Dan sertamu juga
Buat dona gabrielle anwar
Mungkin aku cuma lelaki yang mabuk
atau buta. Entah. Bahkan aku tak mampu menatap
matamu yang melukiskan selarat kata dan kauselipkan
dalam sampul warna senja yang kalau tak bisa kueja
maka kau mau hanguskan saja
Tapi penciumanku
lebih tajam dari lolong serigala dan bisa
kunikmati busa lembut dari nenekmu, bunga langka
aromamu. Atau ruap peluh setipis milik guru sejarah
bocah ini, yang nanti mengajakku berbagi hujan cerita
tentang istana langit dan pemandangan, sebelum pagi
yang malas sempat menyirami punggungmu
Lekuk pinggangmu
Seperti kata-kata pengecut yang lari dari kamar gas
memeluk busuk kamar gelap dan lebih suka menjadi hantu
dari memiliki sedikit nyali, serupa mawar tanpa duri
Tapi mawar tanpa duri, bukanlah madu murni lekuk
tubuhmu
Tidak
Jangan isyaratkan tubuhmu. Jangan campurkan air ke dalam
jack deniels dekat pendengaranku atau kau sebut lagi kejujuran
dan kehormatan. Kalau kau bisikkan itu sepuluh tahun lalu
tentu telah kuhamburkan jerami dalam kepalamu dengan peletup
peletup api. Pikirmu dengan siapa kau bicara soal kesetiaan
dan keberanian. Akulah jiwa yang membuatmu buta
dan menjilati tapak-tapaknya. Aku yang mencengkam
tangan-tanganmu, menyeberang dengan tongkat lipatku
Tapi sudahlah
Orang muda sekolahan, tahu apa tentang semangat dan luka
dari hari-hari terang yang kacau, dari hari-hari yang busuk
dan gelap
Aku pun tak tahu
mulai dengan membawakanmu wafer coklat
atau membawamu menarikan pasir pantai Buenos
Aires. Mungkin juga keduanya, seperti kesunyian
dan kemungkinan, tuhan sertaku dan sertamu juga
Mungkin keduanya
aku, lelaki buta dan mabuk
2003
Jumat, Juli 18, 2003
Aku ingin menjadi
kau merambat naik
menyusuri gundukan rumputnya
kau angkat bunga-bunga kering itu
menggantikannya dengan yang baru
kau menangis
seperti akan datang kiamat pagi ini
seiring nyaring rintihanmu tentang dunia
dan rumah yang selalu kotor, sejak kau malas
menyapu dan berias seperti saat dia bersamamu
kau basuh nisannya
hati-hati, sebab takut kepalanya luka
lalu beranjak keluar setelah sedikit doa
menuruni perut makam itu, melepasnya
dengan salam penutup dan sebuah janji
segera menyusul mati
kau lewat depan tanahku
dengan serapah yang tak pernah lupa, kau lempar
bunga-bunga kering di tanganmu, kelu tanpa selera
memandangku, setidaknya tak ada kiamat pagi ini
tak ada awan dan hujan di langit yang kau remah
dalam di puting-puting susumu
dulu aku selalu cemburu
dan ingin membunuh anjing kesayanganmu itu
tapi sekarang tidak lagi, sekali-kali tidak lagi
hanya aku ingin sekali seperti dia, menjadi anjing
cintamu
2003
menyusuri gundukan rumputnya
kau angkat bunga-bunga kering itu
menggantikannya dengan yang baru
kau menangis
seperti akan datang kiamat pagi ini
seiring nyaring rintihanmu tentang dunia
dan rumah yang selalu kotor, sejak kau malas
menyapu dan berias seperti saat dia bersamamu
kau basuh nisannya
hati-hati, sebab takut kepalanya luka
lalu beranjak keluar setelah sedikit doa
menuruni perut makam itu, melepasnya
dengan salam penutup dan sebuah janji
segera menyusul mati
kau lewat depan tanahku
dengan serapah yang tak pernah lupa, kau lempar
bunga-bunga kering di tanganmu, kelu tanpa selera
memandangku, setidaknya tak ada kiamat pagi ini
tak ada awan dan hujan di langit yang kau remah
dalam di puting-puting susumu
dulu aku selalu cemburu
dan ingin membunuh anjing kesayanganmu itu
tapi sekarang tidak lagi, sekali-kali tidak lagi
hanya aku ingin sekali seperti dia, menjadi anjing
cintamu
2003
Bungaku
telah kau tutup pintu
ke dalam matamu, saat kaupetik bunga
di tamanku. akan kubuka nanti pelahan
dan musti kau tebar jala dengan kidmat
daun-daun sengonmu. bukan kidung
atau tembang penggelar rahasia
kuberikan semua tanpa cuaca
meski kulaknat diriku
kaupetik bunga itu
di tamanku. aku menggelepar tanpa suara
melolong lewat telisik angin tiris gerimis senja
mungkin kau mengutipnya sebagai kelakar
membakarnya bersama geliat ulat hatimu
tapi aku tak berani berharap kau nanti
menjaganya selalu
meski telah kuberikan
ruhku
ke dalam matamu, saat kaupetik bunga
di tamanku. akan kubuka nanti pelahan
dan musti kau tebar jala dengan kidmat
daun-daun sengonmu. bukan kidung
atau tembang penggelar rahasia
kuberikan semua tanpa cuaca
meski kulaknat diriku
kaupetik bunga itu
di tamanku. aku menggelepar tanpa suara
melolong lewat telisik angin tiris gerimis senja
mungkin kau mengutipnya sebagai kelakar
membakarnya bersama geliat ulat hatimu
tapi aku tak berani berharap kau nanti
menjaganya selalu
meski telah kuberikan
ruhku
Langganan:
Postingan (Atom)