Senin, Agustus 18, 2003

Aku lahir di RSUD Dr. Saiful Anwar, Malang, Jawa Timur. Umur 3 tahun keluargaku pindah ke Blitar. Sampai dengan kelas 5 SD, masa kanak-kanakku habis di sana dan berpindah sampai rumah ke-5. Sejak kelas 5 cawu II sampai kelas 2 SMP keluargaku pindah ke Jakarta. Pertama di sekitar Jembatan Borobudur, Jelambar. Kemudian di Daan Mogot, masih sekitar Jelambar. Rumah ke-3 di Kedaung Kaliangke, persis di depan SMP Negeri 132. Di sini aku mulai terserang paru-paru basah. Rongent di RSJ Grogol dan divonis tinggal 5 tahun lagi. Heran padahal aku bukan perokok. Dari sini kami makin menepi, sampai ke wilayah Sekeloa, dekat Cengkareng. Pada rumah ke-5 kami, saat aku kelas 1 di SMPN 45 Cengkareng, mengalami kecelakaan sekeluarga. Ford Cortina yang dikemudikan Bapak tiba-tiba menubruk sebuah pohon asem di jalur Pelabuhan Ratu - Banten. Semua mendapat perawatan di RSUD Banten. Keluar dari sana, kondisi ekonomi keluarga jadi kacau. Bapak memutuskan pulang ke Jawa.Kami pun berangkat ke Kediri, kecuali aku. Aku dititipkan pada Bu Haji pemilik rumah petak kami sebagai jaminan tunggakan uang sewa. Banyak hal terjadi, pahit tapi berharga. Sampai akhirnya Bapak menjemput aku sebelum lebaran 1985.

Di Kediri, aku sempat menganggur dari sekolah selama 1 bulan. Bapak belum bisa mencarikan sekolah. Selama itu aku lebih suka ngendon di perpustakaan Kotamadya Kediri. Dari sana aku belajar banyak hal; mulai dari psikologi, parapsikologi, sufisme, filsafat, sastra. Aku menjadi rakus membaca saat itu. Menggelikan sebab aku tidak sekolah dan kadang cemburu pada remaja seusiaku yang bisa berangkat sekolah pagi-pagi waktu itu, tapi aku nikmati saja - mengalir saja. Begitu masuk sekolah, aku mulai punya beberapa teman, cowok dan cewek. Sebagian cewek melihatku, layaknya pendatang dari kota besar, sebagai silver queen. Sebagian cowok melihatku sebagai ancaman. Sebagian besar yang lain biasa saja. Tapi karena aku tidak suka mencari masalah, mengingat masalah kecemburuan sosial yang mungkin timbul akibat perbedaan pusat dan daerah, maka aku memilih berlow-profile ria. Cara jalan aku yang biasanya bergas menjadi kalemi. Tapi, anehnya justru kemudian aku mendapat nama panggilan yang kurang mengenakan (maaf: sipillis). Lha, harusnya gimana sih? Jadi yang biasa-biasa saja susah. Apalagi jadi luar biasa. But anyway, kehidupan belajar aku lancar-lancar saja. Aku mulai belajar teater di SMP Negeri III Kediri itu. SMADA Kediri kemudian mengantarkan aku mencapai situasi sosial yang lebih baik, hobby teater dan sastra yang lebih intens.

Lepas SMA aku berangkat ke Bandung, tinggal di Tubagus Ismail Bawah, Simpang Dago. Sebulan di sana, aku dapat kerja di sebuah pabrik tekstil kawasan Dayeuh Kolot. Sebulan di Dayeuh Kolot aku masih sering pulang balik ke Dago tiap minggu. Ternyata, yang membuat aku tidak tahan di Dayeuh Kolot adalah kebebasan sosial yang berlebihan dan keinginanku sendiri untuk bisa seperti anak-anak ITB di tempatku menumpang tidur di Dago. Aku coba cari kerja lain. Diterima di Yogya Dept. Store BIP. Tiga bulan di sana, aku pulang kampung tanpa ijin karena kabarnya seorang teman akrab sedang perlu bantuan. Dia menganggur dan malu ketahuan teman se-SMA yang lain. Tiga hari targetku pulang, cari anak itu, dan balik ke Bandung. Kembali ke Yogya Dept. Store aku berbekal surat pengantar dari Bapak di atas kertas surat lembaga tenaga dalam yang dibinanya. Teman itu langsung diterima kerja dan punya karir lebih bagus dariku. Sebulan kemudian aku keluar, bohemian di Bandung sampai lebaran 1991. Setelah ikut conversation course aku mencoba di UMPTN. Diterima di Komunikasi-Unair, karena terlalu asyik dengan kenakalan remaja yang terlambat datang, kuliah aku kacau sampai sekarang. Selain itu waktu aku juga habis buat cari uang. Kerja mulai dari interviewer, reporter majalah Semangat Baru, sales koran, sales vacuum cleaner, buka usaha foto copy dan kos-kosan, buka usaha kios buku, reporter koran Surabaya Post, Harian Berita Sore, majalah LYBERTY. Sekarang lebih suka menulis kreatif dan tulisan lepas lainnya. Aku juga siap dimintai pendapat sepanjang ada waktu dan kemampuan lainnya...

Puisi-puisiku banyak mengisi kantong sendiri, bahkan di antara penggemar puisi karya tergolong yang tak diminati...Seperti menjadi asurancecourix di desa Galia, pinggiran dari pinggiran....Sebagian puisiku ada di Surabaya News, sebagian puisi jawaku (geguritan) ada di Majalah Joyoboyo, cerpen-2ku ada di Sinar Harapan dan Harian Surabaya News, feature tentang PKL Jl. Airlangga Surabaya sempat nongol di Majalah Aksara dalam versi ber-Bahasa Inggirs...Sementara begitu dulu, rasanya semua ini masih bakal berkembang.....(semoga) pesat :D

digesah dari anginlindap 03.00 waktu m-web UA Sby, 160803

Tidak ada komentar:

Posting Komentar