Jumat, Juli 18, 2003

Dan sertamu juga



Buat dona gabrielle anwar



Mungkin aku cuma lelaki yang mabuk

atau buta. Entah. Bahkan aku tak mampu menatap

matamu yang melukiskan selarat kata dan kauselipkan

dalam sampul warna senja yang kalau tak bisa kueja

maka kau mau hanguskan saja



Tapi penciumanku

lebih tajam dari lolong serigala dan bisa

kunikmati busa lembut dari nenekmu, bunga langka

aromamu. Atau ruap peluh setipis milik guru sejarah

bocah ini, yang nanti mengajakku berbagi hujan cerita

tentang istana langit dan pemandangan, sebelum pagi

yang malas sempat menyirami punggungmu



Lekuk pinggangmu

Seperti kata-kata pengecut yang lari dari kamar gas

memeluk busuk kamar gelap dan lebih suka menjadi hantu

dari memiliki sedikit nyali, serupa mawar tanpa duri

Tapi mawar tanpa duri, bukanlah madu murni lekuk

tubuhmu



Tidak

Jangan isyaratkan tubuhmu. Jangan campurkan air ke dalam

jack deniels dekat pendengaranku atau kau sebut lagi kejujuran

dan kehormatan. Kalau kau bisikkan itu sepuluh tahun lalu

tentu telah kuhamburkan jerami dalam kepalamu dengan peletup

peletup api. Pikirmu dengan siapa kau bicara soal kesetiaan

dan keberanian. Akulah jiwa yang membuatmu buta

dan menjilati tapak-tapaknya. Aku yang mencengkam

tangan-tanganmu, menyeberang dengan tongkat lipatku



Tapi sudahlah

Orang muda sekolahan, tahu apa tentang semangat dan luka

dari hari-hari terang yang kacau, dari hari-hari yang busuk

dan gelap



Aku pun tak tahu

mulai dengan membawakanmu wafer coklat

atau membawamu menarikan pasir pantai Buenos

Aires. Mungkin juga keduanya, seperti kesunyian

dan kemungkinan, tuhan sertaku dan sertamu juga

Mungkin keduanya

aku, lelaki buta dan mabuk

2003

Aku ingin menjadi

kau merambat naik
menyusuri gundukan rumputnya
kau angkat bunga-bunga kering itu
menggantikannya dengan yang baru

kau menangis
seperti akan datang kiamat pagi ini
seiring nyaring rintihanmu tentang dunia
dan rumah yang selalu kotor, sejak kau malas
menyapu dan berias seperti saat dia bersamamu

kau basuh nisannya
hati-hati, sebab takut kepalanya luka
lalu beranjak keluar setelah sedikit doa
menuruni perut makam itu, melepasnya
dengan salam penutup dan sebuah janji
segera menyusul mati

kau lewat depan tanahku
dengan serapah yang tak pernah lupa, kau lempar
bunga-bunga kering di tanganmu, kelu tanpa selera
memandangku, setidaknya tak ada kiamat pagi ini
tak ada awan dan hujan di langit yang kau remah
dalam di puting-puting susumu

dulu aku selalu cemburu
dan ingin membunuh anjing kesayanganmu itu
tapi sekarang tidak lagi, sekali-kali tidak lagi
hanya aku ingin sekali seperti dia, menjadi anjing
cintamu

2003

Bungaku

telah kau tutup pintu
ke dalam matamu, saat kaupetik bunga
di tamanku. akan kubuka nanti pelahan
dan musti kau tebar jala dengan kidmat
daun-daun sengonmu. bukan kidung
atau tembang penggelar rahasia
kuberikan semua tanpa cuaca
meski kulaknat diriku

kaupetik bunga itu
di tamanku. aku menggelepar tanpa suara
melolong lewat telisik angin tiris gerimis senja
mungkin kau mengutipnya sebagai kelakar
membakarnya bersama geliat ulat hatimu
tapi aku tak berani berharap kau nanti
menjaganya selalu
meski telah kuberikan
ruhku