tak berbatas
tumpas dalam lolongan
aku lampus dan samun
seperti bendera kehilangan
tiang-tiang pancang di tengah
badai laut selatan
karang menjadi teman
mendung cuma bayangan
kiamat yang tak datang
dan tak akan ada lagi
kiamat seperti hari ini
kenangan pada jam 09.00 09 September 1999
lubang hitam tanpa dasar
malam tak berbatas
tumpas dalam lolongan
aku lampus dan samun
seperti bendera kehilangan
tiang-tiang pancang di tengah
badai laut selatan
karang menjadi teman
mendung cuma bayangan
kiamat yang tak datang
dan tak akan ada lagi
kiamat seperti hari ini
kenangan pada jam 09.00 09 September 1999
Jumat, November 21, 2003
Janma Umanjing Trustaning Semedi
gusti pengeran kang hamengku
jagadnata paring dhawuh mula
midangetna kanthi setiti waha
tuhu marang kang murwengdadi
punika raras sampun
jumeneng ing dhampar paseban
sun umanjing sekethiking netra
lodhang luwenging waringin
kekalih nuju ing pratandha
punjering gesang lingga wujud
kang anumbak telenging samudera
wedhi tetes titising habangun
praja keparenga tingal dhumateng
panepen ring ngarsa waha wuri
pakartining panembah ngarumake gusti
sareh tumungkula putra wayah, anakmami
ki dipati putraningsun, ingsun mekas malih
ya dibisa angemong ing praja, araras tunggaling
kawula twin gustinira satemah endahing sesekaran
saka tamansarining pura kaputren gumebyar ring
margi malya bhra kaangge ubarampe andherekake
dhutaning manca, kairingiake tumekaning bebantheng
benteng amarengi swara tetembangan jawi kinanthi
ngancik plengkung laras langkung
pinanggihnya apit rempit
panca lawang paduraksa
nanjak baya murweng lana
baluwarti jagakapti
pramila kaki saka ing dingin tumekaning tembe
tlatah iki dede gunuking giri waha siti ampil
samayaningsun wus tumekaning sampun, nakmas
esmuning suksma umbara kang nuju pepesthen
ing ngarsaning gusti hyang manon
tumilar saka ing renaning gesang
mung bisa nilarake agamaning nata
jana jinem ateges lelaku kang tuhu
kaweruh ing ngupadi tameng twin tamsir
nora mung lelena tanpa waspada
kayadene kang katindakake dening
ki jagasura ing kiblating gapura
nawungkridha ateges tangguh angugem
rasa lan karsa mring akarya kaembanan
samana uga gegayuhaning para muda
tarunasura ing timuring gapura
tyasingrat satemah jembaring buwana
nora kagokkagol ambekgegek ugek-ugek
kajaba sumilir ring ilir-iliring samubarang
lir kaya ki jagabaya ing dayaning gapura
sulendratama katamtu cawis sumadya
karyatama adhasar endahing panjangka
tebih saka ing panduga ala twin culidra
jamake madyasura anarajang bebaya
gunamukti ateges kamulyaning janma
sesami twin liyan kadhaopake daya
lantiping nalar kang pinuju wikan
sairing lelakuning ki nirbaya gapura
maha tunggal anglebat ratu
dak pungkasi pangadikaningsun esmu
gumuyu, kawistara ragi ing lilihing
dukaningsun saebasutammu, anakmami
panjenenganingsun banget enget
yen sira dadi pawong-mitraningsun
ananging sira ing mangkene ingsun
aranni bangsaning candhala, dene sira
teka wani ambadal dhawuh timbalaningsun
ewa mangkana panjenenganingsun kagungan
cacangkriman kang kawasita sajroning
wengi; yen sira bisa anarbuka yekti
ingsun kepareng panggalih murihing mukti
cacangkrimaningsun kang kawasita mangkene
luhur kang ngungkuli wukir
jembar kang angluwihi sagara
padhang kang animbangi raina
rata kang amadhani tanah leta
yen jeneng sira nora bisa narbukani
mesthi ingsun pidana ing guntur wisesa
sanadyan sira bisa njebles tanpa sirah
njejak tanpa sothang, njuing tanpa asta
ananging tintriming dukaningsun ing tembe
bakal anumpes kelor suta wayah
sacindhil abangira sairing wuntahing
rudira kadi narmada jemparing bengawan
tinon kadi mina, angambang ing samudera
agunging lir ruging ardhi, angkasa tinarbuka
bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelap
leliweran kilat thathit, lintang sumamburat
madyaloka dadi rungket sengkaruting giri
wadyabalanira sirnanting, sisaning pati
lumayu ngungsi biting, banjur sumirepi
sumiliriing bayu angleremake segara wedhi
panjenenganingsun anitah njalma dadi
jum'atlegi, 221103
jagadnata paring dhawuh mula
midangetna kanthi setiti waha
tuhu marang kang murwengdadi
punika raras sampun
jumeneng ing dhampar paseban
sun umanjing sekethiking netra
lodhang luwenging waringin
kekalih nuju ing pratandha
punjering gesang lingga wujud
kang anumbak telenging samudera
wedhi tetes titising habangun
praja keparenga tingal dhumateng
panepen ring ngarsa waha wuri
pakartining panembah ngarumake gusti
sareh tumungkula putra wayah, anakmami
ki dipati putraningsun, ingsun mekas malih
ya dibisa angemong ing praja, araras tunggaling
kawula twin gustinira satemah endahing sesekaran
saka tamansarining pura kaputren gumebyar ring
margi malya bhra kaangge ubarampe andherekake
dhutaning manca, kairingiake tumekaning bebantheng
benteng amarengi swara tetembangan jawi kinanthi
ngancik plengkung laras langkung
pinanggihnya apit rempit
panca lawang paduraksa
nanjak baya murweng lana
baluwarti jagakapti
pramila kaki saka ing dingin tumekaning tembe
tlatah iki dede gunuking giri waha siti ampil
samayaningsun wus tumekaning sampun, nakmas
esmuning suksma umbara kang nuju pepesthen
ing ngarsaning gusti hyang manon
tumilar saka ing renaning gesang
mung bisa nilarake agamaning nata
jana jinem ateges lelaku kang tuhu
kaweruh ing ngupadi tameng twin tamsir
nora mung lelena tanpa waspada
kayadene kang katindakake dening
ki jagasura ing kiblating gapura
nawungkridha ateges tangguh angugem
rasa lan karsa mring akarya kaembanan
samana uga gegayuhaning para muda
tarunasura ing timuring gapura
tyasingrat satemah jembaring buwana
nora kagokkagol ambekgegek ugek-ugek
kajaba sumilir ring ilir-iliring samubarang
lir kaya ki jagabaya ing dayaning gapura
sulendratama katamtu cawis sumadya
karyatama adhasar endahing panjangka
tebih saka ing panduga ala twin culidra
jamake madyasura anarajang bebaya
gunamukti ateges kamulyaning janma
sesami twin liyan kadhaopake daya
lantiping nalar kang pinuju wikan
sairing lelakuning ki nirbaya gapura
maha tunggal anglebat ratu
dak pungkasi pangadikaningsun esmu
gumuyu, kawistara ragi ing lilihing
dukaningsun saebasutammu, anakmami
panjenenganingsun banget enget
yen sira dadi pawong-mitraningsun
ananging sira ing mangkene ingsun
aranni bangsaning candhala, dene sira
teka wani ambadal dhawuh timbalaningsun
ewa mangkana panjenenganingsun kagungan
cacangkriman kang kawasita sajroning
wengi; yen sira bisa anarbuka yekti
ingsun kepareng panggalih murihing mukti
cacangkrimaningsun kang kawasita mangkene
luhur kang ngungkuli wukir
jembar kang angluwihi sagara
padhang kang animbangi raina
rata kang amadhani tanah leta
yen jeneng sira nora bisa narbukani
mesthi ingsun pidana ing guntur wisesa
sanadyan sira bisa njebles tanpa sirah
njejak tanpa sothang, njuing tanpa asta
ananging tintriming dukaningsun ing tembe
bakal anumpes kelor suta wayah
sacindhil abangira sairing wuntahing
rudira kadi narmada jemparing bengawan
tinon kadi mina, angambang ing samudera
agunging lir ruging ardhi, angkasa tinarbuka
bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelap
leliweran kilat thathit, lintang sumamburat
madyaloka dadi rungket sengkaruting giri
wadyabalanira sirnanting, sisaning pati
lumayu ngungsi biting, banjur sumirepi
sumiliriing bayu angleremake segara wedhi
panjenenganingsun anitah njalma dadi
jum'atlegi, 221103
Minggu, November 09, 2003
mayatmu banal
seperti anjing yang jilati tai sendiri
aku kembali tafakur di bawah sudut
mayatmu, mengambang jadi mambang
melesat ke puting langit dan menari
sendiri
tak bisakah sejenak kau tandai arah
angin dengan matahari. tujuh bintang
berjaga di utara. gubug para pemabuk
di selatan. ratu kecantikan itu di timur
mestikah kusulut tarian anginmu
dengan senyumku di bibirmu
kemana saja kau
setelah tak sanggup salami
tubuhmu, mustikah tak kusapa kersik
malam makin sekarat di bawah lindap
bayangmu. seperti kanak-kanak babi
aku berkubang sehabis mandi
aku kembali tafakur di bawah sudut
mayatmu, mengambang jadi mambang
melesat ke puting langit dan menari
sendiri
tak bisakah sejenak kau tandai arah
angin dengan matahari. tujuh bintang
berjaga di utara. gubug para pemabuk
di selatan. ratu kecantikan itu di timur
mestikah kusulut tarian anginmu
dengan senyumku di bibirmu
kemana saja kau
setelah tak sanggup salami
tubuhmu, mustikah tak kusapa kersik
malam makin sekarat di bawah lindap
bayangmu. seperti kanak-kanak babi
aku berkubang sehabis mandi
Selasa, November 04, 2003
solilokui
sebagai ular laut
bisaku membekukan puncak-puncak dunia
membaca kebenaran dari kaca yang muram
dalam sebuah kamar gelap
serpihan-serpihan isyarat
kesalehan dan kesalahan
mencair dan selalu luput
dari genggaman
dengan taring-taring gila
lelerkan samudera tuba
gelibatan dalam kelam malam
tarikan tujuh kepala
sepuluh tanduk
dan batu-batu nyala
di tiap pecinya
kenangamu merpati
ayat-ayat anggur basi
dalam bunga karang
bahasa kaum puritan
yang payah dan menyedihkan
tarjamah dan dituliskan sayap
sayap yang gemetar saat tarikan
garis putus-putus dari pena bulu
kempa
adakah yang lebih runduk
dari tikus-tikus malam
yang pernah melepas harimau
dari jejaring laba-laba petani
tua dan senyum murahan
dan jika ular merambat di sela
jala, menjilati warna mega kepakan
merpati, pelarian tikus-tikus malam
muram, harimau tertawa dan terangi
samun senyum petani tua
yang makin menjadi juga
menjadi gila
adakah kau lihat titik nadir
dari luka di dalam mataku
perkampungan orang-orang
buangan, neraka yang kau ciptakan
buatku, seperti kapal rompak yang karam
menghantam mercusuar dalam badai berkabut
setelah armada perangmu membakar dermaga berikut
semua penghuninya lantak
bisaku membekukan puncak-puncak dunia
membaca kebenaran dari kaca yang muram
dalam sebuah kamar gelap
serpihan-serpihan isyarat
kesalehan dan kesalahan
mencair dan selalu luput
dari genggaman
dengan taring-taring gila
lelerkan samudera tuba
gelibatan dalam kelam malam
tarikan tujuh kepala
sepuluh tanduk
dan batu-batu nyala
di tiap pecinya
kenangamu merpati
ayat-ayat anggur basi
dalam bunga karang
bahasa kaum puritan
yang payah dan menyedihkan
tarjamah dan dituliskan sayap
sayap yang gemetar saat tarikan
garis putus-putus dari pena bulu
kempa
adakah yang lebih runduk
dari tikus-tikus malam
yang pernah melepas harimau
dari jejaring laba-laba petani
tua dan senyum murahan
dan jika ular merambat di sela
jala, menjilati warna mega kepakan
merpati, pelarian tikus-tikus malam
muram, harimau tertawa dan terangi
samun senyum petani tua
yang makin menjadi juga
menjadi gila
adakah kau lihat titik nadir
dari luka di dalam mataku
perkampungan orang-orang
buangan, neraka yang kau ciptakan
buatku, seperti kapal rompak yang karam
menghantam mercusuar dalam badai berkabut
setelah armada perangmu membakar dermaga berikut
semua penghuninya lantak
Rabu, Oktober 29, 2003
berguru pada arcamu
The five colours blind the eye
The five tones deafen the ear
The five flavours dull the taste
Racing and hunting madden the mind
Precious things lead one astray
Therefore the sage is guided by
by what he feels and not by what he sees
He lets go of that and chooses this
(Lao Tzu, 600 SM)
malam ini291003
lima warna membutakan mata
lima nada menutup telinga
lima rasa merusak selera
perlombaan dan perburuan mempergila benak
barang-barang mewah membuat orang tersesat
maka orang bijak dipandu
diarahkan oleh perasaannya bukan penglihatannya
dia membiarkannya berlalu dan memilihnya
siang ini031103
The five tones deafen the ear
The five flavours dull the taste
Racing and hunting madden the mind
Precious things lead one astray
Therefore the sage is guided by
by what he feels and not by what he sees
He lets go of that and chooses this
(Lao Tzu, 600 SM)
malam ini291003
lima warna membutakan mata
lima nada menutup telinga
lima rasa merusak selera
perlombaan dan perburuan mempergila benak
barang-barang mewah membuat orang tersesat
maka orang bijak dipandu
diarahkan oleh perasaannya bukan penglihatannya
dia membiarkannya berlalu dan memilihnya
siang ini031103
huang ho
sungai kuningmu
melibas habis tubuh
ranjang mengering
kulit dan lidah
mata menjelma maut
garang limpaku
kematian pun
seakrab baris sajak
yang telah berpulang
mungkin Nil lebih ganas
tapi ini soal huang ho
bukan keganasan
Ode of Nightingale
tak sedikit pun ada
sebut burung bulbul
dari serakan tanah
melibas habis tubuh
ranjang mengering
kulit dan lidah
mata menjelma maut
garang limpaku
kematian pun
seakrab baris sajak
yang telah berpulang
mungkin Nil lebih ganas
tapi ini soal huang ho
bukan keganasan
Ode of Nightingale
tak sedikit pun ada
sebut burung bulbul
dari serakan tanah
percakapan dengan embun
ada sedikit percakapan belalangtua dengan setetes embun. beri ia kata yang ngeh buat mengembangkan diri. parang, golok, jokopenthil (li), dwig, indigo, trew, tattva, dulimohr, adhi, heru, pakar, nanang, ts(eliot)p, idenk (kendi), dinesea, dhjt, dukun, ribut; tolong komennya....
June mungkin ini gayanya nge-Haiku...
percakapan embun
di lidah daun
atau di rimbun
rumputan
titik-titik embun
membiru berhimpun
teriring hujan yang turun
selarat gerimis
pekat dalam mataku
saat kugangsir kubur
di kaki nenekku
kutanam cicit yang baru
mati oleh rasa ibunya
tangan-tangan besi
langit yang pasi
perihku tak terbagi
betapa embun lupa
memberi setetes sejuk
lewat kerlingnya
052003
sedang ini dari dinesea
percakapan embun
di lidah daun atau di rimbun rumputan
titik-titik embun membiru berhimpunan
selarat gerimis pekat dalam mataku
teriring hujan yang turun menggangsir kuburku
di kaki nenekku kutanam cicit yang baru
mati oleh rasa ibunya cicit membujur kaku
tangan-tangan besi langit yang pasi
perihku tak terbagi menghampiri pasti
betapa embun lupa memberi setetes sejuk
lewat setetes kerlingan bening merajuk
waduh.. maap puisinya jadi acak-acakan, master ...
Belalangtua
trims din,
udah cape2 bikin pantun dari puisi yang aku niatkan jadi model haikujepang yang mendekati bentuk aforisma china ini.
terima-kasih waktunya...
dinesea
sama-sama master
HAIKU-nya berhasil... dari satu titik ngalir turun sampai tiga titik tanpa ngerubah makna dari baitnya.
saya aja yang iseng... abis nyaris rima bersajak dan enak untuk dibuat pantun...
gatel,master...
tattva
gw gak perlu komentar.
isi kosong kosong isi
gw kasih lo kosong belle
maaf kalo komentar gw ngerubah arti dan makna dari puisi lo. sekian.
Belalangtua
hemmmm adakah yg sanggup menggubahmu jadi bhagavatgita, tattva...
tattva
mungkin U.G belle? atau thom yorke? atau krisna sendiri? yang pasti bukan arjuna nanti gw dirubah jadi playboy hahahhaa!
Belalangtua
bukankah khrisna dan arjuna satu sperm dari Visnu.
tattva
anaknya si kunti dari sperm si indra di RA. mungkin itu rama belle, yang menjepit rahwana diantara gunung dengan panahnya.
hehehehe
(ada juga keunggulan gw dari si belle)
Belalangtua
tubuh arjuna disusun dari terakota indra
di bumi kunthi, namun jiwanya disepuh
oleh visnu serupa khrsna hehehehe
rahwana selayaknya begitu....
tattva
tuutt tuuuttt tuuuttt (saluran telp putus)
June
good...good...good...aku sangat suka puisinya. terutama permainan irama katanya. thank's
Parang
syukurlah percakapan embun ini tak terpeleset dengan pencamtuman kata 'ku'.
sebab kata itu....renta maknanya.Tak segar dibuatnya percakapan embun kalau ada kata 'ku' atau 'aku'.
Belalangtua
ada yang kau lupa...mataku dan nenekku
sistia_amba
Haiku, klaim ini terlalu mewah untuk tradisi puisi di Indonesia. Tapi, tak apa, untuk sekadar pembelajaran. Senang juga rasanya.
Belalangtua
mungkin nanti ada klaim terlalu mewah juga untuk aforisma china, macapat ronggowarsito, surealismenya rimbaud, baudelaire, apollinaire, fanatsismenya borges di endonesia (karena lidah kita sulit bilang indonesia). tapi, boleh juga buat diperhatikan petuahnya. btw apa itu HAIKU?
novel
setahu gw,haiku itu cuma terdiri dari 3 baris
baris pertama 5 suku kata
baris kedua 7 suku kata
baris ketiga 5 suku kata
asli dari jepang,dan biasanya bertutur tentang keindahan alam semesta
itu aza seh yang gw tau,coba aza ke perpus UI FIB ,disana haiku jepangnya lumayan bagus,apalagi sastra dari korea,u harus coba baca,pasti terkesan,ok thx...
percakapan embun
di lidah daun
atau di rimbun
rumputan
titik-titik embun
membiru berhimpun
teriring hujan yang turun
selarat gerimis
pekat dalam mataku
saat kugangsir kubur
di kaki nenekku
kutanam cicit yang baru
mati oleh rasa ibunya
tangan-tangan besi
langit yang pasi
perihku tak terbagi
betapa embun lupa
memberi setetes sejuk
lewat kerlingnya
kayanya kalo untuk dikatakan ini haiku,kurang tepat banget ya,sorry bukannya so tau,tapi menurut pengalaman gw selama membaca buku dari berbagai penjuru bumi,setiap kali menemukan haiku,itu bentuknya selalu baku,ta dapat diubah.dan sangat simple,namun memberikan kesan yang alami,mudah diingat.
ini salah satu contoh yang pernah gw baca:
Like red silk satin
cut leaves fall in late August
from colorful trees
semoga membantu lo membuat haiku yang sesuai dengan tatanan yang ada
ok
Belalangtua
makasih sarannya....
membelah tubuh
jadi serangga
bukannya sukma
makanya hanya bergaya sebab semangatnya saja yang terbetik dan itu tak hanya pada haiku namun juga pada aforisma dan puisi china klasik
UREH
Gaya Haiku ya? Hmmm ...
kalo masalah nyamannya untuk dibaca, ini bener-bener asik. tapi ... kalo memang ada aturan tentang rima, agaknya kurang enak dibagian-bagian belakang, jadi agak nggak berirama dan agak nggak renyah (emang cemilan?). ataukah memang itu aturannya?
mungkin gitu aja ya tante?
sebenarnya aku suka gaya seperti ini. pendek-pendek, enak dinikmatin, nggak terlalu berat untuk baca tulisan yang banyak, tapi harus diulang-ulang untuk menemukan arti sesungguhnya, letak keindahannya, dan juga letak kekurangannya (kalo mau dikomentarin).
Salam hangat,
UREH
(yang lagi mau serius nanggepi tapi masih nggak punya banyak referensi. maaf )
Belalangtua
naaa itu yang penting kekurangan dan keindahannya. ayo, dibahas aja. oya, maksud novel itu mungkin bukan konsistensi dalam satu bait itu mengandung 3, 5, 7 kata perbarisnya, melainkan 5, 7, 5 suku kata. Tapi ada kok haiku yang gak mengikuti pola itu, bisa 7, 5, 7 dan bisa pola lainnya.
novel
kalo pola haiku lain dari haiku,ya...namanya bukan haiku mas,ya puisi biasa.jadi kalo tulisan Anda mau dikatakan haiku ya harus ikut apa kata aturan haiku
only tree lines
bukan beberapa bait
semoga para bapa2 yang ingin berhaiku ria dan orang yang mengerti banyak haiku tidak mentertawakan karya Anda yang Anda klaim sebagai haiku
kecuali kalo Anda mau membuat haiku gaya indonesia,mungkin ganti nama,sebab it's original from japan,not indonesia.
oke semoga sukses n sangat membantu Anda dalam berkarya
Belalangtua
sekali lagi kayanya perlu diluruskan bahwa puisi percakapan embun hanya mengambil semangat dari HAIKU, jadi bukan haiku itu sendiri. mengenai konsistensi bentuk HAIKU; sekali lagi bukan pada formalisme 5, 7, 5 suku kata seperti yg sdr/i Novel sampaikan. lebih jelasnya mari kita simak ulasan sederhana berikut:
dalam tradisi seni jepang dikenal istilah syibumi, wujud keindahan yg menyimpan amanat alam, yakni kesejatian sifat alam itu sendiri.
dalam segala seni, dan malahan barangkali boleh dikatakan dalam kehidupan sehari-hari di jepang, orang berusaha menjelmakan syibumi. syibumimenjadi citra keindahan di jepang.
para penyair jepang pun berusaha menjelmakan syibumi. begitupun ketika seorang penyair jepang membentuk HAIKU, maka syibumicoba dihadirkan di sana.
haiku, bentuk puisi paling pendek dalam sastra jepang, lahir dan berkembang pada masa antara abad-abad ke-16 dan ke-17, merupakan kelanjutan dari perkembangan bentuk-bentuk puisi sebelumnya. Dalam Manyoshu, antologi puisi tertua di jepang yang menghimpun sejumlah sajak dari masa-masa sebelum abad kedelapan, didapati 324 naga-uta(sajak panjang) dan 400 tanka(sajak pendek). naga-uta, ada yg mencapai 150 baris, tidak timbul lagi setelah abad kedelapan. tanka, dari bentuk yg meliputi lima baris (baris pertama dan ketiga masing-masing terdiri atas lima suku kata), antara abad keenambelas dan delapanbelas, tumbuh menjadi haiku, keseluruhannya hanya 17 suku kata dan tersusun dalam tiga baris dan tidak bersajak. namun ada kalanya forma 17 suku kata itu lepas, seperti karya Matsuo Basho (1644-1694) berikut ini:
Kara-eda ni
Karasu-no tomari-keri
Aki-no-kure
(di ranting kering
gagak menapak
senja limbur musim gugur)
jika diperhatikan, maka haiku di atas terdiri dari 5, 9, 5 suku kata; total 19 suku kata.
haiku lain, masih karya Matsuo Basho:
Furuike ya
Kawazu tobikomu
Mizu no oto
(di kolam tua
katak terjun - suara
plungnya berbantun)
haiku ini nyata terdiri dari 5, 7, 5 suku kata, totalnya 17 suku kata. yang pasti keduanya terdiri dari 3 baris saja dan masih menjadi puisi paling pendek di jepang.
syibuminya itu yang menarik bagi saya untuk mengasah model ini. bentuk percakapan embundari mula memang tidak disarankan sebagai polaritas bentuk dari haikuanda dan tokoh sastra indonesia lainnya boleh tertawa saya pun ikut tertawa.
daya kesan citraan syibumi yang coba disarankan oleh haiku pun bisa anda temui dalam bentuk-bentuk komik jepang, dimana satu ruang bisa mengisi beberapa panel, kengungunan itu memang sedang kita usahakan lewat seni dan keseharian
ulasan di atas merupakan kutipan saya dari sebuah bacaan semoga anda bisa menemukan bahan wacan(jgn dirancukan dengan istilah wacana dlm bhs ina) saya itu
UREH
aku menyaksikannya
Belalangtua
aku bugil bulat
dengan menyimak percakapan di atas kita bisa belajar banyak, tentang proses belajar sastra, dan karakter orang-orangnya. ini terjadi ketika forum diskusi www.cybersastra.net masih kondusif sebagai ruang pembelajaran
June mungkin ini gayanya nge-Haiku...
percakapan embun
di lidah daun
atau di rimbun
rumputan
titik-titik embun
membiru berhimpun
teriring hujan yang turun
selarat gerimis
pekat dalam mataku
saat kugangsir kubur
di kaki nenekku
kutanam cicit yang baru
mati oleh rasa ibunya
tangan-tangan besi
langit yang pasi
perihku tak terbagi
betapa embun lupa
memberi setetes sejuk
lewat kerlingnya
052003
sedang ini dari dinesea
percakapan embun
di lidah daun atau di rimbun rumputan
titik-titik embun membiru berhimpunan
selarat gerimis pekat dalam mataku
teriring hujan yang turun menggangsir kuburku
di kaki nenekku kutanam cicit yang baru
mati oleh rasa ibunya cicit membujur kaku
tangan-tangan besi langit yang pasi
perihku tak terbagi menghampiri pasti
betapa embun lupa memberi setetes sejuk
lewat setetes kerlingan bening merajuk
waduh.. maap puisinya jadi acak-acakan, master ...
Belalangtua
trims din,
udah cape2 bikin pantun dari puisi yang aku niatkan jadi model haikujepang yang mendekati bentuk aforisma china ini.
terima-kasih waktunya...
dinesea
sama-sama master
HAIKU-nya berhasil... dari satu titik ngalir turun sampai tiga titik tanpa ngerubah makna dari baitnya.
saya aja yang iseng... abis nyaris rima bersajak dan enak untuk dibuat pantun...
gatel,master...
tattva
gw gak perlu komentar.
isi kosong kosong isi
gw kasih lo kosong belle
maaf kalo komentar gw ngerubah arti dan makna dari puisi lo. sekian.
Belalangtua
hemmmm adakah yg sanggup menggubahmu jadi bhagavatgita, tattva...
tattva
mungkin U.G belle? atau thom yorke? atau krisna sendiri? yang pasti bukan arjuna nanti gw dirubah jadi playboy hahahhaa!
Belalangtua
bukankah khrisna dan arjuna satu sperm dari Visnu.
tattva
anaknya si kunti dari sperm si indra di RA. mungkin itu rama belle, yang menjepit rahwana diantara gunung dengan panahnya.
hehehehe
(ada juga keunggulan gw dari si belle)
Belalangtua
tubuh arjuna disusun dari terakota indra
di bumi kunthi, namun jiwanya disepuh
oleh visnu serupa khrsna hehehehe
rahwana selayaknya begitu....
tattva
tuutt tuuuttt tuuuttt (saluran telp putus)
June
good...good...good...aku sangat suka puisinya. terutama permainan irama katanya. thank's
Parang
syukurlah percakapan embun ini tak terpeleset dengan pencamtuman kata 'ku'.
sebab kata itu....renta maknanya.Tak segar dibuatnya percakapan embun kalau ada kata 'ku' atau 'aku'.
Belalangtua
ada yang kau lupa...mataku dan nenekku
sistia_amba
Haiku, klaim ini terlalu mewah untuk tradisi puisi di Indonesia. Tapi, tak apa, untuk sekadar pembelajaran. Senang juga rasanya.
Belalangtua
mungkin nanti ada klaim terlalu mewah juga untuk aforisma china, macapat ronggowarsito, surealismenya rimbaud, baudelaire, apollinaire, fanatsismenya borges di endonesia (karena lidah kita sulit bilang indonesia). tapi, boleh juga buat diperhatikan petuahnya. btw apa itu HAIKU?
novel
setahu gw,haiku itu cuma terdiri dari 3 baris
baris pertama 5 suku kata
baris kedua 7 suku kata
baris ketiga 5 suku kata
asli dari jepang,dan biasanya bertutur tentang keindahan alam semesta
itu aza seh yang gw tau,coba aza ke perpus UI FIB ,disana haiku jepangnya lumayan bagus,apalagi sastra dari korea,u harus coba baca,pasti terkesan,ok thx...
percakapan embun
di lidah daun
atau di rimbun
rumputan
titik-titik embun
membiru berhimpun
teriring hujan yang turun
selarat gerimis
pekat dalam mataku
saat kugangsir kubur
di kaki nenekku
kutanam cicit yang baru
mati oleh rasa ibunya
tangan-tangan besi
langit yang pasi
perihku tak terbagi
betapa embun lupa
memberi setetes sejuk
lewat kerlingnya
kayanya kalo untuk dikatakan ini haiku,kurang tepat banget ya,sorry bukannya so tau,tapi menurut pengalaman gw selama membaca buku dari berbagai penjuru bumi,setiap kali menemukan haiku,itu bentuknya selalu baku,ta dapat diubah.dan sangat simple,namun memberikan kesan yang alami,mudah diingat.
ini salah satu contoh yang pernah gw baca:
Like red silk satin
cut leaves fall in late August
from colorful trees
semoga membantu lo membuat haiku yang sesuai dengan tatanan yang ada
ok
Belalangtua
makasih sarannya....
membelah tubuh
jadi serangga
bukannya sukma
makanya hanya bergaya sebab semangatnya saja yang terbetik dan itu tak hanya pada haiku namun juga pada aforisma dan puisi china klasik
UREH
Gaya Haiku ya? Hmmm ...
kalo masalah nyamannya untuk dibaca, ini bener-bener asik. tapi ... kalo memang ada aturan tentang rima, agaknya kurang enak dibagian-bagian belakang, jadi agak nggak berirama dan agak nggak renyah (emang cemilan?). ataukah memang itu aturannya?
mungkin gitu aja ya tante?
sebenarnya aku suka gaya seperti ini. pendek-pendek, enak dinikmatin, nggak terlalu berat untuk baca tulisan yang banyak, tapi harus diulang-ulang untuk menemukan arti sesungguhnya, letak keindahannya, dan juga letak kekurangannya (kalo mau dikomentarin).
Salam hangat,
UREH
(yang lagi mau serius nanggepi tapi masih nggak punya banyak referensi. maaf )
Belalangtua
naaa itu yang penting kekurangan dan keindahannya. ayo, dibahas aja. oya, maksud novel itu mungkin bukan konsistensi dalam satu bait itu mengandung 3, 5, 7 kata perbarisnya, melainkan 5, 7, 5 suku kata. Tapi ada kok haiku yang gak mengikuti pola itu, bisa 7, 5, 7 dan bisa pola lainnya.
novel
kalo pola haiku lain dari haiku,ya...namanya bukan haiku mas,ya puisi biasa.jadi kalo tulisan Anda mau dikatakan haiku ya harus ikut apa kata aturan haiku
only tree lines
bukan beberapa bait
semoga para bapa2 yang ingin berhaiku ria dan orang yang mengerti banyak haiku tidak mentertawakan karya Anda yang Anda klaim sebagai haiku
kecuali kalo Anda mau membuat haiku gaya indonesia,mungkin ganti nama,sebab it's original from japan,not indonesia.
oke semoga sukses n sangat membantu Anda dalam berkarya
Belalangtua
sekali lagi kayanya perlu diluruskan bahwa puisi percakapan embun hanya mengambil semangat dari HAIKU, jadi bukan haiku itu sendiri. mengenai konsistensi bentuk HAIKU; sekali lagi bukan pada formalisme 5, 7, 5 suku kata seperti yg sdr/i Novel sampaikan. lebih jelasnya mari kita simak ulasan sederhana berikut:
dalam tradisi seni jepang dikenal istilah syibumi, wujud keindahan yg menyimpan amanat alam, yakni kesejatian sifat alam itu sendiri.
dalam segala seni, dan malahan barangkali boleh dikatakan dalam kehidupan sehari-hari di jepang, orang berusaha menjelmakan syibumi. syibumimenjadi citra keindahan di jepang.
para penyair jepang pun berusaha menjelmakan syibumi. begitupun ketika seorang penyair jepang membentuk HAIKU, maka syibumicoba dihadirkan di sana.
haiku, bentuk puisi paling pendek dalam sastra jepang, lahir dan berkembang pada masa antara abad-abad ke-16 dan ke-17, merupakan kelanjutan dari perkembangan bentuk-bentuk puisi sebelumnya. Dalam Manyoshu, antologi puisi tertua di jepang yang menghimpun sejumlah sajak dari masa-masa sebelum abad kedelapan, didapati 324 naga-uta(sajak panjang) dan 400 tanka(sajak pendek). naga-uta, ada yg mencapai 150 baris, tidak timbul lagi setelah abad kedelapan. tanka, dari bentuk yg meliputi lima baris (baris pertama dan ketiga masing-masing terdiri atas lima suku kata), antara abad keenambelas dan delapanbelas, tumbuh menjadi haiku, keseluruhannya hanya 17 suku kata dan tersusun dalam tiga baris dan tidak bersajak. namun ada kalanya forma 17 suku kata itu lepas, seperti karya Matsuo Basho (1644-1694) berikut ini:
Kara-eda ni
Karasu-no tomari-keri
Aki-no-kure
(di ranting kering
gagak menapak
senja limbur musim gugur)
jika diperhatikan, maka haiku di atas terdiri dari 5, 9, 5 suku kata; total 19 suku kata.
haiku lain, masih karya Matsuo Basho:
Furuike ya
Kawazu tobikomu
Mizu no oto
(di kolam tua
katak terjun - suara
plungnya berbantun)
haiku ini nyata terdiri dari 5, 7, 5 suku kata, totalnya 17 suku kata. yang pasti keduanya terdiri dari 3 baris saja dan masih menjadi puisi paling pendek di jepang.
syibuminya itu yang menarik bagi saya untuk mengasah model ini. bentuk percakapan embundari mula memang tidak disarankan sebagai polaritas bentuk dari haikuanda dan tokoh sastra indonesia lainnya boleh tertawa saya pun ikut tertawa.
daya kesan citraan syibumi yang coba disarankan oleh haiku pun bisa anda temui dalam bentuk-bentuk komik jepang, dimana satu ruang bisa mengisi beberapa panel, kengungunan itu memang sedang kita usahakan lewat seni dan keseharian
ulasan di atas merupakan kutipan saya dari sebuah bacaan semoga anda bisa menemukan bahan wacan(jgn dirancukan dengan istilah wacana dlm bhs ina) saya itu
UREH
aku menyaksikannya
Belalangtua
aku bugil bulat
dengan menyimak percakapan di atas kita bisa belajar banyak, tentang proses belajar sastra, dan karakter orang-orangnya. ini terjadi ketika forum diskusi www.cybersastra.net masih kondusif sebagai ruang pembelajaran
Minggu, Oktober 19, 2003
Kisah
Untuk Riyono dan W. Haryanto yang kesrakat
Setelah habis sekira 4 cerita membaca dari buku kumpulan cerita pendek Riyono, segera kutaruh buku itu di lantai dekat ranjang. Sambil memandangi buku bergambar goresan tangan biola bengkok, aku terus saja mngumpat dalam hati. Bangsat benar pengarang satu ini, pikirku, orang disuruh larut dalam permainan kisah-kisah seremnya yang teramat liar.
Aku pun lantas ingat pada salah satu cerpennya yang berjudul Kepanjangan, yang mana telah pula mengingatkanku pada Bapak. Dikisahkan, dalam cerpen itu, ada sepasang suami-isteri yang telah menghadapi kesedihan mendalam begitu si isteri mengalami suatu peristiwa keguguran atas kandungan pertamanya yang telah berumur sekira tujuh bulanan. Begitu halnya dengan Bapak.
“Bapak ini ada memiliki riwayat kelahiran yang serem punya.” Ujar Bapak suatu siang, waktu aku masih kerap mendengar dongeng-dongengnya. “Waktu Nenek mengandung bayinya Bapak, genap usia tujuh bulan Kakekmu mengajak Nenek berpindah rumah. Padahal, menurut kepercayaan, orang tak boleh bepergian jauh atau berpindah rumah apalagi sampai ke luar kota selama masih mengandung seorang bakal bayi. Malahan sebelum bayi yang kemudian terlahir itu genap berumur satu tahun, menurut kepercayaan juga, tak baik di bawa bepergian kelewat jauh.
Tapi karena Kakek sudah terlanjur berjanji pada stasiun tempatnya bekerja sebagai opas polisi istimewa maka berangkatlah Kakek Nenek sekeluarga berpindah ke kota yang jadi tempat dinas barunya Kakek. Sekalipun dengan sedikit kecemasan, untuk menghindari apa-apa yang tidak diinginkan Nenek sudah membawa sebongkahan tanah dari halaman rumah lama, begitu seperti yang dinasehatkan oleh Buyut. Semua berjalan lancar.
Sampai pada satu sore, sepulang dari kerja di stasiun kota, Kakek teramat terkejutnya mendapati laporan dari Nenek. Siang tadi perut Nenek tiba-tiba mengempis. Tak ada tanda-tanda perdarahan seperti layaknya perempuan yang mengalami keguguran.
‘Jadi apa yang kaualami ini?’ Kakek masih ada menyimpan keheranan atas pengalaman Nenek. Kakek seperti merasa kalau Nenek membohonginya, entah dengan tujuan apa. Kakek merasa kalau bayi (bakal bayi tepatnya) Bapak masih ada tersimpan dalam perut Nenek, entah di bagian mana.
Nenek pun merasa tak tahu harus berbuat apa, mendapati keheranan Kakek itu. Nenek cuma menunduk saja. Menganggap kalau semuanya bakal selesai bersamaan berlalunya waktu. Sebaliknya sebagai opas polisi istimewa, yang sekalipun sehari-harinya bertugas di stasiun, Kakek merasa ada sesuatu yang harus diluruskan. Dengan naluri kepolisiannya Kakek segera mau mengajukan serentetan pertanyaan pada Nenek. Tapi melihat tanda-tanda ketakutan pada air muka Nenek, ditambah sedikit keyakinan kalau Nenek masih mengandung bakal bayi Bapak, maka sore itu waktu berlalu seperti aliran kali kecil di belakang rumah mereka.
Kakek kepikiran terus dengan dugaan-dugaannya, dan menganggap lebih baik mendiamkan keadaannya sementara waktu. Di pihak Nenek yang merasa sedang dipersalahkan oleh kelalaiannya menjaga amanah suami, seperti seorang tertuduh pada umumnya, juga merasa lebih baik mendiamkan saja keadaannya untuk sementara waktu. Sepanjang sore sampai malam harinya, kedua penanda rumah-tangga itu sedang asyik mengunci mulutnya rapat-rapat. Alhasil, layaknya sebuah kapal tanpa nahkoda, rumah mereka pun jadi kehilangan kendali.
Tak seperti biasanya sore itu, rumah pun jadi lebih ramai. Anak-anak pulang bermain, mandi sore, makan, mengaji, dan berangkat tidur tanpa ada yang menyuruh, mengatur ini dan itu atau memarahi. Mulanya, sore-sore mereka sudah berkumpul ramai berebut mandi. Air mandi yang tinggal separoh kolah jadi rebutan. Tentu saja yang paling kecil jadi kalah-kalahan. Mak Yat, kakak perempuan Bapak (atau bakal bayi Bapak?) yang masih paling bontot, jadi korban rumah tangga tanpa aturan itu. Mak Yat hampir menangis waktu itu, tapi dasar orangnya pendiam dan perasa sejak kecil dia pun memilih diam mengisak di pojok kamar mandi dekat sumur. Beruntung Pak De Jani, yang kemudian hari kukenal sebagai keranjingan besar (penjahat ulung?), mau mengambil air wudhlu menjelang maghrib.
‘Kenapa kamu ndepipis (jongkok menyudut di satu pojok) di situ?’ Tanya Pak De Jani setelah melihat adiknya teronggok di sudut sumur itu. ‘Belum mandi, ya?’
Tak mendapat sahutan, Pak De Jani segera melihat isi kolah dan tersadarlah dia akan nasib adik perempuannya yang sengaja terlambat sekolah sebab orang-tuanya belum ada uang itu. Tanpa banyak kata lagi Pak De Jani segera menimbakan beberapa ember air buat mengisi kolah. Sedikit susah payah, karena ukuran tubuhnya yang terlalu kecil untuk ukuran ember yang kelewat besar itu, akhirnya terisi juga kolah itu sampai separohnya.
‘Sudah kau mandi sana, biar aku tunggui di sini.’ Pak De Jani mengangkat bahu adiknya supaya berdiri dan pergi mandi. Setelah itu dia sendiri duduk berjongkok dekat sumur, menunggui adiknya mandi di balik bilik bambu yang mulai berlubang di sana-sini itu.
Tak berapa lama, rupanya Pak De Jani sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dia pun segera menanyai adiknya yang di dalam bilik mandi itu. ‘Sudah Yat? Kalau sudah aku mau wudu.’ Tak ada sahutan dari dalam, hanya suara gayung masih berdeburan membuat jantung Pak De Jani berdebar keras. Bukan apa-apa, pikirnya waktu itu, sebentar lagi maghribnya habis, bisa-bisa aku kehilangan kesempatan ini.
Hari-hari itu Pak De Jani memang sedang tekun-tekunnya sembahyang. Itu pun bukan apa-apa, melainkan karena dia sedang nglakoni suatu lelaku. Jadi tak boleh putus sembahyangnya itu. Ini sudah hari keenam, rusuh batinnya lagi, tinggal sehari lagi, jangan sampai sia-sia usahaku hanya karena kelewatan maghrib sekali ini. Tak jelas lelaku apa yang sedang dijalaninya, yang jelas dia dikenal semua saudaranya sebagai bocah yang gemar lelaku. Perbuatan seperti itu sudah sering dilakukannya sejak masih di rumah lama, di bawah bimbingan Buyut dari pihak Nenek. Sebab keluarga dari pihak Kakek tinggal jauh di kota lain lagi. Tentu saja, pikiran bocah Pak De Jani tak mau dikalahkan oleh keadaan apa pun demi mendapatkan kemauannya.
Baru dia memutuskan mau menyuruh adiknya segera selesaikan mandi. Tahu-tahu dari arah belakang tengkuknya dia ada merasakan selembar angin yang lain dari yang lain. Belum sempat dia menengok ke belakang dia sudah mendapat sebuah teguran. Pak De Jani tidak yakin apakah lelaki tua berjenggot putih itu tetangganya atau bukan, karena dia merasa sebagai penduduk yang masih baru di situ. Hanya sebagai jaga-jaga dalam hatinya dia membatin; nuwun sewu, tunggal guru ojo ngganggu, tunggal ilmu ojo nyatru.
‘Apa yang kamu tunggui di sumur ini, Bocah?’ Tanya lelaki tua itu. Samar-samar Pak De Jani pun mulai bisa menangkap bayangan utuhnya. Lelaki tua itu tak hanya berjenggot putih, melainkan sekujur tubuhnya dibalut pakaian serba putih, rambutnya pun putih seluruhnya.
‘Kulo nungui adik Kulo yang sedang mandi.’
‘Mana adikmu yang mandi itu? Tak ada adikmu yang sedang mandi di situ.’
Tersadar oleh teguran itu, Pak De Jani sudah tidak lagi mendengar suara gayung berjeburan. Pak De Jani segera menengok ke arah kolah, memastikan kalau pendengarannya benar adanya. Terkesiap oleh kenyataan kalau sudah tidak terdengar suara jeburan gayung, Pak De Jani segera pula mau bertanya pada orang tua berjenggot putih itu. Tapi, si penegur sudah tidah ada di tempatnya tadi berdiri. Pak De Jani menengok ke kanan dan kiri. Tidak ada sesiapa pun di sekitarnya. Bayangan orang tak ada, angin yang meremangkan tengkuknya pun tak ada. Dalam keremangan matanya hanya menangkap bayangan pohon-pohon saja.
Tak mau larut dalam kebingungan pikirannya sendiri, Pak De Jani segera pergi mengambil air wudhlu, sambil beristighfar terus sepanjang waktu. Dan saat tangannya membasuhkan air ke kedua daun telinganya lamat-lamat di dengarnya lagi sebuah teguran. ‘Bocah, jangan dikira tempat ini tak ada yang punya. Kau hanya menumpang lewat saja di sini. Oleh sebab itu jangan memamerkan ilmu di depan kami….’
Pak De Jani tak mau banyak mendengar lagi. Begitu wudhlunya selesai dia segera beranjak masuk ke dalam rumahnya. Dia juga mau secepatnya memastikan kalau-kalau adiknya, Mak Yat, sudah selesai mandi dan selamat sampai di rumah.
Begitu menginjakkan kakinya ke undakan batu belakang rumah, Pak De Jani sudah pula mendapat teguran keras dari Kakek yang dikenal galak oleh anak-anaknya itu. ‘Jani, kamu kemana saja?! Tiga hari tidak pulang, kamu pikir rumahmu ini gardu (waktu itu orang-orang tua dan para pemuda suka menghabiskan waktu sorenya dengan duduk-duduk di gardu penjagaan), cuma dibuat mampir lewat saja?!!’
Pak De Jani, sekali lagi, terkesiap oleh kenyataan dirinya. Air wudhlu di wajah, ubun-ubun, telinga, tangan dan kakinya belum lagi kering. Tapi Kakek sudah menuduhnya meninggalkan rumah selama tiga hari. Ingatan Pak De Jani segera berlari ke arah bayangan orang tua berjenggot putih itu, dan merasa benar-benar telah dicobai olehnya. ‘Nggih…’ Pak De Jani tak punya jawaban lain pada bapaknya.
‘Sudah, bantu Makmu sana!’ Sahut Kakek waktu itu. ‘Kita harus cepat meninggalkan rumah kesrakat ini.’
Belakangan Pak De Jani mendengar selentingan, kalau Mak Yat mengalami demam, badannya panas dingin tak keruan, selama dua hari ini. Dan Nenek selalu mimpi hal-hal menakutkan. Belum lagi Kakek dibingungkan oleh kepergiannya yang tanpa kabar itu.
Tak sempat sembahyang maghrib, Pak De Jani membantu Nenek selekasnya mengemasi barang-barang mereka, utamanya yang paling dibutuhkan saja. Perkakas yang besar-besar bakal menyusul kemudian. Kakek-Nenek sekeluarga boyongan lagi, tapi sekali ini untuk kembali ke rumah lama yang untungnya belum sampai dijual oleh Buyut.”
Berhenti sebentar Bapak menarik nafas agak berat, sebelum meneruskan ceritanya. “Beberapa bulan kemudian perut Nenek membesar lagi seperti umumnya orang hamil sembilan bulan lebih. Tapi sampai sebesar itu kandungan tak juga terlahirkan. Genap enam bulan kandungan yang kedua ini, tepat pada Bakda Mulud lahirlah seorang bayi.
Waktu itu Pak De Jani yang tak merasa putus asa dengan kegagalannya nglakoni sebelumnya, sudah menyelesaikan tirakatannya semula. Dan sore selepas selamatan Muludan dan bersih desa, Pak De Jani bertemu dengan orang tua berjenggot putih tempo hari. ‘Ngger.’ Sapa orang tua itu di tikungan pekuburan desa. ‘Adikmu yang baru lahir ini, bakal minta korban. Sesiapa saudaranya yang punya hari dan neptu sama dengan kelahirannya harus mengalah. Kalau tidak, ya bayi itu yang kalah.’
Pak De Jani tak sanggup menjawab apa pun lagi, kecuali melepas kepergian orang tua itu berjalan seperti angin dan hilang di ujung barat jalan.”
Memang kemudian salah seorang Bu Dhe kami meninggal tak berapa lama sejak Bapak lahir. Aku sendiri masih setengah percaya pada cerita Bapak kali ini. Tapi perihal kejengkelanku pada cerpen-cerpen Riyono itu tak bisa kuelakkan.
Kalau memang ada anjing yang bisa berubah jadi gadis cantik seperti digambarkan dalam cerpen Kepanjangannya Riyono itu, maka aku mau memeluknya kuat-kuat. Kalau perlu dikuburkan satu liang dengannya.
Susilo, 191003
Senin, Oktober 13, 2003
aku laknat 1001
tapi aku terlanjur lebur dengan kesunyaan yang makin menggasangku
dengan segala kenikmatan buta. dan telah kukatakan padamu, angin,
laut dan badai; aku cuma lelaki buta dan mabuk. dirasuk kematian-
kematian tanpa pesan, sedang tempat yang selalu kupesan tak pernah
datang.
sepertinya dia lupa pernah meniup nafasku, memesankan tempat untukku.
sudah kubilang aku bosan dengan semua tafsir dan ayat-ayat dari pasar
gelap. aku mau bakar semua kitab berdebu dengan pemantik api di ujung
ruhku.
aku akan menjadikamu sebagai tanda. bahwa kiamat telah lewat dan
kematian itu tak kunjung datang. bangsat, dajjal sudah terlalu pikun,
dan isrofil lupa diri. laknat, seribu laknat untukku. buka kepalaku
tak ada nama dan jiwa kudus di situ.
13/10/03
dengan segala kenikmatan buta. dan telah kukatakan padamu, angin,
laut dan badai; aku cuma lelaki buta dan mabuk. dirasuk kematian-
kematian tanpa pesan, sedang tempat yang selalu kupesan tak pernah
datang.
sepertinya dia lupa pernah meniup nafasku, memesankan tempat untukku.
sudah kubilang aku bosan dengan semua tafsir dan ayat-ayat dari pasar
gelap. aku mau bakar semua kitab berdebu dengan pemantik api di ujung
ruhku.
aku akan menjadikamu sebagai tanda. bahwa kiamat telah lewat dan
kematian itu tak kunjung datang. bangsat, dajjal sudah terlalu pikun,
dan isrofil lupa diri. laknat, seribu laknat untukku. buka kepalaku
tak ada nama dan jiwa kudus di situ.
13/10/03
Sabtu, Oktober 11, 2003
madyaning rasa
yen ing pambukaning kala
ingsun amatek aji si jaran goyang
mula ing madyaning rina
sun tampakake ki sada lanang
ing samuderaning sadak kinang
anggita-gita langit kelap-kelap
bumi gonjang-ganjing
111003
ingsun amatek aji si jaran goyang
mula ing madyaning rina
sun tampakake ki sada lanang
ing samuderaning sadak kinang
anggita-gita langit kelap-kelap
bumi gonjang-ganjing
111003
Senin, Oktober 06, 2003
Scriptwritter
Oleh: Susilo
Sekumpulan merpati liar di taman kota berlonjakan mengikuti arah angin. Berebut makanan yang dilemparkan para pengunjung taman. Tiap kepakannya melahirkan anak-anak angin baru. Angin mengndus samar menebarkan semburat senja ke tiap sudut ruang yang sisa. Menanting aroma gunung yang mulai menggigit. Tapi ada yang selalu perkecualian dan tak tergigit.
"Jadi dimana posisimu sekarang?" Perempuan bersyal biru menyoroti mata di depannya.
"Sementara............" Sebatang rokok menyusup mulut si lelaki kaca-mata kecil. "Aku pikir, jangan dululah."
"Lantas buat apa kau cari aku?"
"Aku perlu sedikit dukungan........."
"Berapa?"
"Bukan. Bukan berapa, tapi apa." Menunggu jawaban yang masih menganggapnya sepi. "Baiklah, aku sedang menyelesaikan sebuah naskah...."
"Film? Opera? Teater? Apa?" Suara lembut itu mulai tajam.
"Naskah kita."
"Naskah kita........?"
Sepi. Pelayan datang menanyakan pesanan. Tapi mereka sedang tak suka makan rupanya. Hanya dua gelas penghangat pikiran mereka minta. Tak kurang tak lebih, sepasang gelas, semangkuk es dan sebotol anggun minuman yang berdesis. Berdesis, pikir si lelaki kecil itu, persis ular para fakir yang kehilangan seruling. Meliuk dalam jambangan terbuka. Kata orang, gelitik pikiran kecilnya lagi, gelas kristal membawa kesehatan. Tapi tidak untuk sore ini. Tidak, dengan desis di dalamnya.
Biasanya, setidakanya tiga tahun lalu, mereka bakal segera membukagabus penutup botolnya. Menuang jadi dua, menghirup aromanya, dan mencecapnya pelan-pelan seperti dari tadahan cawan. Sedikit tengadah lantas saling kerling dan gelak-gelak kecil. Memainkan sedikit tangan, sedikit kaki, sedikit sudut, dan sedikit malam yang mungkin untuk mereka bagi berdua. Tapi memang, tak setiap malam jadi yang sedikit itu. Kebanyakan malam mereka habiskan di tempat masing-masing. Lelaki kecil itu selalu sibuk dengan isteri yang tak pernah bisa memahami tingkah aneh suaminya pada tiap malam tertentu itu. Sedang perempuan ini cuma bisa menunggu sampai hampir lewat tiga tahun berlalu.
"Aji......." Cairan berdesis itu tak melicinkan leher jenjangnya. "Aku tak tahan lagi."
"Aku juga." Matanya menekuni asbak dan gelas kristal di tangan. "Apalagi menjelang musim dingin begini."
"Matamu...." Menuangi isi perutnya dan mengetukkan kaki gelas sedikit keras. "Terlalu suka gelas dan minuman. Lama-lama dia merasa Cuma jadi asbak rokokmu saja."
"Oh, maaf, maaf..........maksudku......"
"Sudahlah. Aku tak mau dibodohi terus, seperti isterimu. Nama boleh sama tapi soal cara tidak harus serupa, kan?" Bangkit dari duduknya. Tegak di atas kakinya yang menjulang
"Eh...Anna sebentar. Aku belum selesai."
"Siapa yang belum selesai? Apakah Anna juga mau datang ke sini?" Mengemasi tas kecilnya. "Kamu belum selesai, aku sudah."
"Baik, baik. Aku minta maaf lagi. Sekali lagi. Ayolah....Duduk dulu...." Lirih tapi ajakan itu penuh tekanan dan memaksa perempuan itu duduk lagi.
"Baik....Aku tadi terlalu buru-buru menebak maksud tak tahanmu. Maaf. Aku minta maaf.....Bagaimana?"
Tiga tahun hampir-hampir lewat begitu saja. Persis seperti Yulianna, isterinya yang tak pernah tahu tingkah anehnya, perempuan ini pun sama meledak-ledaknya. Suka menggoda, suka melabrak juga. Tourisiana hampir tak berbeda dari Yuliana yang suka di rumah saja. Perbedaannya mungkin cuma soal ukuran. Medium dan large siapa bilang sama, sekalipun tak selalu menunjukkan kemampuan dan kekuatan. Tapi orang memang tak harus mencari yang lain sama sekali dari rumput depan rumahnya. Orang, dalih lelaki kecil kita, bisa mengendus rumput dari jenis yang sama, toh tak setiap hujan sore datangkan pelangi senja.
"Kamu persis....."
"Isterimu?!"
"Bukan. Ibuku." Mengorek rokok lagi. "Selalu marah, teriak, tertawa, dan menangisnya dulu sebelum tahu. Sebelum mendengarkan omongan orang."
"Kamu pikir aku tuli?"
"Kamu mendengar tapi tidak mendengarkan. Kamu terlalu jarang mendengarkan omongan orang."
"Hh, kamu bukan Ibuku."
"Ah, bahkan Ibumu tak kamu dengarkan."
"Bahkan Ibuku?"
"Bahkan Bapakmu?"
"Bahkan Bapakku?! Cukup! Kamu mulai suka jadi petugas sensus."
"Bukannya kamu yang mau supaya suatu hari ada yang menyensusmu? Bukannya kamu yang mau menikahi petugas sensus bernama Mas Aji itu? Kamu berhak bosan pada semua ini. Kamu berhak bosan padaku. Ah, siapa juga aku ini toh. Tapi jangan pernah kamu bosani harapan-harapanmu, mimpi-mimpimu. Jangan, jangan pernah. Sebab, itu berarti kamu sudah siap mati. Dan petugas sesusmu ini belum siap melepasmu pergi, sendiri. Belum siap. Belum."
Tourisiana, perempuan itu, menyilangkan kakinya. Menepukkan tangan satu sama lain, sehingga beberapa orang mengira mereka sedang melatih salah satu adegan dari sebuah melodrama.
"Nana, tolong........dengarkan aku."
Perempuan itu masih berdiri dan memperhatikan saja aktor kecilnya ini mengoceh tak keruan. Tanpa berkedip. Tersenyum terus dan mengatupkan rahangnya pelahan.
"Baik. Nana, sekarang terserah kamu." Melepaskan kaca-mata kecilnya. "Orang-orang ini mau mengontrak kita buat film mereka rupanya. Hmmm, kamu lihatkan? Tapi, baiklah terserah kamu. Aku cuma minta sedikit waktumu. Sedikit saja lagi."
Senyum Nana sedikit mengembang dengan mata menari-nari membalas tiap mata di lain meja. Dan meneruskan senja di pertemuan jahanamnya. Dengan seorang seniman, aktor, penulis dan apalah yang serba amatiran.
"Aku cuma mau menyerahkan ini." Tangannya bergerak gesit, menyentuh ringan telinga Tourisiana dan tiba-tiba sebuah kotak beludu ada dalam genggamannya yang terbuka. "Bukalah, kalau kamu suka."
Sebentar Nana ragu-ragu pada perasaannya, pada harapannya sendiri. Seperti bakal ada ulat kecil yang melenting dari dalam kotak mungil itu. Ulat kecil yang bisa merambat ke tangan dan meremah hatinya.
"Apa itu?"
"Dukunganmu..."
"Dukunganku?"
"Ya, dukunganmu. Seperti yang aku minta tadi." Tangannya menuntun jari-jari Nana. "Bukalah. Biar aku cerita sedikit soal mobil, rumah dan seisinya yang sekarang sudah jadi punya isteriku sepenuhnya. Mantan maksudku, mantan isteriku."
"Apa?!" Emas putih itu hampir jatuh dari genggamannya. Dia memang pernah berharap, bahkan sangat berharap, segera datangnya peristiwa ini. Tapi tidak secepat ini. Sebelum dia mampu meredakan gelenyar-gelenyar dalam dadanya.
"Yah, aku sekarang tinggal sendiri menunggumu meminangku." Mengaduk es dalam gelasnya pelan. "Aku tinggal di penginapan kelas kambing. Moga-moga kamu nggak kecewa. Oya, ada tawaran menyelesaikan naskah komunikasi spiritual. Dan aku juga mau menyelesaikan naskah kita....."
"Mas Aji..." Nana duduk lagi. Tunduk, tengadah, senyum dan menangis kecil. "Aku belum ada krenteg......."
Begitulah naskah itu, kenang Aji sepanjang waktu yang lewat kemudian, Nana moga-moga kado ini bisa mengingatkan kamu terus pada senja hangat kita. Mas Aji meninggalkan ziarahnya pada pesta pernikahan Tourisiana, dua tahun kemudian. Ziarah pada naskahnya yang tak akan pernah selesai.
121100-051003
Sekumpulan merpati liar di taman kota berlonjakan mengikuti arah angin. Berebut makanan yang dilemparkan para pengunjung taman. Tiap kepakannya melahirkan anak-anak angin baru. Angin mengndus samar menebarkan semburat senja ke tiap sudut ruang yang sisa. Menanting aroma gunung yang mulai menggigit. Tapi ada yang selalu perkecualian dan tak tergigit.
"Jadi dimana posisimu sekarang?" Perempuan bersyal biru menyoroti mata di depannya.
"Sementara............" Sebatang rokok menyusup mulut si lelaki kaca-mata kecil. "Aku pikir, jangan dululah."
"Lantas buat apa kau cari aku?"
"Aku perlu sedikit dukungan........."
"Berapa?"
"Bukan. Bukan berapa, tapi apa." Menunggu jawaban yang masih menganggapnya sepi. "Baiklah, aku sedang menyelesaikan sebuah naskah...."
"Film? Opera? Teater? Apa?" Suara lembut itu mulai tajam.
"Naskah kita."
"Naskah kita........?"
Sepi. Pelayan datang menanyakan pesanan. Tapi mereka sedang tak suka makan rupanya. Hanya dua gelas penghangat pikiran mereka minta. Tak kurang tak lebih, sepasang gelas, semangkuk es dan sebotol anggun minuman yang berdesis. Berdesis, pikir si lelaki kecil itu, persis ular para fakir yang kehilangan seruling. Meliuk dalam jambangan terbuka. Kata orang, gelitik pikiran kecilnya lagi, gelas kristal membawa kesehatan. Tapi tidak untuk sore ini. Tidak, dengan desis di dalamnya.
Biasanya, setidakanya tiga tahun lalu, mereka bakal segera membukagabus penutup botolnya. Menuang jadi dua, menghirup aromanya, dan mencecapnya pelan-pelan seperti dari tadahan cawan. Sedikit tengadah lantas saling kerling dan gelak-gelak kecil. Memainkan sedikit tangan, sedikit kaki, sedikit sudut, dan sedikit malam yang mungkin untuk mereka bagi berdua. Tapi memang, tak setiap malam jadi yang sedikit itu. Kebanyakan malam mereka habiskan di tempat masing-masing. Lelaki kecil itu selalu sibuk dengan isteri yang tak pernah bisa memahami tingkah aneh suaminya pada tiap malam tertentu itu. Sedang perempuan ini cuma bisa menunggu sampai hampir lewat tiga tahun berlalu.
"Aji......." Cairan berdesis itu tak melicinkan leher jenjangnya. "Aku tak tahan lagi."
"Aku juga." Matanya menekuni asbak dan gelas kristal di tangan. "Apalagi menjelang musim dingin begini."
"Matamu...." Menuangi isi perutnya dan mengetukkan kaki gelas sedikit keras. "Terlalu suka gelas dan minuman. Lama-lama dia merasa Cuma jadi asbak rokokmu saja."
"Oh, maaf, maaf..........maksudku......"
"Sudahlah. Aku tak mau dibodohi terus, seperti isterimu. Nama boleh sama tapi soal cara tidak harus serupa, kan?" Bangkit dari duduknya. Tegak di atas kakinya yang menjulang
"Eh...Anna sebentar. Aku belum selesai."
"Siapa yang belum selesai? Apakah Anna juga mau datang ke sini?" Mengemasi tas kecilnya. "Kamu belum selesai, aku sudah."
"Baik, baik. Aku minta maaf lagi. Sekali lagi. Ayolah....Duduk dulu...." Lirih tapi ajakan itu penuh tekanan dan memaksa perempuan itu duduk lagi.
"Baik....Aku tadi terlalu buru-buru menebak maksud tak tahanmu. Maaf. Aku minta maaf.....Bagaimana?"
Tiga tahun hampir-hampir lewat begitu saja. Persis seperti Yulianna, isterinya yang tak pernah tahu tingkah anehnya, perempuan ini pun sama meledak-ledaknya. Suka menggoda, suka melabrak juga. Tourisiana hampir tak berbeda dari Yuliana yang suka di rumah saja. Perbedaannya mungkin cuma soal ukuran. Medium dan large siapa bilang sama, sekalipun tak selalu menunjukkan kemampuan dan kekuatan. Tapi orang memang tak harus mencari yang lain sama sekali dari rumput depan rumahnya. Orang, dalih lelaki kecil kita, bisa mengendus rumput dari jenis yang sama, toh tak setiap hujan sore datangkan pelangi senja.
"Kamu persis....."
"Isterimu?!"
"Bukan. Ibuku." Mengorek rokok lagi. "Selalu marah, teriak, tertawa, dan menangisnya dulu sebelum tahu. Sebelum mendengarkan omongan orang."
"Kamu pikir aku tuli?"
"Kamu mendengar tapi tidak mendengarkan. Kamu terlalu jarang mendengarkan omongan orang."
"Hh, kamu bukan Ibuku."
"Ah, bahkan Ibumu tak kamu dengarkan."
"Bahkan Ibuku?"
"Bahkan Bapakmu?"
"Bahkan Bapakku?! Cukup! Kamu mulai suka jadi petugas sensus."
"Bukannya kamu yang mau supaya suatu hari ada yang menyensusmu? Bukannya kamu yang mau menikahi petugas sensus bernama Mas Aji itu? Kamu berhak bosan pada semua ini. Kamu berhak bosan padaku. Ah, siapa juga aku ini toh. Tapi jangan pernah kamu bosani harapan-harapanmu, mimpi-mimpimu. Jangan, jangan pernah. Sebab, itu berarti kamu sudah siap mati. Dan petugas sesusmu ini belum siap melepasmu pergi, sendiri. Belum siap. Belum."
Tourisiana, perempuan itu, menyilangkan kakinya. Menepukkan tangan satu sama lain, sehingga beberapa orang mengira mereka sedang melatih salah satu adegan dari sebuah melodrama.
"Nana, tolong........dengarkan aku."
Perempuan itu masih berdiri dan memperhatikan saja aktor kecilnya ini mengoceh tak keruan. Tanpa berkedip. Tersenyum terus dan mengatupkan rahangnya pelahan.
"Baik. Nana, sekarang terserah kamu." Melepaskan kaca-mata kecilnya. "Orang-orang ini mau mengontrak kita buat film mereka rupanya. Hmmm, kamu lihatkan? Tapi, baiklah terserah kamu. Aku cuma minta sedikit waktumu. Sedikit saja lagi."
Senyum Nana sedikit mengembang dengan mata menari-nari membalas tiap mata di lain meja. Dan meneruskan senja di pertemuan jahanamnya. Dengan seorang seniman, aktor, penulis dan apalah yang serba amatiran.
"Aku cuma mau menyerahkan ini." Tangannya bergerak gesit, menyentuh ringan telinga Tourisiana dan tiba-tiba sebuah kotak beludu ada dalam genggamannya yang terbuka. "Bukalah, kalau kamu suka."
Sebentar Nana ragu-ragu pada perasaannya, pada harapannya sendiri. Seperti bakal ada ulat kecil yang melenting dari dalam kotak mungil itu. Ulat kecil yang bisa merambat ke tangan dan meremah hatinya.
"Apa itu?"
"Dukunganmu..."
"Dukunganku?"
"Ya, dukunganmu. Seperti yang aku minta tadi." Tangannya menuntun jari-jari Nana. "Bukalah. Biar aku cerita sedikit soal mobil, rumah dan seisinya yang sekarang sudah jadi punya isteriku sepenuhnya. Mantan maksudku, mantan isteriku."
"Apa?!" Emas putih itu hampir jatuh dari genggamannya. Dia memang pernah berharap, bahkan sangat berharap, segera datangnya peristiwa ini. Tapi tidak secepat ini. Sebelum dia mampu meredakan gelenyar-gelenyar dalam dadanya.
"Yah, aku sekarang tinggal sendiri menunggumu meminangku." Mengaduk es dalam gelasnya pelan. "Aku tinggal di penginapan kelas kambing. Moga-moga kamu nggak kecewa. Oya, ada tawaran menyelesaikan naskah komunikasi spiritual. Dan aku juga mau menyelesaikan naskah kita....."
"Mas Aji..." Nana duduk lagi. Tunduk, tengadah, senyum dan menangis kecil. "Aku belum ada krenteg......."
Begitulah naskah itu, kenang Aji sepanjang waktu yang lewat kemudian, Nana moga-moga kado ini bisa mengingatkan kamu terus pada senja hangat kita. Mas Aji meninggalkan ziarahnya pada pesta pernikahan Tourisiana, dua tahun kemudian. Ziarah pada naskahnya yang tak akan pernah selesai.
121100-051003
Tanda di tengah Semburannya
U s a i d r a m a i n i
s a i m a i n k a n
a d e g a n i n i m e l e s a t
i n t h e s k y t o d a n c e.i n b r i g h t l y a i r
c h e a t a l l o f u b y e h i s k a n j i
i n g a t k a n p a d a n a m a l i r i k
n a m u n a n g i n m e m b a h a n a
t a k e m y d a r k d a y b.y.e.v e r s e e n
a l l m y e n e m y t e n d t o t h e h e l l
i m p i a n y a n g t e r b a i k m e n j e l m a
n g a r a i d a l a m
i n i a k h i r n y a !
sayang belum bisa
aku buat semerbak
impian dan lagumu
serupabujursangkar
usai drama ini
usai cinta ini
sai mainkan
adegan ini melesat
in the sky to dance in brightly air
cheat all of u bye his kanji
ingatkan pada nama lirik
namun angin membahana
take my darkday by everseen
all my enemy tend to the hell
impian yang terbaik menjelma
ngarai dalam
ini akhirnya!
intrikan lama
ini akhirnya!
2003, bait pertama adalah milik anggota CS yang tak mau disebutkan namanya
s a i m a i n k a n
a d e g a n i n i m e l e s a t
i n t h e s k y t o d a n c e.i n b r i g h t l y a i r
c h e a t a l l o f u b y e h i s k a n j i
i n g a t k a n p a d a n a m a l i r i k
n a m u n a n g i n m e m b a h a n a
t a k e m y d a r k d a y b.y.e.v e r s e e n
a l l m y e n e m y t e n d t o t h e h e l l
i m p i a n y a n g t e r b a i k m e n j e l m a
n g a r a i d a l a m
i n i a k h i r n y a !
sayang belum bisa
aku buat semerbak
impian dan lagumu
serupabujursangkar
usai drama ini
usai cinta ini
sai mainkan
adegan ini melesat
in the sky to dance in brightly air
cheat all of u bye his kanji
ingatkan pada nama lirik
namun angin membahana
take my darkday by everseen
all my enemy tend to the hell
impian yang terbaik menjelma
ngarai dalam
ini akhirnya!
intrikan lama
ini akhirnya!
2003, bait pertama adalah milik anggota CS yang tak mau disebutkan namanya
meledaklah keretaku
meledaklah
di angkasa tak terbaca bayangannya
bahkan oleh kakimu sendiri. hancurkan
langit dengan kelangkang paling setan
malaikat dilaknat karena bertanya
dan jadilah ia iblis. adam terbuang
ke hutan farji atas rasa ingin tahu
dalam kepalanya. cerdik seperti ular
menjadi yahudi. kecerdasan mewujud
kutukan. dan kebodohan merpati
adalah pilihan
meledaklah di udara yang kelak
meringkusmu dengan kafan hitam
tempat paling ditakuti dewa
dan manusia. lahirkan nero
jadilah pemangsa mayat-mayat
aku mencecapmu melebihi tuhan
satelah melepaskan hawa
kepalaku pecah di udara
semburan-semburan peletup api
meriam bergelak seperti lampu-lampu
jalan yang tertawa saat matahari malu
menutup dadanya. tarian-tarian rumi
menggelegak bermata pisau anyir
darah bangkai paling mayat
sayat-sayat tubuhku
pagi pingsan di pangkuan jalan kereta
bermata seribu dunia. langit pecah aku
melesak ke dalam selangkanya
meriang oleh gasang sumur tanpa dasar
halimun menebarkan aroma maut
dari ketiak isrofil, irish, dan yasha
yamadipati hanya tanda mata
negeri bulan berkepala seribu
matahari leler meliuk pinggul
di leher para nabi. akulah tuhan
yang sepi dan mayat
aku mabuk bau sengit kencingmu
yang pecah di udara waktu langit
bangun dan merangkak seperti lipan
dalam perutmu yang memburai jadi
seribu petaka segala langit
segala batu betebaran dalam
beliung sunyi kenakalan
2003
di angkasa tak terbaca bayangannya
bahkan oleh kakimu sendiri. hancurkan
langit dengan kelangkang paling setan
malaikat dilaknat karena bertanya
dan jadilah ia iblis. adam terbuang
ke hutan farji atas rasa ingin tahu
dalam kepalanya. cerdik seperti ular
menjadi yahudi. kecerdasan mewujud
kutukan. dan kebodohan merpati
adalah pilihan
meledaklah di udara yang kelak
meringkusmu dengan kafan hitam
tempat paling ditakuti dewa
dan manusia. lahirkan nero
jadilah pemangsa mayat-mayat
aku mencecapmu melebihi tuhan
satelah melepaskan hawa
kepalaku pecah di udara
semburan-semburan peletup api
meriam bergelak seperti lampu-lampu
jalan yang tertawa saat matahari malu
menutup dadanya. tarian-tarian rumi
menggelegak bermata pisau anyir
darah bangkai paling mayat
sayat-sayat tubuhku
pagi pingsan di pangkuan jalan kereta
bermata seribu dunia. langit pecah aku
melesak ke dalam selangkanya
meriang oleh gasang sumur tanpa dasar
halimun menebarkan aroma maut
dari ketiak isrofil, irish, dan yasha
yamadipati hanya tanda mata
negeri bulan berkepala seribu
matahari leler meliuk pinggul
di leher para nabi. akulah tuhan
yang sepi dan mayat
aku mabuk bau sengit kencingmu
yang pecah di udara waktu langit
bangun dan merangkak seperti lipan
dalam perutmu yang memburai jadi
seribu petaka segala langit
segala batu betebaran dalam
beliung sunyi kenakalan
2003
Jumat, Oktober 03, 2003
hai gemblakku
bunyi terbantun
revolverku menggema
dalam anusmu
lengkingan malam
sekeras tarianmu
di atas meja
larasku gerah
semerah genjik babi
buta cintamu
kami jawara
kamilah sang kampiun
kau pun tertawa
revolver nggema
larasku menngelepar
sebiru maut
waktu membisu
dalam kelengkapanmu
dikubur batu
080903
revolverku menggema
dalam anusmu
lengkingan malam
sekeras tarianmu
di atas meja
larasku gerah
semerah genjik babi
buta cintamu
kami jawara
kamilah sang kampiun
kau pun tertawa
revolver nggema
larasku menngelepar
sebiru maut
waktu membisu
dalam kelengkapanmu
dikubur batu
080903
mabuk laut
serupa lelaki tua yang malas
laut bicara bahasa jubah
langit keperakan
aku tanyakan anak panah
yang lepas selesat kaki danyang
angin-angin
bulan lamban menyabit langit
sungai kecil kabari muara
gulungan perahu kertas berburu tikus
dari gunung beku gadis malu mendekap
napas
1999
laut bicara bahasa jubah
langit keperakan
aku tanyakan anak panah
yang lepas selesat kaki danyang
angin-angin
: matakah yang membayang
siang yang menyala
atau senyum cuma mainan
anak angin membisik mulut
sendiri
bulan lamban menyabit langit
sungai kecil kabari muara
gulungan perahu kertas berburu tikus
dari gunung beku gadis malu mendekap
napas
1999
Kamis, Oktober 02, 2003
Ketika Kekerasan menjadi Agenda Pendidikan
Barangkali anda akan terperangah ketika menghadapi kenyataan adanya salah satu agenda dalam sistem pendidikan kita yang sarat dengan bentuk-bentuk kekerasan, mulai dari kekerasan fisik, mental, maupun kekerasan struktural.
Fenomena salah satu institusi pendidikan tinggi kita, yang konon diharapkan akan memberikan kontribusi pada negara ini sejumlah pemimpin berkualitas, seperti kita saksikan bersama berkali-kali diekspose dan diulas panjang lebar pada salah satu stasiun televisi swasta kita; telah memberikan gambaran adegan-adegan mengerikan yang bagi para pengamat tindak kekerasan bisa dianggap sebagai tindakan tidak manusiawi dan tidak memanusiakan manusia. Betapa tidak, dalam lembaga pendidikan tinggi itu telah terjadi tindak kekerasan yang bisa dilakukan bahkan pada saat kegiatan awal (inisiasi/inagaurasi) penerimaan anggota baru salah satu kegiatan ekstrakurikuler (Unit Kegiatan Mahasiswa/UKM).
Tentu masyarakat umum yang sempat menonton boleh terkesima dan bertanya kemudian; bagaimana dengan bentuk kekerasan lain pada saat penerimaan mahasiswa baru? Bagaimana bentuk kekerasan pada saat inisiasi anggota baru pada UKM lainnya? Bagi masyarakat umum bisa muncul beragam polemik terhadap fenomena ini. Ada sebagian yang menganggap perlunya bentuk-bentuk perplocoan pada saat inisiasi/inagaurasi. Ada sebagian yang menolak segala bentuk ospek/opdik dengan alasan adanya unsur kekerasan. Ada juga yang tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu.
Ketika stasiun televisi yang menayangkan fenomena tersebut melakukan jajak pendapat dengan item pertanyaan setuju/tidak setujukah jika lembaga tersebut ditutup; maka sampai dengan sekitar pukul 20.00 wib per tanggal 21 September 2003, hasil polling sementara berdasarkan 7.000 sms yang masuk ke meja redaksi adalah 92% menyatakan setuju jika lembaga tersebut dibubarkan. Sisanya, 6,4% menyatakan tidak setuju dan 2,6% menyatakan tidak tahu.
Tentunya tidak adil, jika kita menyoroti fenomena kekerasan hanya pada peristiwa inisiasi penerimaan anggota baru kegiatan ekstra pada lembaga pendidikan tinggi yang ditayangkan oleh stasiun televisi tersebut. Kenyataannya, fenomena kekerasan senantiasa terjadi pada setiap lembaga pendidikan, mulai dari pendidikan menengah – pendidikan tinggi, saat awal penerimaan siswa baru setiap tahun. Bentuk-bentuk kekerasan telah dilakukan sejak diadakannya kegiatan perploncoan (dengan berbagai variannya; ospeks, ppkm, opdiks, dsb). Turunan bentuk-bentuk kekerasan ini juga akan muncul pada penerimaan anggota baru setiap lembaga ekstrakurikuler pada lembaga pendidikan bersangkutan. Lebih jauh fenomena kekerasan semacam ini terjadi tidak hanya di tengah lembaga pendidikan kita, namun telah bersifat global seiring dengan perkembangan pendidikan modern dalam bentuk seperti yang kita kenal sekarang. Bahkan di negara-negara yang mengaku “demokratis” pun kekerasan dalam bentuk perploncoan ini sudah lama terjadi. Amerika bukan tempat yang bebas dari kekerasan dalam ruang-ruang lembaga pendidikannya.
Dalam mencermati fenomena tersebut tentunya tidak cukup hanya dengan menyatakan setuju/tidak setuju terhadap option dibubarkannya lembaga pendidikan tersebut. Ada persoalan-persoalan lebih radikal dan halus sifatnya yang perlu kita simak dan waspadai bersama. Akar persoalan fenomena ini tentu menjadi agenda yang layak kita pertimbangkan secara lebih jeli.
F. Budi Hardiman pernah menyatakan bahwa para pelaku kekerasan massa adalah manusia-manusia yang dikolektifkan dari dua sisi, oleh ketakberdayaan dirinya sebagai individu dan oleh kelemahan komunitasnya. Manusia rentan terkena psikosis massa karena krisis makna dalam individu. Ketika merasa kehilangan tempat dalam masyarakat, merasa diri mereka tak bermakna, maka ego mereka mengecil dan panik. Perluasan ego ditawarkan oleh "etika semu" yang memprovokasi dan memobilisasi individu-individu menjadi massa yang melakukan tindak kekerasan. Budi menguraikan tiga akar kondisi yang melahirkan kekerasan massa. Karena pelaku berpikir dan merasa tidak melakukannya terhadap sesamanya, melainkan terhadap musuhnya yang harus dihancurkannya. Karena musuh itu dipersepsi mengancam survivalnya dan menimbulkan panik. Karena kondisi stuktural masyarakat membuatnya merasa terisolasi sebagai individu, tercerabut dari komunitasnya, dan terpinggirkan secara ekonomis.
Namun, ketiga akar kekerasan seperti yang disebutkan Budi Hardiman tidak menjadi motivasi dari tindak kekerasan yang dilakukan oleh setiap lembaga pendidikan yang menjalankan program inisiasi. Dengan demikian ketiga akar kekerasan yang dinyatakan F Budi Hardiman, menjadi tidak berlaku dalam hal ini, atau barangkali juga tidak berlaku dalam fenomena kekerasan yang lain.
Menurut Abd A’la, Staf Pengajar Fak Adab dan Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel, Surabaya, kekerasan struktural adalah sistem atau struktur yang beroperasi dengan cara atau pola yang menimbulkan penderitaan terhadap manusia lain. Kekerasan model ini memiliki pengaruh dan dampak yang tidak kalah mengerikan dari tindakan anarkis atau tindakan brutal lain. Kejahatan ini akan membuat penghuni papan atas mendapatkan berbagai kebutuhan hidup lebih banyak dari para penghuni papan bawah. Kaum underdogs akan mengalami kerugian sedemikian rupa mulai dari terbengkalainya mereka dalam penderitaan permanen, seperti kekurangan pangan sampai bisa mati kelaparan. Pola ini lebih mengerikan karena pada gilirannya akan membuat mereka yang tertindas terpicu melakukan kekerasan langsung dalam bentuk kerusuhan, pembunuhan massal, atau anarkisme lain sejenis.
Sampai sejauh itu kekerasan struktural seperti yang disebutkan oleh Abd A’la seperti menemukan bentuknya yang paling konkrit, bahkan fisikal, dalam fenomena kekerasan di atas pentas penerimaan siswa/mahasiswa baru lembaga pendidikan menengah dan tinggi kita. Namun akar persoalan seperti yang disebutkan oleh Abd A’la ini pun tidak menemukan tubuh sejatinya dalam fenomena tersebut. Tidak ada aspek keadilan/ketidakadilan yang menjadi motivasi pelaksanaan program inisiasi semacam itu.
Kekerasan yang terjadi di lembaga pendidikan manapun dalam kegiatan inisiasi selalu disandarkan pada beragam argumen, seperti; pentingnya pembentukan mental yang kuat, penanaman disiplin, penumbuh-kembangan sikap kritis, pengenalan kampus, serta peneguhan rasa persaudaraan di antara jajaran civitas academica.
Jika kita hendak mempertanyakan nilai keberadaan kegiatan inisiasi yang kerap menjadi ajang beragam bentuk kekerasan itu, tak pelak kita perlu lebih mempertanyakan tujuan awal dari kegiatan semacam ini. Bagi sebagian orang yang menganggap perlunya inisiasi perploncoan itu umumnya akan kukuh dengan soal pentingnya empat hal yang menjadi tujuan pelaksanaan kegiatan tersebut. Namun, kemudian, benarkah bahwa perploncoan menjadi satu-satunya cara untuk membentuk mental yang kuat pada siswa/mahasiswa. Banyak bentuk-bentuk kegiatan penguat mental lain yang rupanya telah dinafikkan oleh mereka yang kukuh pada sikap perlunya kegiatan ini bagi siswa dan mahasiswa baru.
Argumen penanaman disiplin juga bukan alasan yang cukup bertanggung jawab. Pertama tidak semua siswa/mahasiswa baru yang disiplin selama mengikuti acara perploncoan itu akan menjadi sosok yang penuh disiplin dalam kurun waktu selanjutnya. Katakanlah, seorang aktivis mahasiswa bisa dikatakan sebagai figur yang memegang teguh disiplin dan profesionalisme dalam kehidupan sehari-hari, toh nyatanya kita banyak melihat tokoh masyarakat yang dulunya pentolan aktivis mahasiswa justru melakukan tindakan tercela di ranah politik praktis. Jika penyelewengan disiplin itu bisa dilakukan oleh aktivis mahasiswa yang konon banyak mengenyam penggemblengan mental, bagaimana kita civitas academica lembaga pendidikan kita bisa menjamin bahwa program kegiatan inisiasi perploncoan bisa memanipulasi mental manusia untuk menjadi sedemikian disiplinnya.
Ada contoh menarik tentang pelatihan disiplin semacam itu yang, menurut penulis, jauh lebih bersahaja, bebas dari tindak kekerasan dan lebih mengena. Di sebuah biara Zen (bukan berarti bahwa di wilayah/agama lain tidak ada contoh semacam ini, pen.) datang seorang tamu biarawan yang baru menyelesaikan 10 tahun pendidikannya di biara lain dan dikatakan telah mengalami pencerahan. Dalam perjalanan menuju ruang tamu, biarawan tuan rumah bertanya pada tamunya. “Apakah engkau telah melepaskan terompahmu di depan pintu?” “Ya.” Jawab sang tamu lembut. “Apakah engkau meletakkan payungmu di sebelah kanan atau kiri terompahmu?” tanya tuan rumah itu lagi.
Sang tamu, yang telah mengalami pencerahan itu, tak mampu menjawab dan kemudian memutuskan untuk belajar dalam biara itu selama sepuluh tahun ke depan. Barangkali latihan disiplin semacam ini lebih mengena, ketimbang bentuk kekerasan seperti yang dipamerkan oleh berbagai lembaga pendidikan kita selama ini.
Jika kegiatan inisiasi ditujukan sebagai bentuk penumbuh-kembangan sikap kritis, maka para perencana dan pelaksana bahkan mungkin juga peserta (sebagai korban/pelaku tak langsung, jika dianalogikan sebagai tindakan kekerasan) perploncoan telah tidak menganggap pentingnya filsafat sebagai sikap kritis seperti yang ditulis oleh F. Magnis Suseno misalnya. Ada lebih banyak lagi ragam kegiatan yang lebih memicu dan mengembangkan sikap kritis ketimbang kegiatan peploncoan. Dengan begitu gugurlah argumen tujuan penumbuh-kembangan sikap kritis tersebut.
Jika kegiatan inisiasi diadakan demi membuka wawasan siswa/mahasiswa mengenai kampus dan lingkungannya, sekali lagi pertanyaannya berpulang pada apakah tidak ada jalan lain kecuali kegiatan instan dan manipulatif semacam itu.
Paling menarik barangkali ketika sampai pada persoalan penanaman rasa kebersamaan (self of accomby). Banyak kalangan yang menyangsikan adanya satu mekanisme mujarab untuk menanamkan rasa persaudaraan di kalangan siswa/mahasiswa baru terhadap sesama, senior dan segenap civitas academica tanpa melalui gerbang inisiasi tersebut. Pandangan semacam ini jika kita cermati tampaknya bersifat positif ke dalam, namun justru bisa menjadi akar konflik keluar. Orang-orang dengan solidaritas dan kecintaan berlebihan pada kelompoknya (chauvinisme) seperti yang hendak disasar oleh program-program inisiasi seperti itu sebenarnya justru bisa menjadi pelaku kekerasan paling efektif ketika telah berhadapan dengan masyarakat di luarnya. Mereka bisa menimbulkan kroni-kroni primordialis ketika telah kembali ke masyarakat.
Jadi sebenarnya bukan hanya pembubaran lembaga pendidikan tinggi yang telah secara jelas kita ketahui melakukan tindakan kekerasan terhadap mahasiswanya seperti tayangan stasiun televisi tersebut, lebih dari itu kita perlu mempertimbangkan kembali keberadaan program-program kegiatan inisiasi dalam lembaga-lembaga pendidikan kita, atau kita menghasilkan suatu generasi yang mengakrabi dan menghidupi kekerasan terus-menerus. Sebab pendidikan formal dan lembaga pendidikan telah terlanjur menjadi pengganti orang-tua dan masyarakat sebagai pendidik generasi muda kita. Akhirnya, semu berpulang pada kita juga.
Susilo, pengamat sosial, Koordinator Lembaga Kajian Masyarakat Urban Index Surabaya, tinggal di Surabaya.
Fenomena salah satu institusi pendidikan tinggi kita, yang konon diharapkan akan memberikan kontribusi pada negara ini sejumlah pemimpin berkualitas, seperti kita saksikan bersama berkali-kali diekspose dan diulas panjang lebar pada salah satu stasiun televisi swasta kita; telah memberikan gambaran adegan-adegan mengerikan yang bagi para pengamat tindak kekerasan bisa dianggap sebagai tindakan tidak manusiawi dan tidak memanusiakan manusia. Betapa tidak, dalam lembaga pendidikan tinggi itu telah terjadi tindak kekerasan yang bisa dilakukan bahkan pada saat kegiatan awal (inisiasi/inagaurasi) penerimaan anggota baru salah satu kegiatan ekstrakurikuler (Unit Kegiatan Mahasiswa/UKM).
Tentu masyarakat umum yang sempat menonton boleh terkesima dan bertanya kemudian; bagaimana dengan bentuk kekerasan lain pada saat penerimaan mahasiswa baru? Bagaimana bentuk kekerasan pada saat inisiasi anggota baru pada UKM lainnya? Bagi masyarakat umum bisa muncul beragam polemik terhadap fenomena ini. Ada sebagian yang menganggap perlunya bentuk-bentuk perplocoan pada saat inisiasi/inagaurasi. Ada sebagian yang menolak segala bentuk ospek/opdik dengan alasan adanya unsur kekerasan. Ada juga yang tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu.
Ketika stasiun televisi yang menayangkan fenomena tersebut melakukan jajak pendapat dengan item pertanyaan setuju/tidak setujukah jika lembaga tersebut ditutup; maka sampai dengan sekitar pukul 20.00 wib per tanggal 21 September 2003, hasil polling sementara berdasarkan 7.000 sms yang masuk ke meja redaksi adalah 92% menyatakan setuju jika lembaga tersebut dibubarkan. Sisanya, 6,4% menyatakan tidak setuju dan 2,6% menyatakan tidak tahu.
Tentunya tidak adil, jika kita menyoroti fenomena kekerasan hanya pada peristiwa inisiasi penerimaan anggota baru kegiatan ekstra pada lembaga pendidikan tinggi yang ditayangkan oleh stasiun televisi tersebut. Kenyataannya, fenomena kekerasan senantiasa terjadi pada setiap lembaga pendidikan, mulai dari pendidikan menengah – pendidikan tinggi, saat awal penerimaan siswa baru setiap tahun. Bentuk-bentuk kekerasan telah dilakukan sejak diadakannya kegiatan perploncoan (dengan berbagai variannya; ospeks, ppkm, opdiks, dsb). Turunan bentuk-bentuk kekerasan ini juga akan muncul pada penerimaan anggota baru setiap lembaga ekstrakurikuler pada lembaga pendidikan bersangkutan. Lebih jauh fenomena kekerasan semacam ini terjadi tidak hanya di tengah lembaga pendidikan kita, namun telah bersifat global seiring dengan perkembangan pendidikan modern dalam bentuk seperti yang kita kenal sekarang. Bahkan di negara-negara yang mengaku “demokratis” pun kekerasan dalam bentuk perploncoan ini sudah lama terjadi. Amerika bukan tempat yang bebas dari kekerasan dalam ruang-ruang lembaga pendidikannya.
Dalam mencermati fenomena tersebut tentunya tidak cukup hanya dengan menyatakan setuju/tidak setuju terhadap option dibubarkannya lembaga pendidikan tersebut. Ada persoalan-persoalan lebih radikal dan halus sifatnya yang perlu kita simak dan waspadai bersama. Akar persoalan fenomena ini tentu menjadi agenda yang layak kita pertimbangkan secara lebih jeli.
F. Budi Hardiman pernah menyatakan bahwa para pelaku kekerasan massa adalah manusia-manusia yang dikolektifkan dari dua sisi, oleh ketakberdayaan dirinya sebagai individu dan oleh kelemahan komunitasnya. Manusia rentan terkena psikosis massa karena krisis makna dalam individu. Ketika merasa kehilangan tempat dalam masyarakat, merasa diri mereka tak bermakna, maka ego mereka mengecil dan panik. Perluasan ego ditawarkan oleh "etika semu" yang memprovokasi dan memobilisasi individu-individu menjadi massa yang melakukan tindak kekerasan. Budi menguraikan tiga akar kondisi yang melahirkan kekerasan massa. Karena pelaku berpikir dan merasa tidak melakukannya terhadap sesamanya, melainkan terhadap musuhnya yang harus dihancurkannya. Karena musuh itu dipersepsi mengancam survivalnya dan menimbulkan panik. Karena kondisi stuktural masyarakat membuatnya merasa terisolasi sebagai individu, tercerabut dari komunitasnya, dan terpinggirkan secara ekonomis.
Namun, ketiga akar kekerasan seperti yang disebutkan Budi Hardiman tidak menjadi motivasi dari tindak kekerasan yang dilakukan oleh setiap lembaga pendidikan yang menjalankan program inisiasi. Dengan demikian ketiga akar kekerasan yang dinyatakan F Budi Hardiman, menjadi tidak berlaku dalam hal ini, atau barangkali juga tidak berlaku dalam fenomena kekerasan yang lain.
Menurut Abd A’la, Staf Pengajar Fak Adab dan Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel, Surabaya, kekerasan struktural adalah sistem atau struktur yang beroperasi dengan cara atau pola yang menimbulkan penderitaan terhadap manusia lain. Kekerasan model ini memiliki pengaruh dan dampak yang tidak kalah mengerikan dari tindakan anarkis atau tindakan brutal lain. Kejahatan ini akan membuat penghuni papan atas mendapatkan berbagai kebutuhan hidup lebih banyak dari para penghuni papan bawah. Kaum underdogs akan mengalami kerugian sedemikian rupa mulai dari terbengkalainya mereka dalam penderitaan permanen, seperti kekurangan pangan sampai bisa mati kelaparan. Pola ini lebih mengerikan karena pada gilirannya akan membuat mereka yang tertindas terpicu melakukan kekerasan langsung dalam bentuk kerusuhan, pembunuhan massal, atau anarkisme lain sejenis.
Sampai sejauh itu kekerasan struktural seperti yang disebutkan oleh Abd A’la seperti menemukan bentuknya yang paling konkrit, bahkan fisikal, dalam fenomena kekerasan di atas pentas penerimaan siswa/mahasiswa baru lembaga pendidikan menengah dan tinggi kita. Namun akar persoalan seperti yang disebutkan oleh Abd A’la ini pun tidak menemukan tubuh sejatinya dalam fenomena tersebut. Tidak ada aspek keadilan/ketidakadilan yang menjadi motivasi pelaksanaan program inisiasi semacam itu.
Kekerasan yang terjadi di lembaga pendidikan manapun dalam kegiatan inisiasi selalu disandarkan pada beragam argumen, seperti; pentingnya pembentukan mental yang kuat, penanaman disiplin, penumbuh-kembangan sikap kritis, pengenalan kampus, serta peneguhan rasa persaudaraan di antara jajaran civitas academica.
Jika kita hendak mempertanyakan nilai keberadaan kegiatan inisiasi yang kerap menjadi ajang beragam bentuk kekerasan itu, tak pelak kita perlu lebih mempertanyakan tujuan awal dari kegiatan semacam ini. Bagi sebagian orang yang menganggap perlunya inisiasi perploncoan itu umumnya akan kukuh dengan soal pentingnya empat hal yang menjadi tujuan pelaksanaan kegiatan tersebut. Namun, kemudian, benarkah bahwa perploncoan menjadi satu-satunya cara untuk membentuk mental yang kuat pada siswa/mahasiswa. Banyak bentuk-bentuk kegiatan penguat mental lain yang rupanya telah dinafikkan oleh mereka yang kukuh pada sikap perlunya kegiatan ini bagi siswa dan mahasiswa baru.
Argumen penanaman disiplin juga bukan alasan yang cukup bertanggung jawab. Pertama tidak semua siswa/mahasiswa baru yang disiplin selama mengikuti acara perploncoan itu akan menjadi sosok yang penuh disiplin dalam kurun waktu selanjutnya. Katakanlah, seorang aktivis mahasiswa bisa dikatakan sebagai figur yang memegang teguh disiplin dan profesionalisme dalam kehidupan sehari-hari, toh nyatanya kita banyak melihat tokoh masyarakat yang dulunya pentolan aktivis mahasiswa justru melakukan tindakan tercela di ranah politik praktis. Jika penyelewengan disiplin itu bisa dilakukan oleh aktivis mahasiswa yang konon banyak mengenyam penggemblengan mental, bagaimana kita civitas academica lembaga pendidikan kita bisa menjamin bahwa program kegiatan inisiasi perploncoan bisa memanipulasi mental manusia untuk menjadi sedemikian disiplinnya.
Ada contoh menarik tentang pelatihan disiplin semacam itu yang, menurut penulis, jauh lebih bersahaja, bebas dari tindak kekerasan dan lebih mengena. Di sebuah biara Zen (bukan berarti bahwa di wilayah/agama lain tidak ada contoh semacam ini, pen.) datang seorang tamu biarawan yang baru menyelesaikan 10 tahun pendidikannya di biara lain dan dikatakan telah mengalami pencerahan. Dalam perjalanan menuju ruang tamu, biarawan tuan rumah bertanya pada tamunya. “Apakah engkau telah melepaskan terompahmu di depan pintu?” “Ya.” Jawab sang tamu lembut. “Apakah engkau meletakkan payungmu di sebelah kanan atau kiri terompahmu?” tanya tuan rumah itu lagi.
Sang tamu, yang telah mengalami pencerahan itu, tak mampu menjawab dan kemudian memutuskan untuk belajar dalam biara itu selama sepuluh tahun ke depan. Barangkali latihan disiplin semacam ini lebih mengena, ketimbang bentuk kekerasan seperti yang dipamerkan oleh berbagai lembaga pendidikan kita selama ini.
Jika kegiatan inisiasi ditujukan sebagai bentuk penumbuh-kembangan sikap kritis, maka para perencana dan pelaksana bahkan mungkin juga peserta (sebagai korban/pelaku tak langsung, jika dianalogikan sebagai tindakan kekerasan) perploncoan telah tidak menganggap pentingnya filsafat sebagai sikap kritis seperti yang ditulis oleh F. Magnis Suseno misalnya. Ada lebih banyak lagi ragam kegiatan yang lebih memicu dan mengembangkan sikap kritis ketimbang kegiatan peploncoan. Dengan begitu gugurlah argumen tujuan penumbuh-kembangan sikap kritis tersebut.
Jika kegiatan inisiasi diadakan demi membuka wawasan siswa/mahasiswa mengenai kampus dan lingkungannya, sekali lagi pertanyaannya berpulang pada apakah tidak ada jalan lain kecuali kegiatan instan dan manipulatif semacam itu.
Paling menarik barangkali ketika sampai pada persoalan penanaman rasa kebersamaan (self of accomby). Banyak kalangan yang menyangsikan adanya satu mekanisme mujarab untuk menanamkan rasa persaudaraan di kalangan siswa/mahasiswa baru terhadap sesama, senior dan segenap civitas academica tanpa melalui gerbang inisiasi tersebut. Pandangan semacam ini jika kita cermati tampaknya bersifat positif ke dalam, namun justru bisa menjadi akar konflik keluar. Orang-orang dengan solidaritas dan kecintaan berlebihan pada kelompoknya (chauvinisme) seperti yang hendak disasar oleh program-program inisiasi seperti itu sebenarnya justru bisa menjadi pelaku kekerasan paling efektif ketika telah berhadapan dengan masyarakat di luarnya. Mereka bisa menimbulkan kroni-kroni primordialis ketika telah kembali ke masyarakat.
Jadi sebenarnya bukan hanya pembubaran lembaga pendidikan tinggi yang telah secara jelas kita ketahui melakukan tindakan kekerasan terhadap mahasiswanya seperti tayangan stasiun televisi tersebut, lebih dari itu kita perlu mempertimbangkan kembali keberadaan program-program kegiatan inisiasi dalam lembaga-lembaga pendidikan kita, atau kita menghasilkan suatu generasi yang mengakrabi dan menghidupi kekerasan terus-menerus. Sebab pendidikan formal dan lembaga pendidikan telah terlanjur menjadi pengganti orang-tua dan masyarakat sebagai pendidik generasi muda kita. Akhirnya, semu berpulang pada kita juga.
Susilo, pengamat sosial, Koordinator Lembaga Kajian Masyarakat Urban Index Surabaya, tinggal di Surabaya.
Simulacra Baru itu bernama Suramadu
Oleh: Susilo
Rabu, 20 Agustus 2003, lalu dikatakan Jawa Timur mencatat sejarah baru; yakni diresmikannya pemancangan tiang pembangunan Jembatan Suramadu oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Penyebutan fenomena ini sebagai titik sejarah baru yang cukup monumental setidaknya dapat kita temui pada pemberitaan berbagai media massa cetak maupun elektronik. Dikatakan demikian barangkali karena dua hal yang cukup berharga (setidaknya bagi media massa dan bagi para stakeholder atas pembangunan jembatan tersebut) bertemu dalam satu acara.
Pertama, kedatangan presiden (pejabat pemerintahan pusat) ke Jawa Timur (daerah) tentu patut menjadi sorotan tersendiri. Tak hanya media, masyarakat Jawa Timur dan Surabaya khususnya tentu saja menyambut gembira kedatangan orang no. 1 ini.
Kedua, Jembatan Suramadu sendiri sebagai tujuan kedatangan Megawati pun merupakan proyek yang sangat fenomenal. Jembatan ini direncanakan akan menghubungkan dua pulau pada dua titik; yakni Surabaya (P. Jawa) dan Bangkalan (P. Madura). Menurut catatan media, meskipun bukan jembatan antar pula pertama, Suramadu nantinya akan merupakan jembatan terpanjang di Indonesia yakni mencapai 5,4 kilometer.
Namun, kedua soal monumental yang melingkupi fenomena pembangunan Jembatan Suramadu ini bisa juga dianggap sebagai bayang-bayang. Atau sebagai realitas bayang-bayang. Berbicara mengenai bayang-bayang saya tiba-tiba teringat pada sebuah dialog klasik dalam Republic-nya Plato, buku ketujuh.
Simulacra Baru
“Bayangkanlah manusia-manusia yang hidup dalam semacam sarang di bawah tanah, dengan lubang yang terbuka ke arah cahaya memanjang sepanjang sarang itu. Orang-orang itu telah tinggal di sana sejak kecil. Kaki dan leher mereka terantai sehingga mereka tidak dapat bergerak. Mereka hanya dapat melihat hal-hal yang di depan mereka. Belenggu mereka di atur begitu rupa sehingga mereka tidak bisa memutar kepala mereka. Di atas dan di belakang kepala mereka ada cahaya api menyala. Di antara api dan para tawanan itu ada jalan yang ditinggikan. Anda akan melihat dinding rendah dibangun sepanjang jalan itu, seperti sebuah layar dengan para merionet yang memainkan boneka-boneka mereka.
Saya paham, katanya.
Apakah anda juga paham, kataku, orang-orang yang melewati dinding membawa bejana, yang tampak pada dinding; juga gambar manusia dan binatang, terbuat dari kayu dan batu dan bermacam-macam bahan; dan sebagian tawanan, seperti yang anda duga, tengah mengobrol, dan sebagian lagi diam?
Ini gambar aneh, katanya, dan mereka adalah tawanan-tawanan aneh.
Seperti diri kita, jawabku, mereka hanya dapat melihat bayangan mereka, atau bayangan satu sama lain, yang diproyeksikan oleh api ke atas dinding gua?
Benar, katanya, apalagi yang dapat mereka lihat selain bayangan jika mereka tidak dapat menggerakkan kepala mereka?
Begitu pula, bukankah obyek yang dibawa seperti itu mereka lihat sebagai bayangan?
Benar, katanya.
Dan seandainya, mereka sanggup berbicara satu sama lain, bukankah mereka hanya akan menyebut apa yang ada di depan mereka.”
Kisah manusia-manusia dalam gua ini sudah berumur ribuan tahun dan Walter Lippman , penulis buku klasik Public Opinion, memulai bukunya dengan kisah itu. Dalam kehidupan politik, sebagaimana tulis Jalaludin Rakhmat dalam pengantar atas buku Komunikasi Politik; Khalayak dan Efek (1989), tokoh-tokoh yang kita lihat dalam panggung politik adalah bayangan.
Kita menyusun cerita berdasarkan bayangan-bayangan itu.
“Tentu saja,” kata Lippman (1949: 5), “tokoh-tokoh penguasa itu adalah pribadi-pribadi hasil konstruksi kita. Apakah mereka sendiri mempercayai karakter publik mereka, atau apakah mereka hanya menyuruh orang lain untuk mementaskan mereka, selalu ada dua diri – diri publik dan diri sendiri, diri perseorangan dan diri di depan orang lain.”
Tak hanya Lippman yang menggunakan pendekatan ini untuk melihat realitas. Sosiolog kondang dari Abad-20 Erving Goffman dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life (1959) juga menelaah kehidupan manusia dengan paradigma dramaturgis. Dalam pandangan Goffman setiap kali kita berinteraksi maka kita selalu ingin mengelola kesan (impression management) yang kita harapkan tumbuh pada orang lain. Kehidupan sosial, oleh Goffman, pada gilirannya diibaratkan sebagai sebuah panggung teater; panggung sosial berikut aktor (sekaligus sutradara dan penulis naskah), setting, tata lampu dan irama musiknya. Prilaku pengelolaan kesan itu tanpa sadar atau sengaja, untuk meningkatkan status sosial, kepentingan finansial, atau politik tertentu. Sehingga pada gilirannya ada front region dan back region pada kehidupan sosial kita. Ada realitas nyata dan realitas semu atau bayang-bayang dalam kehidupan sosial kita.
Contoh yang baik mengenai pengelolaan kesan dan presentasi diri dengan menggunakan tim adalah pemeriksaan terhadap mantan presiden Soeharto mengenai praktek KKN-nya oleh tim Kejaksaan Agung di Jakarta, sebagai front region. Dan back regionnya adalah percakapan telepon Habibie dengan Jaksa Agung (waktu itu) Andi Ghalib yang bocor ke media massa.
Contoh lain bisa anda dapati pada pemberitaan Kompas, Jum’at 14 Feb 2003 berjudul: Suksesi Jembatan Suramadu. Pada hari Senin (10/2), Gubernur Jawa Timur (Jatim) Imam Utomo mengantar sejumlah tokoh masyarakat bertemu Presiden Megawati Soekarnoputri di Istana Negara, Jakarta. Tujuannya, antara lain meminta Kepala Negara meresmikan pembangunan jembatan Surabaya-Madura sepanjang 5,4 kilometer.
Pada hari Selasa, Gubernur Jatim pulang ke Surabaya dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia pada pukul 06.00. Kemudian Imam Utomo duduk di kelas bisnis. Lalu, pada hari, jam, dan pesawat yang sama, kebetulan ada Menteri Keuangan Boediono yang juga akan ke Surabaya.
Namun, yang mengagetkan para penumpang Garuda, termasuk Kompas yang ada dalam pesawat tersebut, Menkeu justru duduk di kelas ekonomi. Sungguh ironis memang. Tapi, itulah gambaran pejabat publik kita yang sebagian besar tidak memiliki sense of crisis.
Ada pejabat yang benar-benar tampil sederhana seperti yang ditunjukkan Boediono, tetapi ada pula yang merasa atau mentang-mentang sebagai raja kecil di daerah.
Seandainya Menkeu mengetahui tujuan kedatangan rombongan Gubernur Jatim ke Jakarta, mungkin juga akan bertanya bagaimana pemerintah mau membiayai pembangunan proyek Suramadu senilai Rp 2,3 trilyun kalau para pejabat di daerah lebih mementingkan gaya hidup yang tinggi ketimbang upaya penghematan.
Peristiwa hari Senin dalam pemberitaan itu bisa dianggap sebagai front region dari kasus proses pembangunan Jembatan Suramadu. Peristiwa hari Selasa berikut pengandaian penulis beritanya, bisa dikatakan sebagai back region dari Gubernur Jawa Timur Imam Utomo dan beberapa tokoh masyarakatnya.
Dan seandainya kita sempat bersepakat bahwa kehidupan sosial (dan politik), mengikuti pandangan Goffman dan Lippman maka kedatangan Presiden kali ini; dalam rangka peresmian pemancangan tiang pertama Jembatan Suramadu pun bisa diajukan sebagai pemeranan sosiopolitik dan pengelolaan kesan. Pada latar belakangnya ada upacara permohonan; artinya tak cukup dengan surat permohonan yang diajukan secara resmi, yang bisa dirunut tradisi dari jaman rezim Orde Baru dimana para menteri senantiasa membungkuk-bungkuk ketika menyalami sang Smilling General sampai ke wilayah-wilayah feodal-aristokasi Surakartahadiningrat atau Ngayogyakartahadiningrat.
Jikapun makna tentang realitas sosiopolitik pembangunan Jembatan Suramadu sempat kita negosiasikan, itu artinya kita perlu kembali pada celoteh Saussure-Durkheim, dan dipertemukan dengan Levi-Strauss sehingga kita bisa memastikan bahwa makna sebuah realitas/fenomena itu bersandar pada siapa berinteraksi dengan siapa. Namun betapa pun kesepakatan ini masih mengandaikan adanya suatu makna baku/asasi/hakiki di luar sana. Dan makna hakiki itu kemudian dinegosiasikan ketika anda bertemu dengan saya dalam ruang-ruang publik atau media massa seperti kali ini. Jadi ada sesuatu (makna kebenaran) yang baku di luar sana dan ada yang (kemudian) berinteraksi, setiap interaksi akan melahirkan realitas baru dan realitas itu menjadi jamak. Pada gilirannya realitas yang jamak (banyak) itu menjadi mitos-mitos (seperti hantu) atau realitas hidup itu sendiri.
Gagasan-gagasan ini kemudian dielaborasi lebih lanjut oleh Baudrillard yang bicara panjang lebar tentang realitas simulacra. Secara sederhana, jika tidak dianggap gegabah, simulakra itu bisa diandaikan sebagai pandangan orang yang nyaris semaput (sebut saja Samun) dan kemudian membuat lukisan pemandangan. Dalam prosesnya Samun kerap ada melihat benda di depannya tampak kabur, samar atau melipatgandakan diri. Kemudian, mengikuti pandangannya yang mewah ini, Samun menghasilkan lukisan penuh garis-garis bayang.
Pada seperempat terakhir abad ke-19, sepertinya semua orang berusaha menjelaskan gerak melalui sains. Pada 1880, para penemu di dunia sadar bahwa gambar bergerak hampir ditemukan. Semua orang ingin menjadi yang pertama. Namun akhirnya, Thomas Alfa Edison, lelaki tua bandel itu yang menjadi orang pertama yang mendaftarkan hak paten atas proses penggunaan potongan plastik foto yang jernih. Lalu film pun berkembang.
Ketika gambar bergerak mulai berkembang gila-gilaan, beberapa pelukis radikal saat itu segera mengeksplorasi gagasan bahwa gerak dapat dilukiskan ke dalam bentuk gambar tunggal di atas kanvas. Pengikut aliran futuris di Italia dan Marcel Duchamp di Prancis mulai menyederhanakan gambar bergerak secara sistematis dalam media statis. Duchamp melukis Seorang Telanjang menuruni tangga. Duchamp yang lebih mengutamakan gagasan suatu gerak daripada sensasinya, akhirnya menyederhanakan konsep gerakan menjadi satu garis. Duchamp terus melaju, seniman futuris membubarkan diri, dan perupa lain kehilangan minat terhadap jenis gambar bergerak lain. Dalam periode yang sama, orang lain pun meneliti bidang yang sama dengan tidak mencolok. Di antara gerakan dinamis para futuris dan konsep diagram gerakan Duchamp, di situlah terletak simulacra realitas Baudrillard.
Fenomena pembangunan Jembatan Suramadu pun pada gilirannya juga menjadi simulakra baru. Ada realitas peresmian tiang pancang jembatan ini, yakni di Kelurahan Tambakwedi, Surabaya, serta di Desa Laban, Kecamatan Tragah, Kabupaten Bangkalan. Selain para petinggi dan undangan yang hadir dalam acara seremonial itu, penduduk sekitar tiang pancang itu pun menganggap peristiwa ini sebagai realitas yang nyata-nyata menyentuh kehidupan mereka. Para intelektual, kelas menengah, para calon investor pun menganggap fenomena ini sebagai realitas sebagaimana mereka ketahui dari media. Namun, barangkali bagi Mak Mursinah – pedagang kopi kaki lima yang pernah tergusur dari depan Kampus B Unair dan saat ini berdagang di bawah kecemasan kalau-kalau petugas tata kota menertibkan keberadaannya dari trotoar itu – realitas di Kelurahan Tambakwedi itu bukan sebuah realitas.
Memang ada juga sebagian orang yang berusaha menyambungkan fenomena ketaksadaran Mak Mursinah melalui obrolan mahasiswa pinggir jalan atau tukang becak dan karyawan Universitas Airlangga. Namun penyambungan terkesan itu terlalu jauh. Kalau pun Mak Mursinah terterpa informasi mengenai kedatangan presiden dan pembangunan Jembatan Suramadu, maka realitas – picture in our head, menurut istilah Lippman – itu terlalu samar bagi Mak Mursinah. Tidak menyentuh kehidupannya secara langsung.
Memperhatikan pemandangan ini kita jadi lebih mawas bahwa makna atas suatu realitas dan realitas itu sendiri bisa diciptakan dan diarahkan, sehingga tak ada lagi realitas sebenar-benarnya benar sebagaimana diandaikan oleh Levi Strauss maupun Durkheim. Jika demikian halnya maka bagaimana layaknya sikap kita terhadap fenomena peresmian pemancangan tiang pertama dan pembangunan Jembatan Suramadu. Jangan mudah percaya dan terpedaya, barangkali begitu.
Barangkali kita semua perlu sekali merenungkan arti pentingnya kedatangan presiden, selain dari meresmikan pemancangan tiang pertama jembatan itu. Dalam agenda politik nasional tahun 2004 merupakan tahun pesta rakyat dalam pemilu kesekian. Bisa jadi, kesediaan presiden meresmikan pemancangan tiang pertama Suramadu ada kaitannya dengan agenda 2004 itu. Lebih-lebih jika kita mengingat bahwa keberadaan Jembatan Suramadu itu pada posisi yang cukup strategis secara sosiopolitik di Jawa Timur yang bisa dikatakan sebagai basis NU dan notabene merupakan massa (solid) bagi PKB. Dengan demikian kedatangan Presiden dalam rangka peresmian pemancangan tiang pertama yang merupakan babak awal bagi drama pembangunan Jembatan Suramadu yang sangat ditunggu-tunggu oleh sebagian masyarakat Madura yang ada di Surabaya (demikian yang saya dengar dalam dialog interaktif pada Radio Suara Surabaya pada Rabu pagi itu mengenai acara seremonial ini) bisa menjadi saldo positif bagi citra diri Mbak Mega di depan masyarakat (calon) pemilih Jawa Timur. Padahal, menurut survey jajak pendapat Harian Kompas yang diumumkan pada hari Rabu, 20 Agustus 2003 itu juga, tersurat bahwa Arek Suroboyo Tak Bangga dengan Pemimpin Bangsa. Kolom polling yang bertajuk sama itu dimulai dengan kalimat; Menjelang Pemilihan Umum Tahun 2004 mendatang, muansa perebutan kursi nomor satu di negeri ini kian menajam. Para tokoh parpol yang sebagian di antaranya juga menjadi pejabat negara, mulai sibuk menggalang kekuatan masing-masing dengan mengerahkan segenap kekuasaan yang dimiliki.
Penggunaan fasilitas negara untuk kepentingan parpol tak mustahil terjadi. Tanpa terasa, hak publik terampas. Padahal di sisi lain, sebagian masyarakat Indonesia masih terkekang persoalan domestik dalam memenuhi kebutuhan fisik minimum setiap harinya.
Tak heran, sebagian arek Suroboyo yang menjadi responden dalam jajak pendapat ini risau atas kelakuan para pejaba negara yang notabene pemimpin bangsa tersebut..........Barangkali metode polling ini tidak dilakukan secara sengaja untuk mengkritisi kedatangan Presiden ini sebagai tindakan politik partainya. Mungkin juga ada kemungkinan kelemahan atas polling tersebut. Karena Kompas juga bisa salah seperti ketika menyebut salah satu kelurahan yang menjadi titik pemasangan tiang pancang Jembatan Suramadu; yakni Sukolilo Barat, Kecamatan Labang, Madura.
Kita pun perlu menanyakan ulang tentang pentingnya pembangunan Jembatan Suramadu itu sendiri. Apakah pembangunan ini akan lebih menguntungkan pemerintah atau masyarakatnya. Dalam dialog interaktif pagi itu di Radio Suara Surabaya saya mendengar komentar salah seorang penelpon yang menyatakan bahwa besar kemungkinan pembangunan ini akan lebih berorientasi bagi keuntungan pemerintah dan masyarakat yang ada di Surabaya. “Namanya saja sudah Suramadu, artinya kan kepentingan Surabaya dulu yang diutamakan...” tambah penelpon tadi.
Belum lagi terlaksana proyek pembangunannya, telah muncul pendapat tentang perlunya review atas Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (amdal) pembangunan Jembatan Suramadu ini. Pimpinan Proyek Induknya sendiri, Abdul Gafur Ismail, yang menyatakan hal ini. Tinjau ulang amdal ini dilakukan atas desain dan studi kelayakannya. Peninjauan ulang ini, didasarkan pada alasan yang cukup retoris yakni bahwa amdal lama telah melebihi masa berlakunya yang lebih dari lima tahun. Pertanyaannya kemudian, untuk sebuah proyek yang direncanakan akan berjalan selama lima tahun sejak 2002 sampai 2007 bagaimana bisa amdalnya habis tempo tahun ini. Lebih-lebih jika mengingat bahwa jembatan ini dirancang bakal tahan selama seratus tahun, apakah tidak lebih baik jika proyeksi seratus tahun itu juga dipenuhi.
Menurut Abdul Gafur Ismail, seiring dengan berjalannya waktu desain semula berubah menjadi lebih panjang, misalnya desain bentang tengah jembatan. Selain itu juga karena pertimbangan studi kelayakan dan pengujian terowongan angin. Dalam 5 tahun telah terjadi perubahan tak terduga untuk sebuah pembangunan jembatan yang diproyeksikan tahan selama 100 tahun, ironis tapi nyata. Juga saya pernah membaca tulisan Prof. Dr. J. Glinka SVD mengenai pengaruh peningkatan suhu udara yang terus kita rasakan saat ini terhadap lingkungan hidup kita. Secara nyata hal ini bisa rasakan sekarang, dimana beberapa daerah di Jawa Timur mengalami kekeringan akibat kemarau panjang. Secara teoritis peningkatan suhu udara terus-menerus ini juga akan diikuti dengan peningkatan permukaan air laut.
“Dalam seratus tahun lagi,” ujar Prof Glinka dalam obrolan santai di suatu sore. “Jika peningkatan suhu udara terus seperti ini, maka ada kemungkinan Surabaya sudah terendam air.” Jika Surabaya terendam air akibat peningkatan suhu udara terus-menerus itu, bagaimana nasib Jembatan Suramadu seratus tahun lagi? Atau kita tidak perlu memikirkannya?
Lebih lanjut, proyek pembangunan ini masih terganjal oleh masalah pembebasan tanah. Lahan akses sisi Surabaya dari jembatan ini baru terbebaskan sekitar 35 persen dari total 11,5 hektarare (ha) luas tanah kebutuhan proyek. Lahan akses sisi Madura sudah terbebas 67 persen dari total 60 ha. Hal ini tidak serta-merta berarti bahwa penduduk Madura lebih merasa mempunyai kebutuhan akan jembatan itu ketimbang penduduk Surabaya. Satu hal yang pasti, persoalan pembebasan tanah masih menjadi masalah.
Belum lagi jika kita menguliti persoalan yang lebih pelik terkait dengan dampak sosial budaya atas pembangunan Jembatan Suramadu ini. Pembicaraan di Radio Suara Surabaya belum lagi selesai ketika acara peresmian sudah dimulai. Barangkali kita memang tak akan sempat berpikir lebih jauh lagi. Barangkali kita pun hanya bisa menikmati simulakra realitas pembangunan Jembatan Suramadu, seperti orang-orang dalam gua-nya Plato yang hanya bisa melihat bayang-bayang.
0803
Langganan:
Postingan (Atom)